Lentera Keluarga – Abba Ya Bapa


Senin, 30 Oktober 2017.
Bacaan:Rom 8:12-17: Mzm 68:2.4.6-7ab.20-21: Luk 13:10-17


Renungan


DALAM surat Paulus kepada jemaat di Roma, secara bertahap Paulus menunjukkan proses penebusan: dari budak dosa ditebus menjadi hamba Allah; dan kemudian dari hamba Allah diangkat menjadi Anak Allah. Menjadi hamba Allah saja sudah merupakan anugerah membahagiakan, dan terlebih lagi boleh menjadi Anak Allah: masuk dalam relasi keluarga, memanggil Allah sebagai Bapa, dan menjadi ahli waris Allah. Perubahan status hamba menjadi anak adalah sebuah peristiwa yang sangat langka terjadi dalam situasi masyarakat Roma pada waktu itu.


Berkat baptisan, kita memanggil Allah sebagai Bapa.Kata “Bapa” …”Ibu” adalah kata-kata pertama yang diajarkan oleh orang tua kita dan kata-kata yang dapat kita ucapkan pertama kalinya. Kata-kata ini juga yang diajarkan oleh Roh Kudus kepada kita dalam kelahiran baru, sehingga dalam doa-doa kita, kita memanggil sebagai sebagai Bapa. Sungguh besar anugerah anak ini diberikan kepada kita.


Kehilangan figur ayah, atau orang tua, dalam hidup dapat terjadi dalam hidup kita. Ada beberapa alasan mengapa figur ayah ini hilang: kita dimasukkan ke panti, diserahkan orang tua kita kepada kerabat kita karena mereka “tidak mampu” merawat kita, atau karena berpisahan hidup atau karena ayah kita telah berpulang sewaktu kita masih membutuhkan kehadirannya. Ayah-Bapa adalah sosok pemimpin, pelindung dan pendukung yang memberikan karakter dan identitas bagi pribadi kita. Beberapa dari kita berusaha mencari figur ayah ini selama hidupnya; dan beberapa bersedih, kecewa dan frustasi karena tidak menemukannya; dan mungkin walaupun menemukkannya, kita tidak menemukan figur yang kita harapkan.


Tetapi kita bersyukur bahwa Allah menyediakan diri sebagai Bapa kita. Ia memberikan dirinya sebagai sosok pemimpin, pelindung dan pendukung yang membentuk karakter dan identitas kita. Ia mau menggantikan dan menyempurnakan figur ayah biologis/perawat kita yang  tidak sempurna atau yang tidak pernah kita kenal. Allah adalah Bapa kita, lebih dari bapa duniawi yang kita miliki.


Dalam salah satu lagu Saventeen diungkapkan bagaimana arti figur ayah dalam hiudup seorang anak: “Engkaulah nafasku, Yang menjaga di dalam hidupku.  Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik. Kau tak pernah lelah s’bagai penopang dalam hidupku. Kau berikan aku semua yang terindah Aku hanya memanggilmu ayah. Di saat aku kehilangan arah. Aku hanya mengingatmu ayah. Jika aku tlah jauh darimu. ”


Kontemplasi


Gambarkanlah pengajaran Paulus tetang perubahan status hamba menjadi status anak itu dalam situasi hidup jemaat di Roma pada waktu itu.


Refleksi


Apa artinya bagiku memanggil Allah sebagai Bapa? Apa yang kualami ketika aku juga melihat pada figur ayah yang duniawiku?


Doa 


Ya Bapa, aku bersyukur bahwa Engkau menjadikanku sebagai anak; dan aku boleh menemukan di dalamMu figur pelindung, pendamping, pendukung yang membentuk karakter dan identitas diriku. Amin.


Perutusan


Aku mengenang kembali arti kata “Ayah” itu dalam hidupku; terutama ketika aku merujuk pada Bapa Surgawi. (Boleh sambil mendengarkan lagunya Seventeen tentang Ayah).


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.