Kristianus Tungary: Berbagi Sukses Ternak Kambing Perah dengan Orang Muda di IYD 2016

Kristianus Tungar (bertopi), peternak Kambing Otawa asal Flores yang sukses di Jawa Timur
Kristianus Tungar (bertopi), peternak Kambing Otawa asal Flores yang sukses di Jawa TimurKristianus Tungary: Berbagi Sukses Ternak Kambing Perah dengan Orang Muda di IYD 2016 0By John L. Wujon onOctober 4, 2016KWI

POSTUR tubuhnya tinggih, kulit putih, hidung mancung dan berambut lurus. Penampilannya a la koboy Amerika, ketika ia tiba-tiba muncul di ruang tamu Wisma Lotta, Senin (4/9/2016).  Bagi anda yang belum mengenalnya, anda bisa mengira ia orang Jawa atau keturunan Tionghoa.

Lahir di Larantuka, Flores Timur tanggal 11 November 1960, Kristianus Tungary tak pernah membayangkan akan menjadi seorang peternak kambing Otawa di Jawa Timur. Apalagi  ayah  tiga anak ini punya latar belakang pendidikan filsafat teologi di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere.  Belum cukup dengan ilmu filsafat, Kris mengambil ilmu kateketik di Sekolah Tinggi Kateketik Pradnya Widya Yogyakarta. Dari kota Gudeg, ia kemudian melengkapi dirinya dengan ilmu Managemen Pemasaran di Universitas Airlangga Surabaya.

Berbekalkan ketiga ilmu tersebut, Kris merasa  punya ‘senjata  ampuh’  memasuki  dunia bisnis.  Berbagai  informasi tentang program pemberdayaan masyarakat yang dicanangkan dan dikembangkan  oleh Komisi PSE KWI Jakarta, ia akses termasuk akses dana untuk mengembangkan usaha  Got’s Milk sekaligus merancang program pemberdayaan bagi masyarakat.  Passion untuk pemberdayaan masyarakat ternyata mendapatkan jalan.

kristianus-tungary-ketika-sesi-wawancara-bersama-tim-komsos-kwi-di-wisma-lotta-manadokristianus-tungary-ketika-sesi-wawancara-bersama-tim-komsos-kwi-di-wisma-lotta-manado

Ternak kambing perah (Got’s Milk) yang ia kembangkan di Rumah Peternakan Kambing Perah di Dusun Patebon Desa Kebonwaris, Pandaan, Jawa Timur semakin dikenal  masyarakat dan memancing perhatian pemerintah provinsi Jawa Timur.  Ia  pun menjadi penyuluh peternak kambing  di tingkat Jawa Timur sekaligus menjadi katekis sosial pemberdayaan bagi masyarakat . Tempat usahanya pun, jadi tempat belajar bagi para pastor, aktivis sosial pemberdayaan yang datang dari berbagai keuskupan di Indonesia.

Agribisnis Peternakan Kambing perah, itu paling pokok, katanya, karena di ujung perah pasti akan keluar susu. Kalau tidak, maka mata rantai yang kuat ke arah prospek bisnis yang bagus tidak akan berjalan.  Agribisnis karena di situ ada lingkungan hidup, Peternakan kambing perah, itu ada kaitannya dengan susu.

Merintis usasa pada tahun 2010 dengan penanaman phon keras, 2012 mulai dengan peternakan kambing di Pandaan, Jawa TImur. Mengapa di Pandaan,  karena Pandaan ia anggap cukup strategis karena iklimnya cocok untuk peternakan kambing perah, tidak terlalu dingin tidak terlalu panas.

Setelah 2014 ia dengar ada program PSE. Ia bilang ini menarik karena semuanya “dari Umat untuk umat, oke, fine. Kita jangan terlalu fobia untuk menggunakan dana yang disediakan oleh Gereja, justru pada saat kita menggunakan dana ini, kita menjadi bagian dari PSE. PSE juga merupakan bagian dari kita.

“Jadi gema kebersamaan kita dengan Gereja bersama umat itu menyatu di sana. Kita bukannya mendapatkan dana PSE per se untuk dana PSE itu sendiri tapi bawah kita sadar setelah itu ada dampaknya bagi umat yang lain,” katanya dengan nada suara yang tinggi.

