Kunci Sukses Samgar (2)

(sambungan)

1. Tidak berpangku tangan/bersikap apatis

Samgar hidup pada masa dimana Israel tengah ‘berselingkuh’ dengan menyembah ilah-ilah lain. Akibatnya mereka pun mengalami masa gelap dimana dikatakan sepi tanpa penghuni. Mereka menghadapi bahaya serangan Filistin dalam kondisi tidak satupun dari puluhan ribu tentara yang memiliki baik senjata maupun perisai pelindung, belum lagi ancaman penjahat disekeliling mereka yang menyebabkan para pengembara lebih aman jika mengambil jalan berbelit dan memutar ketimbang memasuki wilayah mereka. Keadaan ini jelas ditulis dalam Hakim Hakim pasal 5 ayat ke 6 sampai 8. Samgar bisa saja diam, mengasihani diri dilahirkan pada masa seperti itu dan bersembunyi ketakutan. Dia bisa saja menyalahkan tentara-tentara Israel, dan itu rasanya wajar karena ia bukanlah termasuk prajurit. Atau dia bisa juga menunggu sampai ia bisa memiliki ribuan tentara untuk maju mempertahankan wilayahnya. Tapi Samgar tidak berpikir seperti itu. Ketimbang hanya diam bersikap apatis dan berpangku tangan, Samgar memutuskan untuk ambil bagian untuk melindungi bangsanya.

Daud melakukan hal yang sama. Jika Samgar berhadapan dengan 600 prajurit, Daud memang hanya menghadapi satu, tapi itu adalah raksasa yang berukuran jauh lebih besar dari manusia biasa dan dilengkapi dengan persenjataan dan perisai pelindung tubuh yang lengkap. Pada saat itu Daud masih sangat muda dan sehari-hari hanya bekerja sebagai gembala ternak ayahnya. Tetapi sama seperti Samgar, Daud tidak mau berpangku tangan dan bersikap apatis. Daud tidak menunggu sampai tentara Israel berani lalu ikut menyerang jauh dari belakang. Daud tidak menyingkir dan kembali menggembala ternak saja dan membiarkan intimidasi Goliat melemahkan tentara Israel berlarut-larut. Ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang pasti mampu membawanya mengatasi raksasa seukuran Goliat. Jika Samgar menggunakan tongkat penggiring lembu dalam membajak sawah, Daud menggunakan umban, yaitu sejenis ketapel yang menggunakan batu yang dilontarkan sebagai senjata. Baik Daud maupun Samgar sukses menjungkirbalikkan logika pikir manusia. Mereka keluar sebagai pemenang melawan musuh yang di atas kertas mustahil untuk dikalahkan.

Ada banyak diantara kita yang bersikap apatis ketika menghadapi masalah. Kita cenderung menunggu agar situasi menjadi lebih baik sebelum kita mulai mengambil tindakan, dan ketika masalah tidak kunjung membaik atau malah memburuk, kita pun kecewa dan mulai menyalahkan banyak orang dan juga Tuhan. Benar, ada kalanya kita harus mengambil waktu untuk diam dan tenang untuk mendengar jawaban Tuhan atas permasalahan yang tengah kita hadapi, tapi itu pun merupakan sebuah tindakan yang tentu berbeda dengan bersikap apatis dan hanya menunggu karena ingin lari dari beban yang tengah menghimpit kita. Lari dari masalah tidak akan pernah membuat situasi menjadi lebih baik. Yang terjadi seringkali justru sebaliknya. Kita harus berani menghadapi, dan hadapilah bersama Tuhan. Anda tidak perlu ragu karena Tuhan sudah berjanji “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Bahkan jika anda mengalami kelelahan baik secara tubuh, jiwa dan roh akibat himpitan beban berat, Yesus sudah berjanji untuk memberi kelegaan kepada kita seperti tertulis pada Matius 11:28. Dengan demikian tidak ada alasan bagi kita untuk takut menghadapi masalah, karena Tuhan akan selalu ada beserta kita, memberi pertolongan, memberi kekuatan, memberi jawaban dan memberi kelegaan.

Samgar tentu tahu betul bahwa ia merupakan bagian dari bangsanya. Jika bangsanya musnah, ia pun tentu akan turut menderita. Disamping itu, saya yakin Samgar pun tahu bahwa bukanlah kebetulan ia hidup pada masa itu. Tuhan pasti punya rencana bagi dirinya sehingga ia dilahirkan dan dibesarkan pada jaman yang berat. Hal yang sama pun berlaku bagi kita. Bukan kebetulan kita ada saat ini, di jaman ini dan di tempat dimana kita berada hari ini. Ada rencana Tuhan disana dan itu harus kita cari tahu dan jawab. Jika kita menunda atau hanya berdiam diri, rencana Tuhan itu tentu tidak akan bisa tergenapi. Oleh karena itu, bertindaklah sesuai dengan kehendakNya tanpa melanggar ketetapanNya. Samgar dan Daud melakukan itu dan berhasil pada masa itu, hal yang sama akan kita alami pula saat ini.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.