Lahirnya Kehidupan Baru

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
“Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.”

Memindahkan pohon yang sudah terlanjur berakar di sebuah tempat ke lokasi yang baru bisa jadi riskan. Beberapa diantaranya bisa mengalami stres, dan jika itu yang terjadi maka pohon itu bisa berbulan-bulan tidak berdaun seolah mati, meski ia masih bisa bertahan hidup. Saya pernah mengalami hal itu ketika memindahkan sebuah pohon ke tempat lain. Pohon tersebut sempat tidak bereaksi apa-apa selama berbulan-bulan. Tidak ada apapun yang tumbuh, hanya batang yang botak tanpa memperlihatkan adanya gejala kehidupan sama sekali. Saya mulanya ragu apakah pohon itu masih hidup atau tidak, apakah pohon itu sudah saatnya saya cabut dan buang atau masih bisa selamat dan berdaun/berbunga lebat kembali. Saya pun memutuskan untuk membiarkan dahulu untuk sementara waktu sambil terus diberi pupuk dan disiram secara teratur. Untunglah saya tidak memutuskan untuk membuangnya, karena setelah beberapa bulan kemudian dari pohon itu mulai muncul tunas dan daun. Sejak saat itu pohon itu seperti terlahir kembali dan dengan cepat bercabang-cabang dengan daun yang segar. Bahkan bunganya pun kemudian tumbuh dengan suburnya. Hari ini pohon tersebut terlihat sangat indah dengan rangkaian bunga putih yang wangi. Apa yang terjadi pada pohon ini mengingatkan saya akan sebuah gambaran kehidupan baru yang lahir dari sesuatu yang sudah mati.

Berbicara tentang pohon, saya teringat akan sebuah pohon yang cukup sering disebutkan di dalam Perjanjian Lama yaitu pohon badam alias almond tree. Pohon ini punya keistimewaan luar biasa karena bisa tetap tumbuh dalam keempat musim, termasuk di dalam musim salju ketika sebagian besar tanaman lainnya akan meranggas. Dalam bahasa Ibrani kata badam ini berarti “yang berjaga” atau “yang bangun”, menggambarkan karakteristik pohon badam yang berbeda dari pohon-pohon lainnya, terutama atas kemampuannya untuk bisa terus produktif dalam keempat musim berbeda. Hari ini mari kita lihat ketika pohon ini disebutkan di dalam Alkitab pada jaman Musa dan Harun, yaitu dalam kitab Bilangan pasal 17.

Pada saat itu Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Dalam pesan itu secara spesifik Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu lalu diperintahkan untuk ditaruh di dalam Kemah Pertemuan di mana peti yang berisi tabut Perjanjian berada. Tuhan lalu bersabda: “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.” (Bilangan 17:5). Lalu yang terjadi selanjutnya adalah sebagai berikut. “Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” (ay 8). Ternyata tongkat Harunlah yang mengeluarkan tunas. Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, “Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati.” (ay 10).

Sebuah tongkat pada masa itu terbuat dari sebatang kayu yang sudah mati. Apa yang dialami oleh Harun menjadi momen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya yang ajaib, untuk memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang notabene benda mati berbicara mengenai kehidupan baru yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi orang percaya, hidup ditengah keduniawian yang “mati” secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati. Kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam. Selain daripada itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,  mengalami banyak “kematian” dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam jalan lurus lewat pertobatan menyeluruh dan sungguh-sungguh.

Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita telah dimatikan dari dosa dan kehidupan buruk kita yang lama kemudian menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru. We become a whole new creation. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, teapt seperti tongkat Harun yang berasal dari batang yang sudah mati tetapi kemudian bertunas dan berbunga, hidup kembali. Jika kita masih berselubung dosa maka lahir baru itu pun menjadi kehilangan makna. Kita tidak menjadi ciptaan baru yang benar-benar baru jika masih menghidupi kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk yang penuh dosa. Maka kelahiran baru yang dianugerahkan Tuhan harusnya menjadi titik awal bagi kita untuk memulai sebuah hidup baru yang bersih, bukan sebaliknya malah dicemari lagi dengan dosa-dosa seperti dahulu.

Paulus pun mengingatkan hal ini. “Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:2-4). Kita semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. (Galatia 3:27). Dengan demikian seharusnya tidak ada lagi tempat bagi dosa untuk terus hinggap dan tinggal dalam hidup kita kita. Hidup dalam Kristus akan membuat kita bisa bertunas dan berbuah sepanjang musim, tanpa peduli apa kondisi, situasi atau iklim yang tengah kita hadapi.

Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bahwa Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Itu adalah kesempatan emas yang seharusnya tidak kita lewatkan. Pertobatan adalah awal dari pemulihan. Tidak peduli sesulit atau separah apapun masa lalu kita, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai “kematian” baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan mampu memulihkan kita dari beragam kematian dan menumbuhkan tunas-tunas segar baru dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.