Komunikasi Konstruktif, Solusi Kebuntuan Masalah di Papua

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Alberth Hasibuan, mengatakan bahwa dialog atau komunikasi konstruktif merupakan solusi menembus berbagai kebuntuan masalah yang kerap melanda Papua.

“Memang dialog atau komunikasi konstruktif harus diadakan. Ini untuk menembus kebuntuan sekarang ini dalam masyarakat  dan juga status quo. Kebuntuan ini saya anggap sudah lama terjadi, menderita sejak lama, puluhan tahun,” kata Hasibuan saat berada di Jayapura, Papua, Rabu.

Ia mengatakan sebelum berada di Jayapura, pihaknya telah bertemu dengan sejumlah tokoh asal Papua di Jakarta belum lama ini diantaranya dengan Beny Giay, Septer Manufandu, Pater Neles Tebay dan beberapa tokoh lainya.

Dalam pertemuan itu pihaknya mendapatkan berbagai macam keluhan tentang Papua dan menyepakti bahwa dialog atau komunikasi konstruktif merupakan solusi semua masalah itu.
 
“Saya sudah bertemu dengan berbagai tokoh Papua seperti Beny Giay, Septer Manufandu dari Foker LSM Papua, Pater Neles Tebay dari Jaringan Damai Papua yang mengusung dialog Jakarta-Papua. Dan mereka semua sampaikan bahwa dialog itu penting untuk bahas berbagai masalah kebuntuan di Papua,” katanya.

Dan dari berbagai pertemuan dengan sejumlah pihak berkompeten di ibu kota provinsi Papua sejak Senin (3/9) kemarin hingga hari ini, menurut Hasibuan pihaknya mendapatkan sejumlah keluhan dan informasi antara lain tentang perlunya evaluasi implementasi UU Otsus Papua, penggunaan dana khusus yang tidak sampai ke tengah masyarakat Papua, masalah keamanan, Hak Asazi Manusia, diskriminasi dan kepercayaan.
  
“Ada banyak hal yang saya dapatkan, diantaranya perlunya evaluasi UU Otsus Papua yang ada banyak hal tidak dilaksanakan, salah dilaksanakan dan bahkan perlu disempurnakan. Penggunaan dana khusus yang kebanyakan digunakan untuk birokrasi, masalah keamanan penembakan yang dilakukan oleh orang tak dikenal, hak asazi manusia, dikriminasi dan kepercayaan. Saya kira semua ini harus diselesaikan lewat dialog,” katanya.

Disinggung kapan dialog tersebut akan dilaksanakan, Hasibuan mengatakan pihaknya juga berharap agar hal itu secepatnya bisa dilaksanakan semasa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.

“Saya 2014 juga selesai. Saya baru mulai bulan Januari, saya mengharapkan bahwa dalam masa pemerintahan Pak SBY akan terjadi. Dan kalau terjadi dialog maka saya percaya bahwa Presiden SBY akan meninggalkan legesi bagi masyarakat Papua dan bangsa Indonesia. Dan itu merupakan suatu hasil yang baik, dan saya pikir hal itu akan terjadi,” ujarnya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.