Kreativitas (1)

Ayat bacaan: Kejadian 1:1 =================
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Seorang penulis dan penyair senior asal Amerika Serikat bernama Maya Angelou pada suatu kali menulis sebuah kalimat yang menurut saya sangat menginspirasi, terutama karena saya bekerja di dalam dunia jurnalistik alias hidup dari menulis. Katanya: “You can’t use up creativity. The more you use, the more you have.” Anda tidak akan pernah kehabisan kreativitas. Semakin banyak anda gunakan, semakin banyak kreativitas yang anda peroleh.” Menurut pengalaman saya, apa yang ia katakan sangatlah tepat. Kreativitas adalah sesuatu yang akan terus meningkat jika semakin banyak digunakan, tidak hanya dipendam dan didiamkan. Semakin dipakai semakin banyak. Maya Angelou sekarang berusia 85 tahun, tapi ia masih kreatif di usia senjanya. Kreativitas adalah kemampuan atau kekuatan untuk menciptakan sesuatu, membangun sesuatu dari kemampuan dan imajinasi atau membuat sebuah hal baru dalam bentuk nyata. Kreativitas adalah sesuatu yang unik yang berbeda-beda bagi tiap individu, dan ini tidak akan pernah ada habisnya. Jika kita mengumpulkan 5 orang lalu memberi mereka kertas dan pinsil untuk menggambar, anda akan menemukan bahwa tidak satupun yang persis sama. Itu akan tergantung dari kreativitas mereka dalam menggambar sesuatu dengan menggunakan ‘bahan dasar’ yang sama yaitu kertas dan pinsil. Semua orang punya kreativitas sendiri-sendiri dalam porsinya masing-masing. Meski tingkatnya berbeda-beda, tetapi setiap orang tentu memiliki itu. Karenanya saya suka tersenyum ketika mendengar orang berkata bahwa mereka tidak punya kreativitas sehingga ragu untuk bisa mengerjakan sesuatu.

Adalah sangat menarik jika kita menyadari bahwa ayat pertama dalam Alkitab sudah menunjukkan sebuah proses kreatif dari Tuhan. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1). Bermula dari langit dan bumi, Tuhan kemudian melanjutkan proses kreatif tersebut dengan membuat terang (ay3), cakrawala (ay 6), tumbuh-tumbuhan (ay 11), matahari, bulan dan bintang (ay 16), binatang laut dan yang terbang di udara (ay 21), hewan darat (ay 24) dan akhirnya sampai kepada sebuah penciptaan yang sangat istimewa yaitu manusia. Mengapa saya katakan istimewa? Karena khusus mengenai manusia, ayatnya berkata “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (ay 26).

Mari kita lihat secara khusus ayat ke 26 ini. Kita dikatakan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Dalam versi English amplified dikatakan “in Our image, after Our likeness”. Itu menunjukkan bahwa kita mewarisi bukan hanya image alias bentuk atau gambar, tetapi juga sifat-sifat Allah, termasuk soal kreativitas. Bahkan selanjutnya dikatakan bahwa kepada kita diberikan otoritas atas segala hewan, tumbuhan dan seisi bumi yang penekanannya diberikan dalam ayat 28-30. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak dilengkapi dengan kreativitas karena Allah sudah mengatakan bahwa kita diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa (image and likeness), dan kita diberi otoritas untuk berkuasa atas ciptaan Tuhan lainnya, yang jelas memerlukan kreativitas agar bisa membawa hasil yang baik sebagai pertanggungjawaban atas tugas yang sudah diberikan kepada manusia sejak semula.

Jika kita masuk lebih jauh lagi tentang proses penciptaan mula-mula ini, kita bisa pula melihat bahwa tuntutan kreatif sudah ditekankan Tuhan kepada manusia sejak awal. Perhatikan ayat berikut ini: “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.” (Kejadian 2:19). Dari ayat ini kita bisa mengetahui betapa Tuhan ingin melihat sejauh mana kreativitas manusia itu, setidaknya dalam menamai segala ciptaanNya yang lain seperti burung-burung, binatang-binatang dan tiap-tiap mahluk yang hidup. Jika kita mundur beberapa ayat sebelumnya, Tuhan juga menempatkan Adam di taman Eden bukan untuk berleha-leha dan bersantai, tapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (ay 15). Perhatikan kata mengusahakan dan memelihara. Manusia bukan saja ditugaskan untuk memelihara kelestarian lingkungan, tapi juga mengembangkan apa yang sudah ada untuk menjadi lebih baik lagi. Sudah barang tentu proses kreatif berperan besar di dalamnya. Memaksimalkan, mengembangkan dan menciptakan inovasi atau kreasi baru menuju suatu kehidupan yang lebih baik melalui segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan membutuhkan kreativitas. Itu yang harus dilakukan manusia, bukan sebaliknya, pintar dalam merusak alam dengan segala isinya.
(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.