Dengan dana itu, ia pun mulai merasa bahwa misinya mulai berbeda, beternak bukan untuk diri sendiri tapi  untuk umat seluruh Indonesia. Roh umat Katolik Indonesia justru  itu ada di situ. Lalu kemudian ia kembangkan dana yang ada dengan berbagai instansi, pendidikan katolik, Gereja Katolik.

2014 ia mendapatkan bantuan dari PSE KWI, dan kemudian ia kembangkan. Susu itu nantinya bisa disetor ke tempatnya, agar tidak kesulitan dalam pemasaran. Maka mata rantai ini harus dikembangkan terus menerus. Dari susu kambing itu bisa diproduksi keju, susu terbaik  dan soogood

Menurutnya, dari sisi produktivitas ia orang harus memelihara kambing dalam jumlah besar. Bermain kecil resikonya terlalu besar, kalau kita pelihara hanya 10 ekor, itu resikonya besar sekali, biaya tenaga, waktu itu sama seperti kita pelihara dalam jumlah besar. Kalau kita pelihara dalam jumlah kecil, kita lalu jadi down ketika terjadi  bencana.

“Bayangkan kalau kita pelihara cuma 3 ekor, mati satu tinggal dua, itu terlalu besar resikonya. Tapi  kalau pelihara 20 ekor, mati 1 atau 2 ekor, tidak masalah. Usaha tetap jalan terus. Dari tahun  ketiga dan keempat, baru kita menilai. Tahun pertama kedua itu penuh perjuangan,” terangnya.

Saat ini, Ia punya 130 ekor kambing yang dipeliharanya, belum lagi ada yang dititipkan kepad petani-petani.  Ia pun berharap agar  orang-orang mudah  harus bisa mencari celah,  mencari peluang bisnis yang tidak banyak disentuh oleh umum, walaupun disaat peluang itu tinggih sekali resikonya tapi pasarnya menjanjikan.

“Orang-orang muda yang kreatif dan inovatif, dia harusmencali celah-celah terobosan yang punya peluang bisnis yang unik. Dan susu kambing itu unik,” ujarnya.

Ia juga berharap, kehadirannya bersama PSE orang-rang muda Katolik dapat menimba pengetahuan yang dibagikannya. Prinsipnya, sentire cum ecclesia, “merasakan bersama Gereja”, mumpung kita ada, mereka bisa masuk. Anda sekarang mau belajar dari orang-orang lain, anda tidak akan diberi akses untuk melihat dapur perusahaan. Bagaimana pencampuran pakannya, proses pembuatan susunya, jalur distribusinya dan sebagainya.

Yang paling penting, kata Kris, orang muda perlu miliki  tiga hal ini, yakni  Pengetahuan, kemauan dan kemampuan. Jadi mereka harus mau, harus tahu,  harus trampil. Kalau orang tidak punya pengetahuan, kita beri dia pengetahuan, kalau dia tidak punya ketrampilan, beri dia magang. Jadi ana muda misalnya 10 orang kirim ke surabaya, mintakan dana untuk pembiaayan ke PSE, di tempat kita mereka dilatih sampai jadi. Kembali ke daerah pun kita akan tetap mentor. Sebaiknya untuk satu wilayah itu 3 orang. Supaya ada apa-apa mereka bisa saling koreksi. Planing jangka pendeknya 3 tahuan untuk tingkat keberhasilannya.

Ia tidak menampik jika tantangan terbesar untuk dalam ternak kambing Otawa bukan soal penyakit yang dialami kambing atau bagaimana produksi dan distribusi hali ternak, tapi laih dari itu adalah soal kemauan, ketekunan dan kesetiaan pada usaha.

“ Orang perlu setia. Karena pekerjaan seperti ini sering diangap sebagai  mula-mula pekerjaan ini  pekerjaan orang kampung. Padahal harga susu kambing itu sangat menjanjikan, Rp. 60.00/liter. Tiap hari uang masuk.”

Ia juga berpesan, kalau kita bisa membangun kepercayaan dengan mitra, produksi kita akan terus digunakan, itulah resepnya.***

 

 

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.