KWI – Yayasan Bhumiksara – EHEM!: Berangus Korupsi Harus Mulai dari Diri Sendiri (1)

BEGITU mudahnya kita sering menunjuk tokoh atau sekelompok orang terindikasi korupsi. Apalagi, kalau mereka bisa sampai tertangkap basah dengan barang bukti di tangan. Nah, itu dia koruptor! Maka orang jenis ini harus segera dibawa ke pengadilan mempertanggungjawabkan perbuataannya mengangsir dana milik orang lain.

Korupsi sudah menjadi virus ganas yang menjalar kemana-mana ibarat air “mengalir sampai jauh”, karena yang melakukan praktik kotor menggangsir uang orang lain ini dari hulu sampai hilir.  Nah, marilah kita bertanya jujur pada diri sendiri: masih yakinkah kita sendiri benar-benar bebas dari perilaku tercela ini?

Harus mulai dari diri sendiri

Sebuah forum workshop beberapa bulan lalu digagas bersama oleh Yayasan Bhumiksara dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kali ini, gagasan besar dengan ide mulia yakni keinginan bisa memberangus praktik-praktik kotor berupa korupsi di lingkungan sendiri ini difasiitas oleh EHEM!   

Menurut Romo Albert Alejo SJ yang juga pendiri dan penggagas berdirinya lembaga bergengsi berlabel EHEM!, semangat membara untuk bisa memberangus praktik korupsi tidak akan bisa berjalan efektif, tanpa disertai komitmen pribadi yang serius. Jesuit Filipina ini dengan tegas mengatakan, pemberantasan korupsi harus mulai dari diri sendiri.

“Fatsoen” politik-rohani dengan semangat anti korupsi gagasan Romo Albert Alejo SJ ini dengan cerdas menggunakan label dari khasanah bahasa Tagalog yakni ‘Ehem!’. Dalam bahasa Jawa, kata bahasa Tagalog ini sama artinya dengan ‘dehem’.

 Menurut Romo Alejo SJ, gerakan antikorupsi di Filipina digelar dengan sebuah awalan yakni terlebih dahulu melakukan riset persepsi orang tentang apa itu  korupsi dan segala aspeknya. Riset persepsi orang tentang apa yang mereka pikirkan bila ditanyai apa itu praktik korupsi ini dilakukan di berbagai daerah di Filipina dengan target responden dari berbagai kalangan, bidang profesi, dan latar belakang hidup sosial.  (Bersambung)

Photo credit: Al. Nurbandana

Tautan: 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: