Konklaf 2013: Rahasia di Balik Asap Hitam atau Putih (11)

< ![endif]-->

konklaf cerobong asap2

SELAMA bertahun-tahun lamanya, orang selalu bertanya-tanya bagaimana Vatikan bisa ‘mengatur’ warna asap sesuai kebutuhannya: yakni putih bila Paus baru sudah terpilih dan hitam bila proses eleksi Paus belum berhasil menemukan nama. Kali ini, laporan ilmiah dari harian  The New York Times berhasil membuka selubung kabut rahasia di ‘dapur’ Kapel Sistina, tempat utama berlangsung sidang-sidang Konklaf untuk memilih Paus baru.

Kira-kira, pertanyaan orang berakhir pada satu hal ini: resep kimia macam apa yang diracik petugas protokoler Vatikan untuk memberi tahu dunia bahwa Paus baru belum atau sudah terpilih. Terlihat kuno memang, tapi itulah realitas yang ada dan tetap dipraktikkan Tahta Suci dalam proses eleksi (pemilihan) Paus baru dalam sebuah wadah rohani bernama Konklaf.

Selama ini, Vatikan hanya mengatakan, warna asap putih atau hitam itu terjadi karena merupakan racikan dari beberapa unsur kimia. Namun, sejatinya unsur-unsur apa saja hingga kini belum terjawab sampai akhirnya muncul keterangan resmi.

Menurut keterangan biro pers Vatikan, campuran warna-putih itu mengikuti proses ‘hukum kimia’ yang berlaku umum.

Untuk warna putih, Vatikan menggunakan unsur potassium chloride,  milk suga, pine rosin.

Sementara untuk warna hitam diperoleh dari proses kimia campuran antara unsur potassium perchlorate dan anthracene ditambah sulfur sebagai bahan bakarnya.

Lalu bagaimana, proses kimiawi itu bisa ‘dikontrol’ oleh sang pemesannya yakni pengirim pesan Kapel Sistina untuk memberi tahun ‘informasi’ kepada dunia tentang hasil Konklaf?

Kapel Sistina akan mengontrol proses kimiawi itu melalui cara kerja sebuah oven yang sudah diujicoba dalam Konklaf tahun 2005 yang akhirnya menghasilkan nama Kardinal Joseph Ratzinger sebagai Paus baru dengan titel Benedictus XVI. Oven baru itu ‘duduk’ bersanding dengan oven lama yang hingga kini masih tetap dipakai sebagai ‘alat’ pembakar kertas-kertas suara.

Begitu asap dari hasil pembakaran itu muncul, maka sebuah alat khusus akan mendorong kepulan asap itu melalui sebuah cerobong khusus hingga akhirnya kepulan asap itu keluar dari cerobong Kapel Sistina dan bukannya malah ‘turun’ ke bawah membuat tersedak para Kardinal yang tengah Konklaf.

Ke arah cerobong asap di atas genting Kapel Sistina itulah sekarang mata seluruh penjuru dunia tengah tertuju pandangannya.

              

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.