Kumpul Rembug untuk Bentuk Tim dan Program Kerja di Paroki Kebumen (1)

< ![endif]-->

GEREJA Paroki St. Yohanes Maria Vianney Kebumen, Minggu siang tanggal 2 Februari 2014 menjadi tuan rumah untuk sebuah pergelaran dinamika hidup menggereja. Di Aula Paroki sejak pukul 09.45 WIB sampai selesai bertemu muka sekitar 25 orang, yakni umat yang datang mewakili lingkungan-lingkungan dan stasi di seluruh Paroki Kebumen.

Acara pokoknya adalah membicarakan pembentukan tim dan merancang program kerja Tahun Pemberdayaan Paguyuban sebagaimana  telah dicanangkan oleh Keuskupan Purwokerto di tahun 2014 ini. Untuk kegiatan hidup menggereja ini, panitia menghadirkan narasumber yakni Bapak  Wiyono (Paroki Kebumen) dan Sdr. Paulus (Paroki Karanganyar). Mereka berdua datang selaku anggota tim pemberdayaan Paguyuban Basis Gerejawi Tingkat Dekenat Selatan Keuskupan Purwokerto.

Latar belakang

Pertemuan rembug bareng ini digagas karena kita melihat beberapa faktor penting guna merespon keadaan eksternal dan internal Gereja. Kita semua prihatin atas berbagai perkembangan eksternal dan internal yang tahun-tahun terakhir ini cukup mewarnai hidup masyarakat kita pada umumnya.

Kebumen-20140202-00691

Faktor eksternal itu antara lain fenomena makin banyaknya muncul berbagai kelompok radikalisme agama tertentu yang begitu kuatnya bahkan sudah berkembang cukup luas. Bahkan, kalau ditelisik lebih jauh bibit-bibit radikalisme agama itu sudah merasuki institusi atau lembaga-lembaga resmi publik seperti sekolah, rumah sakit, dll.

Faktor internal kita adalah Gereja zaman ini  tengah mengalami tantangan riil bagaimana harus bersikap terhadap  “budaya digital” . Istilah ‘digital’ sendiri itu datang dari kosa kata bahasa latin yakni digit yang artinya jari-jemari.

Jadi, keprihatinan kita sekarang adalah bagaimana Gereja dan Umat Katolik sewajarnya bisa menyikap munculnya ‘budaya digital itu’. Ini mendesak, karena budaya ini potensial cenderung menggantikan kebiasaan atau habitus cara memperkembangkan diri dari zaman ke zaman khususnya bagi generasi muda dan anak-anak sebagai masa depan Gereja.

Dunia gadget

Sebelum maraknya sarana komunikasi modern dan canggih seperti HP, internet, komputer, electronic gadget dan semacam itu,  anak-anak dan remaja –termasuk orang dewasa–  masih begitu sering menyempatkan diri untuk berkumpul, berkegiatan bersama dalam kelompok-kelompok tertentu. Itu terjadi dalam komunitas masyarakat tingkat RT/RW, paguyuban-paguyuban tertentu, kelompok bermain anak-anak yang bahkan secara spontan begitu mudahnya terbentuk.

Tapi, beda dahulu, juga beda sekarang.

Di zaman digital ini,  yang dahulu dirasa mudah diajak berkumpul dan berkegiatan bersama, maka sekarang menjadi sulit ‘kumpul bersama’. Ada muncul kendala-kendala psikologis dan sosial hingga membuat orang begitu susah diajak bertemu muka untuk kopi darat membicarakan sesuatu.long distance relationship 2

Ada suasana individualisme yang berkembang pesat di tatanan sosial kita, termasuk di suasana pergaulan sosial antarumat katolik sendiri.

Tantangan berikutnya adalah munculnya semacam ajakan dari beberapa denominasi kristiani lain yang tak jarang sangat getol mendatangi dan “mengajak” umat katolik untuk bergabung dalam kelompok baru itu. Target yang mereka sasar adalah umat yang tengah mengalami  galau hati, terluka, sakit hati, kecewa dengan Gereja katolik. Termasuk tentu saja kecewa berat dengan romonya, juga terhadap pengurus dewan, terhadap sesama umat dengan berbagai alasan.

Photo credit: Suasana pertemuan di Gereja Paroki St. Yohanes Maria Vianney (Dokumentasi Paroki); dunia digital (ilustrasi/ist)

Tautan: Problem Lokal Paroki Kebumen dan Sekitarnya (2)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.