Konsekuensi Akibat Kebandelan

Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
“Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!”

Pernahkah anda merasa menyesal setelah mengalami sesuatu yang buruk karena bandel dan tidak mau mendengarkan nasihat orang tua? Dalam masa pendewasaan, seringkali kita mengalami hal seperti ini. Kebandelan atau ke-keraskepala-an kita kerap membuat kita harus belajar secara keras dari pengalaman pahit, yang biasanya saya sebut dengan learning from the hard way. Padahal kalau saja kita mau sedikit saja patuh, semua itu harusnya tidak perlu kita alami. Saya baru saja menonton sebuah kisah nyata tentang wanita muda dengan satu anak di Inggris yang harus mendekam di penjara di Spanyol selama 5 tahun karena tergiur untung dengan menjadi kurir obat terlarang. Tekanan ekonomi dan pasangan yang menganggur membuatnya terjebak menerima tawaran untuk menjadi kurir dengan imbalan besar. Ibunya sudah memperingatkan dengan tegas agar ia membatalkan niatnya, tapi ia tetap bandel. AKibatnya konsekuensi fatal lah yang harus ia terima. Yang lebih menyakitkan lagi, ia ditangkap ketika sedang mengandung anak kedua. 3 bulan setelah lahir, ia terpaksa harus meminta ibunya menjemput sang bayi di penjara, dan baru 4 tahun berikutnya ia bisa kembali bersatu dengan anak-anaknya. Kebandelan bisa membawa konsekuensi yang tergolong ringan, tapi bisa juga membawa akibat berat seperti kisah nyata ini. Bahkan hal-hal yang jauh lebih fatal pun bisa menjadi konsekuensi yang harus ditanggung karena kebandelan kita sendiri.

Tuhan selalu mengingatkan anak-anakNya jika melenceng keluar jalur. Tapi seringkali kita bandel dan menganggap Tuhan terlalu mengekang. Dan ketika masalah muncul, kitapun tersadar, tapi bisa jadi penyesalan itu sudah terlambat. Kita bisa melihat contoh teguran Tuhan kepada bangsa Israel yang keras kepala dalam banyak kesempatan, salah satunya tercatat di dalam Mazmur 81. Dengan tegas Tuhan berseru: “Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mazmur 81:9). Lihatlah bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya tersesat. Tuhan peduli. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan kita sendiri. Dengarlah kalau mau, itu kata Tuhan. Apa yang diingatkan Tuhan kepada bangsa Israel pada waktu itu adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. “Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.” (ay 10-11). Patuhkah mereka? Nyatanya tidak. Dan itu bisa kita lihat dalam ayat berikutnya: “Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.” (ay 12). Bangsa Israel tampaknya lupa dan menganggap remeh pengalaman mereka sendiri bahwa adalah Tuhan sendiri yang menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Bukannya patuh tapi malah membandel dan menolak Allah apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois dan penuntut. Kebandelan itu pun kemudian membuat Tuhan kemudian membiarkan mereka dengan pilihannya! “Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!” (ay 13). Kita tahu selanjutnya bahwa sejarah mencatat bahwa keputusan Israel itu kemudian membuat mereka terpuruk. Dijajah musuh, luluh lantak dibasmi musuh, dan itu sangat berlawanan dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka. Seandainya saja mereka mau mendengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan itu. “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” (ay 14-17).

Dari satu kisah ini saja kita bisa melihat betapa kebandelan akan membawa dampak buruk bagi kita. Resikonya jelas-jelas nyata, dan bisa jadi pada suatu ketika menjelma menjadi sesuatu yang  fatal. Kita kerap menganggap bahwa sifat keras kepala, membantah dan selalu melawan ketika dilarang juga cepat tersinggung ketika diingatkan itu adalah wajar adanya. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala seperti itu. Sebaliknya, Tuhan ingin kita memiliki hati yang lembut yang siap dibentuk. Tuhan menginginkan ketaatan kita lebih dari apapun. “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.” (Ulangan 10:12-13). Bangsa Israel sudah merasakan sendiri konsekuensi yang harus mereka hadapi akibat kebandelan mereka berulang kali. Dari ilustrasi di atas kita bisa melihat sebuah contoh dimana kebandelan membawa konsekuensi yang sangat fatal. Seharusnya contoh seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak lagi mengulangi kesalahan seperti itu. Sebuah larangan memang terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan terlihat seolah seperti mengekang. Tetapi itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kebinasaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Jika Tuhan masih mau mengingatkan kita meski terkadang keras, bersyukurlah untuk itu. Kita sendiri juga yang rugi jika Tuhan akhirnya membiarkan kita terjatuh dalam banyak masalah akibat kebandelan kita sendiri. Dengarkanlah dan turutilah segera ketika Tuhan mengingatkan. Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, kotbah, lagu rohani atau lainnya, bersyukurlah dan berterima kasihlah untuk itu. Jangan keraskan hati, langsung menuduh dan bersungut-sungut apalagi melawan, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa mencegah kita dari bencana yang akan kita sesali sendiri kelak.

Tuhan menuntut ketaatan kepadaNya demi kebaikan kita, karenanya jangan membantah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.