Lahir Baru

TEMAN, setiap kali saya membuat rencana perjalanan mengunjungi sebuah negara, saya selalu ditanya mengapa tidak ikut tur saja daripada berpergian sendirian. Susah juga menjawabnya tetapi pilihan berpergian sendiri sepertinya memang sudah mendarah daging sejak kecil.

Saya mendapat cerita, ketika saya umur enam bulan ayah sudah memperkenalkan dunia adventure kepada saya, yakni membawa saya mengendarai sepeda ke kota tempat kakek tinggal, yang jaraknya kurang lebih 70 km. Saat itu ayah tidak membawa bekal susu untuk saya sehingga pada waktu tiba di tempat tujuan, ayah minta tolong kepada seorang kerabat yang sedang menyusui bayi laki-lakinya yang juga berumur enam bulan supaya saya bisa juga disusui bersama.

Kelak saat dewasa, akhirnya bayi laki-laki itu menjadi suami saya, dan ibu yang menyusui saya itupun menjadi mertua saya (halaahh…nostalgia.com).

Lalu pada umur tujuh tahun saya ingat betul, ayah mengajak saya traveling mengarungi sungai besar di tanah kelahiran saya untuk menangkap bulus atau labi-labi (amyda cartilaginea) yakni hewan berpunggung lunak yang mirip kura-kura, yang hidup di air. Waktu itu perahu kami yang terbuat dari kayu sudah amat dekat dengan permukaan sungai yang keruh coklat dan perahu kerap oleng ke kanan dan ke kiri.

Ayah dan seorang temannya berusaha mengendalikan perahu supaya tetap stabil di tengah arus sungai sambil terus mendayung. Saya, putri kecilnya, hanya bisa berpegangan tepi perahu dengan amat takut.

Tanpa pelampung! (Oh My God, sekarang tak akan pengalaman itu terulang pada anak-anak ya…he…he… he.).

Dan seterusnya sejak SMP banyak pengalaman traveling saya lakukan sendiri mulai dari kota yang dekat sampai yang jauh di beberapa tempat di Indonesia. Saat sekarang arus global dunia makin terbuka dan harga tiket amat terjangkau, saya punya kesempatan meng-explore negara-negara di luar Indonesia.

Biasanya yang saya nikmati dalam sebuah perjalanan bukan semata-mata objek-objek wisata yang menjadi landmark negara/kota tersebut tetapi saya lebih tertarik pada kebiasaan, budaya, bahasa dan keunikan masyarakat lokalnya. Saya bisa bebas menikmati momen-momen itu tanpa harus diburu cepat-cepat naik bus/kereta seperti kalau ikut tur. Saya juga dapat menemukan spot-spot lain yang tak kalah menariknya karena tak terikat pada jadwal tur yang biasanya padat dan tak ada kesempatan untuk mengeksplorasi suatu tempat. Saya juga bisa memilih moda transportasi yang lebih murah dan memilih penginapan sesuai kantong.

Dari setiap pengalaman traveling saya memperoleh banyak hal baru dan terlebih memberi pengalaman berharga yang tak ternilai dengan apa pun juga. Saya nikmati saat bertemu orang asing, saat tersesat, saat kehabisan uang, saat diganggu orang gila, saat hampir ditipu, saat beda pendapat dengan teman seperjalanan dan saat mengalami pertolongan dari orang. Pengarang Paulo Coelho dalam buku The Pilgrimage (2013) menuliskan pengalaman travelingnya sebagai sebuah kelahiran baru dalam bentuk yang paling sederhana.

Dia tulis begini: “Kau akan berhadapan dengan situasi-situasi baru, harimu akan berjalan lebih lambat, dan akan bertemu orang-orang yang berbahasa asing. Jadi kau bagaikan baru keluar dari rahim. Hal-hal di sekitarmu menjadi lebih penting karena kelangsungan hidupmu bergantung pada hal-hal tersebut. Kau juga akan lebih terbuka terhadap orang lain karena mungkin mereka bisa membantumu di kala kesukaran.dan kau akan menerima setiap karunia Tuhan dengan kebahagiaan tiada tara, seakan-akan karunia itu salah satu episode hidupmu yang terpenting. Segala sesuatu terlihat baru dan pada saat yang sama dan kau hanya bisa melihat keindahan”

Mungkin benar apa yang ditulis pengarang buku spiritual asal Brasil itu. Sepulang traveling saya selalu merasa ada yang baru dalam hidup saya, selalu ada energi baru seolah saya baru muncul di bumi ini. Seolah baru lahir.

Pengalaman jalan-jalan memang selalu memperkaya batin dan kekayaan itu takkan pernah hilang karena tertanam kuat di benak sampai tua. Namun juga perlu disadari bahwa pengalaman batin tak selalu berasal dari pengalaman adventure. Ada banyak pengalaman otentik dalam keseharian hidup, yang dapat memperkaya batin asalkan hati tetap terbuka akan hal-hal baru di sekeliling kita.

Keterbukaan menjadi syarat utama dalam usaha menjalani peningkatan hidup naik ke level yang lebih tinggi. Pikiran yang selalu terbuka memungkinkan terjadinya perubahan yang kita inginkan yang lebih baik. Siapa sih yang tidak mau hidup yang lebih berkualitas? Lebih bisa memahami perbedaan, lebih tangguh, lebih bijaksana, lebih sabar, lebih peduli terhadap orang lain, lebih bersyukur, lebih tahan banting dan lebih berani.

Semoga!

Photo credit: Victoria Dock, Tasmania, Australia (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.