Kurnia Bersyukur atas Kebaikan Tuhan

MENSYUKURI kebaikan Tuhan mesti selalu menjadi bagian dari hidup orang beriman. Memang, hal ini tidak mudah. Orang selalu tergoda untuk merasa diri bahwa dirinyalah yang memiliki segala-galanya.

Seorang lelaki sukses melihat setiap kali dia pulang kerja, istrinya sudah cantik dan wangi. Bersama anak-anaknya yang sudah mandi, ia menunggu kedatangan suaminya. Lelaki sukses itu merasa tidak adil.

Ia berdoa, “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinya pelajaran. Tolonglah, ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.”

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doa dari lelaki sukses itu. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri itu terbangun. Ia cepat-cepat ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kemudian ia membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Lantas ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian. Kemudian ia memasak untuk makan siang. Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya.

Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar rekening listrik dan telephone. Ia menyuruh kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan. Pulang dari bank, ia menyeterika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman. Kemudian ia memandikan anak-anak. Setelah itu, ia membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam 9 malam ia sangat kelelahan dan ingin tidur. Tetapi suaminya minta dilayani malam itu.

Dua hari menjalani peran sebagai istri, ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tidak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.”

Tuhan menjawab, “Bisa saja. Tetapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

Tidak mudah bagi manusia untuk menerima keadaan dirinya. Tidak mudah pula orang mensyukuri kebaikan Tuhan bagi dirinya. Lebih mudah menolak kondisi hidup. Mengapa? Karena orang selalu ingin sesuatu yang lebih bagi hidupnya. Padahal menumbuhkembangkan yang ada menjadi sesuatu yang sangat bermakna bagi hidup ini.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ketidakpuasan atas kondisi hidup itu berasal dari sikap hidup yang sombong. Orang kurang memiliki kerendahan hati dalam hidupnya. Akibatnya, orang selalu merasa tidak puas atas kondisi dirinya. Padahal Tuhan memberikan segala sesuatu yang cukup untuk menjalani hidup ini. Suami itu merasa besar, kuat dan berhak menuntut. Ia diajar menjadi kecil, lemah lembut dan rendah hati dengan cara yang keras.

Untuk itu, kita mesti mensyukuri kebaikan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan bersyukur, kita akan menemukan bahwa hidup memiliki begitu banyak hal baik. Ada hamparan kebaikan dari Tuhan bagi manusia.

Dengan bersyukur, kita menjadi orang yang rendah hati dan lemah lembut. Kita tidak menyombongkan diri. Hati kita tidak menjadi keras dan tertutup untuk kebaikan Tuhan. Mari kita memupuk diri kita untuk senantiasa membuka diri bagi kebaikan Tuhan. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ – Majalah FIAT

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.