Legenda Pintu Gerbang Majapahit

Tidak banyak orang yang tahu dimana pintu gerbang Kerajaan Majapahit berada. Karena memang peninggalan tertulis tidak kita temui.

Sebaliknya, orang mengenal situs peninggalan pintu gerbang Kerajaan Majapahit lewat tradisi lisan alias cerita dari mulut ke mulut. Kono kabarnya, menjadi pembuka cerita untuk mengatakan bahwa satu tempat ini merupakan situs bersejarah.

Karena itu pula, saya menyebutkan bahwa di Kabupaten Pati, konor kabarnya orang mengenal satu peninggalan sejarah yang disebut Pintu Gerbang Majapahit.

Menurut Juru Kunci Pintu Gerbang Majapahit, Budi Santoso, yang juga Satpam SMK Negeri Pati, Anggota RAPI Pati JZ 11 TST, juga Anggota SAR Pati, peninggalan yang sebenarnya bernama Pintu Gerbang Kaputren Bajang Ratu itu terletak di desa Muktiharjo, kecamatan Margorejo, di sebelah utara SD Negeri Muktiharjo 01, 4 km dari pusat kota Pati.  “Para peziarah yang akan berziarah ke makam sunan Muria melalui daerah Gembong biasa melewatinya,” kata Budi Santoso.

Keberadaan Pintu Gerbang Majapahit ini berkait erat dengan kisah Raden Ronggo dan Raden Bambang Kebo Nyabrang.

Dua cerita

Di Juwana, ada sebuah padepokan milik Sunan Ngerang. Sang Sunan memiliki puteri rupawan bernama Roro Pujiwat. Sang puteri cantik ini begitu memikat hati hingga seorang murid yang bernama Raden Ronggo pun jatuh hati.

Ia ingin menyunting puteri sang sunan. Pucuk dicinta ulam tiba, Sang Putri menerima cinta pemuda ini. Roro Pujiwat sendiri mau diperistri asal Raden Ronggo bersedia memboyong Pintu Gerbang Majapahit ke padepokan dalam waktu semalam sebagai mas kawin. Dan ternyata, Raden Ronggo menyanggupinya.

Maka berangkatlah R. Ronggo ke bekas Kerajaan Majapahit. Sayang, sesampainya di sana, ia kecewa. Ia menemukan pintu itu sudah tak ada. Pintu itu ternyata sudah diboyong oleh Raden Bambang Kebo Nyabrang. Mengatahui pintu itu sudah diambil maka  Raden Ronggo segera mengejarnya ke arah barat.

Raden Bambang Kebo Nyabrang mengambil pintu gerbang itu lantaran ingin diakui anak oleh orangtuanya. Ia adalah putra Sunan Muria dengan Dewi Sapsari, putri Ki Gedhe Sebo Menggolo.

Namun saat  bertemu Sunan Muria dan menyampaikan maksudnya serta menerangkan asal usulnya, Sunan Muria tidak begitu percaya dengan anak itu.

Malahan Sunan Muria memerintahkan Raden Bambang Kebo Nyabrang untuk membawa Pintu Gerbang Majapahit ke hadapannya bila ia mau diakui sebagai anak. Raden Bambang Kebo Nyabrang pun menerima syarat tersebut.

Karena hanya diberi waktu sehari semalam, bergegaslah R. Bambang Kebo Nyabrang berangkat ke Bajang Ratu yang merupakan bekas Kerajaan Majapahit. Sekarang tempat itu menjadi Kota Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.

Pertemuan Dua Raden

Raden Ronggo mengejar keberadaan pintu gerbang itu sampai ke sebelah barat kota Pati. Tatkala  ia memasuki kawasan hutan, ia melihat pohon kenanga yang berbentuk mirip kurungan (sangkar). Kemudian ia menamai dukuh tersebut dengan nama Sekar Kurung (kini merupakan lokasi SDIT Abubakar Ash Sidiq, Pati).

