Lembaran Baru di Meeting Rimini: Bicara tentang Hati

Rimini-20140826-00723

TAHUN ini Meeting di Rimini telah memutuskan untuk menutup edisi Meeting ke XXXV dengan sebuah pertemuan berjudul “Saksi-saksi Kebebasan”. Ini berlangsung hari Sabtu 30 Agustus pukul 15.00 di Auditorium.

Para saksi kebebasan yang datang ke Meeting dari “pinggiran-pinggiran” dunia. Sebagaimana ajakan Paus Fransiskus untuk merangkul semua yang “terpinggirkan”, maka Meeting merangkul saksi-saksi besar seperti Padre Pizzaballa, Penjaga Tahta Suci; Ignatius Kaigama, Uskup Agung dari Jos dan Ketua Konferensi Waligereja Nigeria; Paul Jacob Bhatti, ahli medis dan politikus dari Pakistan; Aleksandr Filonenko, GuruBesar dari Ukraina.

Juga hadir Georges Abou Khazen, Uskup dari Aleppo dan Uskup Panteleimon, Wakil dari Yang Mulia Patriark Moskow dan seluruh Rusia, Shlemon Warduni, Uskup Auxiliar Chaldean dari Irak dan beberapa figure penting lain dari Italia.

Uskup Kaigama bersaksi tentang trauma akibat kekejaman Boko Haram: “Hatiku bersedih. Aku berhubungan langsung dengan orang-orang, aku tinggal dengan mereka. Aku melihat ketakutan mereka, penderitaan mereka, kegelisahan mereka. Semua hal yang tidak dilihat oleh pemerintah”.

“Tugasku adalah menghibur dan menenangkan mereka. Gereja dekat dengan mereka, kita berdoa agar umat kristen tidak melakukan tindakan kekerasan melawan umat muslim, tetapi sangat sulit jika engkau menyaksikan orang membunuh sahabatmu, orangtuamu.”

Rimini-20140826-00723

Padre Pizzaballa bersaksi tentang situasi di Tanah Suci:

“Timur Tengah dalam situasi membakar. Stabilitas yang kita jalani selama 40 tahun sudah berakhir dan kami tidak tahu akan seperti apa situasi wilayah ini dalam 5 tahun ke depan. Dunia mulai berbuat sesuatu tetapi suara mereka masih terlalu kecil. Kekuatan bersenjata dapat digunakan tetapi itu bukan jalan yang harus ditempuh.”

Bahkan Uskup Panteleimon dari Gereja Ortodoks Rusia berbicara tentang kasih:

“Kasih dengan K huruf besar adalah Allah sendiri. Sedangkan di dunia, ada contoh pertama dari kasih yang tulus yaitu dalam keluarga. Aku tidak mengenal kasih yang sempurna, tapi dapat kutemukan pertama-tama di dalam keluarga. Saat ini kita menyaksikan begitu banyak proses yang menghancurkan keluarga.

“Lalu ada kasih akan sesama. Jangan merasa takut untuk memberi, meski pada awalnya sulit untuk memulai karya kita: jika kita memberikan kepada sesama apa yang mereka minta, Tuhan akan membantu kita.”

Rimini-20140825-00681

“Jadi, mengasihi berarti memberi. Lalu, ada juga kasih bagi anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Saat suami atau istri meninggal, yang ditinggal menderita atas kehilangan pasangan hidupnya. Tetapi kita harus siap atas perpisahan ini, karena kasih itu jauh lebih besar dari kematian: “Aku tidak kehilangan ikatan denganmu tetapi hanya mengganti bentuknya saja.”

Ini yang dirasakan oleh Uskup Ortodoks Rusia saat istrinya meninggal dunia. Penderitaan-nya dikalahkan oleh perkataan seorang sahabat imam: “Melihat penderitaan orang lain engkau akan melupakan penderitaanmu”.

“Dengan membantu orang lain, aku menapakkan kaki di Surga. Namun setelah penderitaan, ada kasih yang lebih besar, yaitu dengan K huruf besar: Kasih Allah. Kasih ini adalah karunia yang datang saat kita merayakan Misteri Ekaristi. Melalui Ekaristi, Tuhan mengaruniakan Kasih-Nya. Tanpa merayakan Sakramen ini, tidaklah mungkin belajar mengasihi orang lain.”

Ya. Banyak kisah, banyak peristiwa berlainan, namun yang telah menunjukkan kekuatan hati. Hati manusia yang bebas dan mampu mengenali apa yang esensial.

Rimini-20140825-00684

Melalui pertemuan-pertemuan dengan dunia “pinggiran” inilah cara agar kita mampu mengenali hal-hal yang esensial, di sini kita mampu mengenali kehadiran yang amat penting itu, yang tanpanya kenyataan tidak ada maknanya. Dan inilah yang membuat kita tertarik akan segalanya, akan setiap aspek kehidupan.

Pertemuan tahunan
Setiap tahun Meeting berbicara kepada hati manusia kontemporer dengan bahasa semua orang, bahasa yang menandai awal dari relasi-relasi baru dan dari sebuah sejarah yang berkelanjutan. Sebuah sejarah yang merangkup semua protagonis: lebih dari 4.000 sukarelawan dari lebih dari 43 bangsa di dunia, yang menandakan

Meeting For The Friendship Amongst People adalah sebuah pengalaman yang nyata, ke-280 pembicara, para penyelenggara pameran-pameran (ilmuwan, penulis, dosen) yang berdialog diantara mereka dan yang berkarya bersama kaum muda, begitu pula para ahli di dunia ekonomi dan bisnis yang telah memutuskan untuk membangun Meeting bersama-sama.

Meeting For The Friendship Amongst People edisi XXXV telah ditutup.

Rimini-20140825-00669a

Pulang kembali ke kota-kota asal kita, ke negara-negara kita (70 negara), dengan kehendak untuk meneruskan tapak ini dan meyakini bahwa “solusi dari semua masalah kehidupan setiap hari tidak datang dengan menangani langsung masalah-masalah itu, tetapi dengan mendalami sifat dari subyek yang menghadapi semua masalah itu” (Don Giussani).

Oleh sebab itulah Meeting edisi berikutnya tahun 2015 (23-29 Agustus) mengambil tema: “Akan siapakah kerinduan dari kerinduan ini, oh hatiku, yang dengan seketika engkau dipenuhi?”.Rimini-20140826-00715

 

Kredit foto: Shirley Hadisandjaja Mandelli, pesertsa Meeting For the Friendship Amongst People 24-30 Agustus 2014 di Rimini, Italia.

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.