Last Dance, Dansa yang mempersatukan

lastdance

Kisah diawali dengan seorang nenek Yahudi bernama Ulah yang tengah berbelanja roti dan kebutuhan harian. Si nenek mendadak bingung karena suasana minimarket berubah dalam sekejap. Para pembeli terlihat tercengang. Mereka sibuk dengan celphonenya. Semula ruangan minimarket itu riuh namun kemudian dalam sekejap menjadi sunyi.

Pada saat yang bersamaan, di tempat lain, seorang pemuda berlari menjauhi keramaian. Wajahnya mengisyaratkan bahwa dia tengah menahan sakit. Si pemuda berhenti dan berdiam diri ketika suara sirene mobil patroli dari kepolisian meraung-raung. Rupanya sesuatu telah terjadi di kota kecil itu, di benua Australia dimana terdapat komunitas Yahudi berdiam di sana.

Kisah selanjutnya, si nenek Yahudi itu dipertemukan dengan si pemuda yang ternyata keturunan Arab. Si pemuda sedang dalam pelarian dalam usahanya melakukan bom bunuh diri. Si nenek Yahudi dan lemah berjumpa dengan si pemuda keturunan Arab yang siap dengan bom di perutnya.

Film kemudian menyajikan dialog antara dua tokoh yang berlawanan itu.  Si pemuda berkisah tentang masa lalu yang diwarnai oleh kepedihan, kebencian, idealisme keluarga yang dirusak oleh peperangan. Dia berbicara dengan nada kebencian dan dendam. Sedang si nenek mewartakan pesan pengampunan dan rekonsiliasi. Suasana yang semula mencekam penuh ketakutan berubah perlahan diisi dengan kasih kepada “sesama” yang terluka oleh masa lalu.

Dialog pun berganti suasana. Semula dengan kata-kata yang terdengar kemudian beralih kepada bahasa aksi dimana si nenek merawat luka di dada kiri si pemuda akibat peluru. Si nenek dengan sukarela memberi tumpangan seperti si baik dalam kisah Si Samaria Yang Baik Hati. Si nenek memutuskan untuk menyelamatkan si pemuda yang bertobat dan ingin lepas dari ikatan komplotan teroris. Namun kisah berakhir tragis ketika si pemuda yang bernama Sadiq itu ditembak oleh pasukan anti Teroris tepat di dahinya.

Kurang lebih itulah gambaran film Last Danceyang dibintangi oleh artis Julia Blake (pemeran Ulah) dan Firass Dirani (pemeran pemuda).  Film  ini bukan buatan Hollywood maka memiliki corak yang berbeda dengan produksi Hollywood yang berbicara tentang “terorisme” dan sentimen keagamaan atau terhadap negara Barat. Perhatikan saja Argo, the Veteran, atau Zero Dark Thirty yang dijauhkan dari semangat pengampunan dan rekonsiliasi.

Last Dance yang diproduksi pada tahun 2012 oleh Becker Film Group dengan bekerja sama dengan pemerintah Australia ini disuguhkan dalam Melbourne International Film Festival 2012. Bisa jadi akan sulit ditemukan di bioskop-bioskop di Indonesia. Tetapi pesan yang disuarakan sangat jelas dan relevan bagi masyarakat kita yang memiliki luka sejarah.

Dua pribadi memiliki latar belakang yang tak terdamaikan namun karena kisah hidup mereka akhirnya dapat berdansa. Dua pribadi bersatu dengan irama pertobatan dan harmoni yang mendamaikan. “Selalu ada jalan untuk berdamai” demikian kira-kira yang ingin disampaikan. Namun sayang akhirnya, sepertinya pertobatan Sadiq tidak mampu merubah apa-apa dalam masyarakat. Rekonsiliasi antara dua latar belakang tidak ditampilkan dalam film ini ketika Sadiq tetap harus dihukum mati. Itulah realita yang disuguhkan dengan film drama ini. Pertobatan terjadi namun usaha perdamaian masih menjadi impian bersama.

c. wahyu tri haryadi.

Judul film :  Last Dance Tahun : 2012 Artis  : Julia Blake, Firass Dirani Produksi  : Film Victoria Australia and Backer Film Group

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.