Karena belum bertemu dengan sang pembawa pintu gerbang, ia melanjutkan misi pengembaraannya untuk mengejar R. Kebo Nyabrang. Akhirnya ia pun menemukan R. Kebo Nyabrang yang sedang istirahat. Segera pintu itu dimintanya. Namun R. Kebo Nyabrang menolak memberikannya. Maka berkelahilah mereka.

Perkelahian itu menimbulkan kerusakan. Penyangga pintu gerbang tercecer. Namun dari situ justru muncul mitos asal usul nama “Njelawang” (Ganjel Lawang), tempat yang kini terletak di sebelah selatan SMK Farmasi Ganesa Mandala Pati.

Saat  jam dua belas siang, saat semua orang harus beristirahat dan melaksanakan sholat dhuhur menuju arah barat. Maka tempat tersebut diberi nama dukuh “Nduren” (kudu leren – atau harus istirahat) sebelah barat daerah Njelawang. Keduanya setia dalam usaha meraih cita bahkan mereka bertarung selama 35 hari.

Menyadari sesuatu yang menggemparkan terjadi, Sunan Muria turun dari padepokan  ke arah timur. Ia jelas-jelas melihat dua orang perkasa itu bertarung.

Dalam Bahasa Jawa, kata jelas biasa dikatakan “cetho welo-welo”. Maka dari kata itu muncul mitos tempat, daerah tersebut diberi nama Dukuh Towelo/ Trowelo. Kini tempat itu berada di jalanan naik menuju Kecamatan Gembong, Pati.

Lalu Sunan Muria turun ke tempat kedua  orang yang sedang bertarung itu. Ia berkata “Wis padha lerena sak kloron padha bandhole” (Sudahlah, berhentilah kalian berdua dari perkelahian ini). Lalu berhentilah mereka bertarung. Sehingga tempat tersebut hingga sekarang di namai dukuh “Rendhole” (sak kloron padha bandhole).

Sunan Muria pun akhirnya mengakui R. Kebo Nyabrang sebagai anaknya. Dan ia menyuruh anaknya itu menjadi penjaga gerbang ini. Setelah Sunan Muria berkata “jaganen !!” (jagalah) maka ia pun langsung meninggal dan hilang nyawanya karena sebagai seorang penjaga mesti tidak terlihat.

Sementara itu,  Raden Ronggo diberi “katek“ oleh Sunan Muria. Ia membawanya ke padepokan. Tetapi sesampainya di sana Roro Pujiwat tidak menerimanya. Raden Ronggo pun marah.

Roro Pujiwat lari ke barat hingga sampai di Sungai Juwana.  dan mengejarnya hingga ke barat. Sesampinya di sungai Juwana Roro Pujiwat berhenti. R. Ronggo yang marah mengejarnya lalu melempar katek itu kearah Roro Pujiwat. Roro Pujiwat meninggal. Katek itu hilang seperti kilat.  Sampai sekarang tempat itu dinamai “Segelap”.

Perjuangan Raden Ronggo untuk memperoleh cinta Roro Pujiwat sungguh berat. Namun ia  gagal. Roro Pujiwat meminta Pintu Gerbang Majapahit dan bukan “kateknya”. Lebih tragis lagi kisah ini berakhir dengan meninggalnya Roro Pujiwat. Itulah cinta.

Tembang Asmaradhana membeberkan misteri perkawinan itu dengan kata-kata  :

Yen angèl angel kalangkung Tan kena tinumbas artha
Amung ati pawitane

Kalau mudah, begitu mudah, kalau sulit, teramat sulit,  tidak dapat dibeli dengan uang.
Hatilah yang berbicara.

Asmaradhana

Gegarané wong akrami
Dudu bandha, dudu donya
Amung ati pawitané
Luput pisan kena pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angèl angel kalangkung
Tan kena tinumbas artha

Keterangan Foto : Pintu Gerbang Majapahit, Kini / Foto : FX Bambang Suswantara

5 pencarian oleh pembaca:

  1. legenda pintu gerbang majapahit dalam bahasa jawa
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.