Konklaf 2013: Asap Hitam di Hari Pertama Eleksi Paus (10)

PAPA: VERSO IL CONCLAVE, COSA SUCCEDE DOPO IL 28/2/SPECIALE

SELASA, 12 Maret 2013 di Kota Vatikan atau Selasa petang Jakarta tanggal 13 Maret 2013. Misa Pembukaan Konklaf berlangsung meriah, Basilika lumayan penuh. Ke-115 Kardinal sebagai konselebran, dengan selebran utama Kardinal Angelo Sodano dalam kapasitasnya sebagai Kardinal Dekan. Beda dengan Misa bersama Paus, perarakan para Kardinal ke Altar berlangsung tenang, tidak ada tepukan tangan.

Dalam kotbahnya, Kardinal Sodano mengucapkan terima kasih kepada Paus emeritus Benedictus XVI. Pada saat itu massa bertepuk tangan panjang. Liturgi dan bacaan-bacaan hari ini mengedepankan penyerahan diri kepada penyelenggaraan Ilahi, dimana Paus baru nanti menyadari diri sebagai orang pilihan Allah, diurapi dengan Roh Kudus untuk mewartakan kabar sukacita dan tahun pembebasan.

Dasar dan orientasi misinya adalah kasih. Kasih kepada Gerejanya, kepada umat dan kepada panggilannya.

Setelah Misa, para Kardinal berduyun-duyun keluar melalui pintu samping menuju Domus Santae Marthae, tepat di samping Basilika. Mereka bersalaman dengan kami, tetapi mengelak untuk bisa melakukan pembicaraan lebih lanjut.

Kami sempat berjabatan tangan dan berbicara sebentar dengan Kardinal Tagle dari Filipina. Beliau kelihatan ramah dan tanggap. Saya cuma menitip pesan doa dan mengucapkan all the best untuk beliau. Beliau berterima kasih lalu pergi.

Kemudian muncul mantan petinggi kami di Wina yakni Kardinal Christoph Schonborn. Kami berjabatan tangan, memegang tanganku erat-erat. Saya bertanya: “Rumusan doa apa yang gunakan untuk mendoakan para Kadinal pemilih?”.

Dengan senyum dan nada penuh harap beliau menjawab: “Berdoalah untuk kami, supaya telinga kami peka mendengarkan bisikan Roh Kudus”.

Lalu beliau pergi ke dalam Domus Santae Marthae.

Sore tadi, pukul 15.45 waktu Roma, ke-115 Kardinal dijemput menuju Kapela Paulina lalu berarak secara meriah dan dalam suasana doa menuju Kapela Sistina, tempat diadakan Konklaf.

Setelah tiba dilanjutkan dengan angkat sumpah satu demi satu.
Selang kurang lebih 1 jam, diumumkan “Extra Omnes” oleh Petugas Protokoler Kepausan yakni Monsignor Guido Marini. Semua yang bukan ke-115 Kardinal pemilih diminta meninggalkan Kapela Sixtina. Pintu ditutup rapat, dikawal oleh dua tentara Swiss dalam posisi tegap dengan tombak di tangan kanan.

Sejak para Kardinal memasuki Kapela Sistina, sekalipun hujan rintik-rintik, Lapangan Santo Petrus yang sudah dilengkapi dengan beberapa layar lebar, mulai dipadati manusia. Manusia berdatangan bercampur baur dengan wartawan-wartawan. Menariknya, massa didominasi oleh generasi muda dari berbagai bangsa dan negara.

Tepat pukul 19.15 waktu Roma setelah sebentar melihat kantor, saya lalu masuk Lapangan Santo Petrus, berlangkah pelan ke wilayah depan, hingga bertemu dengan Mbak Davi, koresponden Metro TV yang sudah menelpon saya beberapa saat sebelumnya. Kami berdiri persis di bawah sebuah layar lebar, sekaligus strategis untuk menatap ke cerobong asap asli di atas bubungan Kapela Sistina.

Pandangan mata orang-orang umumnya hanya kepada dua titik; entah ke layar lebar yang menampilkan tiang cerobong dalam gambar besar, atau ke cerobong asli di atas atap yang semakin samar-samar karena gelap.

Konklaf asap hitam di hari pertamaTepat pukul 19.41 malam waktu Roma, asap keluar dari cerobong.

Semua orang berteriak seperti gembira karena awalnya asap kelihatan putih. Tetapi semakin saat semakin pekat, dan semua akhirnya sadar bahwa asap pertama ini adalah asap hitam. Paus baru belum sukses terpilih. Massa pelan-pelan lerai dan pulang ke rumah sambil membawa harapan untuk melihat asap putih tidak terlalu lama lagi.

Mulai Rabu ini akan akan terjadi 4 kali putaran pemilihan. Pagi dua kali, sore dua. Tetapi asap baru bisa dikeluarkan setelah dua kali putaran, artinya mulai Rabu ini, asap dari cerobong akan dilihat sebanyak dua kali dalam sehari.
Entah kapan asap putih akan mengepul dari bubungan Kapel Sistina? Kiranya hanya Tuhan yang tahu.

Photo credit: Suasana misa menjelang pelaksanaan Konklaf 2013; Cerobong Kapel Sistina yang mengeluarkan kepulan asap hitam, tanda belum berhasil terpilih Paus baru (Ist/AP)

Artikel terkait:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.