Kualitas Hubungan antara Tuhan dan Manusia sebagai Sahabat (2)

(sambungan)

Amsal 17:17 berkata: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Sahabat sejati adalah mereka yang saling setia, saling mengasihi, saling mempercayai satu dengan lainnya baik dalam suka maupun duka. Jika seorang manusia saja bisa menjadi sahabat dalam pengertian sesuai dengan Amsal 17:17 tersebut, bayangkan jika Allah sendiri yang menjadi sahabat kita.

Apakah mungkin? Abraham menunjukkan bahwa itu mungkin. Sangat mungkin. Hubungan yang terjalin antara Abraham dan Allah merupakan sebuah hubungan yang luar biasa. Saya percaya Tuhan selalu rindu untuk menjadikan kita sahabat-sahabatNya. Jika tidak, tentu Tuhan tidak harus repot-repot membuat manusia segambar denganNya. Tuhan selalu mengulurkan salam persahabatan kepada kita, anak-anakNya. Semua tergantung kita, apakah kita mampu untuk selalu bersepakat denganNya, tidak mempertanyakan segala keputusanNya, seperti halnya Abraham taat penuh mengenai Ishak, melainkan mempercayakan semuanya kepada Tuhan dan menjalankan perintahNya tanpa banyak tanya.

Bagaimana komunikasi kita dengan Tuhan saat ini? Jangan bermimpi bisa menjadi sahabat Tuhan kalau kita masih jarang berdoa, kalau masih sering lupa untuk berdoa saat hendak melakukan sesuatu, atau kalau kita masih menjadikan doa hanya sebagai sarana untuk meminta sesuatu saja. Ada banyak orang yang mengira doa hanyalah berlangsung satu arah saja, hanya dilakukan saat ada perlu, apakah meminta pertolongan, meminta agar sembuh, agar bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan berbagai daftar permintaan lainnya. Atau tidak sedikit pula yang menjalankan doa hanya sebatas kewajiban saja tanpa menyadari manfaat maupun tujuannya. Mungkin dipaksa orang tua, atau karena memang sudah dibiasakan sejak kecil tanpa diajarkan untuk apa sebenarnya kita berdoa. Doa berhenti pada tata cara atau sarana minta-minta. Kalau itu masih bentuk kehidupan doa kita, maka sampai kapanpun kita tidak akan bisa masuk ke sebuah hubungan berkualitas tinggi bagai dua sahabat.

Doa seharusnya juga dipakai untuk menyimak apa kata Tuhan. Dengan kata lain, kita juga mendengar bukan cuma bicara. Mendengar nasihatNya, mendengar teguranNya, mendengar pendapatNya, mendapat masukan dariNya. Doa juga seharusnya bisa menjadi sarana untuk berbincang-bincang dan menyatakan kasih dan rasa syukur kita. Singkat kata, doa seharusnya berkualitas dan tidak hanya dilakukan kalau tidak lupa, kalau lagi tidak ada kerjaan atau kalau sedang perlu sesuatu.

Saat Yesus menyatakan diriNya sebagai sahabat kita, orang berdosa, Yesus justru terlebih dahulu melakukan sesuatu buat kita, sahabat-sahabatNya. Apa yang Dia berikan adalah sebuah bentuk karunia yang tidak ada duanya dan tidak bisa dilakukan oleh siapapun selain Tuhan, yaitu keselamatan. Dan itu diberikan lewat mengorbankan diriNya sendiri.  Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Dan itulah yang dilakukan Kristus. Dia memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. That’s the real friendship we have in Jesus. 

Tuhan selalu siap bahkan rindu untuk membangun hubungan persahabatan yang dekat, akrab dan berkualitas dengan kita. Apakah kita sudah siap dan mau menjadi sahabat Allah?

Dalam persahabatan sejati terdapat komunikasi dua arah satu sama lain, antara kita dan Tuhan pun sama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.