Kunci Sukses Samgar (3)

(sambungan)

2. Pergunakan apa yang ada

Samgar menggunakan tongkat penghalau/penggiring lembu. Tongkat ini bentuknya tipis panjang dengan ujung yang sedikit tajam dan satunya lagi tumpul. Tongkat ini biasanya dipakai untuk melecut lembu dalam membajak sawah, terkadang bisa pula digunakan untuk menebas lalang atau tanaman liar yang sekiranya menghalangi lembu berjalan atau menyulitkan tanaman untuk tumbuh. Dengan senjata seperti itu, bagaimana mungkin bisa mengalahkan 600 prajurit Filistin bersenjata lengkap? Itu logika sederhana yang tentu sangat masuk akal. Samgar tidak memiliki pedang atau panah. Ia tidak memiliki perisai pelindung. Tetapi Samgar tidak membutuhkan itu. Ia tahu bahwa bukan senjata yang penting melainkan penyertaan Tuhan atasnya.

Menggunakan apa yang ada, itu seringkali luput dari perhatian kita. Kita sering terlalu sibuk untuk mengeluh tentang apa yang tidak kita miliki ketimbang memeriksa apa yang saat ini ada pada kita. Musa pun pernah mengalami pemikiran seperti itu. Dalam kitab Keluaran 4, saat Musa pertama kali diutus Tuhan, ia menanggapi penugasan Tuhan dengan sikap keraguan yang manusiawi. “Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Keluaran 4:1). Tuhan merespon dengan menanyakan apa yang ada di tangan Musa, lalu Musa menjawab, “tongkat”. (ay 2). Lalu Tuhan menyuruh Musa untuk melemparkan tongkatnya dan seketika tongkat itu berubah menjadi ular. Ketika diambil, ular berubah kembali menjadi tongkat. Tongkat inilah yang kelak dipakai Tuhan untuk merubah air sungai Nil menjadi darah (Keluaran 7:17) dan tulah-tulah lainnya yang diturunkan Tuhan kepada bangsa Mesir pada waktu itu. Tongkat yang sama juga dipakai Tuhan untuk membelah Laut Teberau sehingga bangsa Israel bisa menyeberang dengan berjalan tepat ditengahnya. (Keluaran 14:15-31).

Tongkat Musa maupun tongkat pelecut lembu milik Samgar tampaknya tidak akan bisa berfungsi banyak, tetapi ditangan Tuhan itu bisa menjadi senjata yang punya kemampuan luar biasa. Hubungannya dengan kita, apakah kita sudah memeriksa apa yang ada pada kita, yang dapat kita gunakan untuk berhasil? Sudahkah kita memeriksa apa yang telah Tuhan sediakan sejak semula untuk membuat kita bisa menggapai mimpi dan harapan kita?  Adalah mudah bagi kita untuk mengeluh atas apa yang tidak ada pada kita. Tidak punya modal, tidak punya koneksi, tidak punya cukup ilmu atau kemampuan dan sebagainya. Kita kerap mencari pembenaran akan kondisi kita yang tidak maju-maju dengan mencari alasan-alasan yang sebenarnya tidak perlu. “Si A berhasil karena ia punya modal besar, karena orang tuanya kaya, karena ia punya banyak relasi, sedang saya tidak.” Kalimat seperti ini sering dijadikan alasan bagi banyak orang, padahal ada banyak orang yang mulai dari nol besar tapi bisa sukses luar biasa. Ada pula yang menyalahkan Tuhan dan berlindung dibalik kata takdir. “Ah, memang sudah takdir bahwa saya harus miskin.” Tidak, Tuhan tidak pernah merencanakan anak-anakNya untuk hidup susah. Kita bahkan dikatakan sebagai anak yang berhak menjadi ahli waris Kerajaan (“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” – Galatia 4:7). Kita sudah dikatakan untuk terus naik bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor selama kita mendengar perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia (Ulangan 28:13). Ada segudang janji berkat dari Tuhan untuk kita yang menunjukkan bahwa tidak ada satupun takdir yang buruk untuk kita ketika diciptakan.

Untuk bisa berhasil, baik berhasil keluar dari masalah maupun sukses dalam kehidupan, alangkah pentingnya untuk terlebih dahulu memeriksa apa yang kita punya dan kemudian mengasahnya lalu menggunakannya dengan baik. Ada banyak orang yang tidak mengetahui apa bakat yang ia miliki, apa kelebihannya dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh karena itu, periksalah, maksimalkan dan pergunakan. Samgar hanya memiliki tongkat penggiring lembu, Musa hanya memiliki sebilah tongkat untuk berjalan, tetapi di tangan Tuhan alat ini bisa menjadi senjata yang luar biasa hebatnya.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.