Kita Memuliakan Tuhan Bersama Bunda Maria

Minggu, 14 Agustus 2016
HR SP Maria Diangkat Ke Surga
Why 11:19a;12:1-6a.10ab, Mzm 45:10c-12.16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus.Rahmat-Nya turun-temrun atas orang yang takut akan Dia.”

PENANGGALAN Liturgi Gereja Katolik Indonesia mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Maria Assumpta, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Paus Pius XII menetapkan dogma Maria Assumpta melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus”, pada tanggal 1 November 1950. Dogma itu telah menumbuhkan sukacita besar bagi umat Katolik seluruh dunia. Setelah beradab-abad diimani oleh umat beriman akar rumput, akhirnya iman itu diangkat menjadi ajaran resmi, Dogma Katolik.

Dogma ini menggenapi Kidung Magnificat Bunda Maria yang kita baca dalam Injil pada hari ini. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. Rahmat-Nya turun-temrun atas orang yang takut akan Dia.”

St. Maria bahagia ketika orang sombong dicerai-beraikan dan perspektif kita diperluas. Berapa banyak kita berjuang dengan akar dosa kesombongan. Alih-alih memandang memandang segalanya dari sudut pandang kita yang keruh, yang dicerai-beraikan Allah adalah kesombongan kita sehingga hati kita terbuka pada sesama dan kebutuhan mereka. Tak ada kerendahan hati seperti yang ada pada Maria. Mari kita bersikap rendah hati seperti dia. Kerendahan hati Maria merupakan pelajaran bagi kita.

Bunda kita, Perawan Maria yang Suci diangkat ke surga untuk turut serta dalam kemuliaan dan sukacita Putra-Nya dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebagai pengikut-pengikut-Nya, kita selalu memandang Maria sebagai Bunda kita. Hari Raya Maria diangkat ke surga terus memenuhi hati kita dengan kebahagiaan bersamanya.

Kita percaya bahwa Bunda Maria bersama Yesus Kristus, Putranya. Sesungguhnya, Bunda Maria adalah Bunda kita lebih dari sebelum-sebelumnya. Kita dapat mempercayakan secara total kehidupan kita padanya. Ia akan menyambut kita sebagai anak-anaknya di surga.

Hari Raya Maria diangkat ke surga merupakan bukti bahwa Allah sungguh mengangkat yang rendah. Bunda Maria diangkat oleh Allah dan Yesus Kristus, Putranya ke dalam kehidupan abadi surgawi. Itulah masa depan kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita dapat berdoa bersama Bunda Maria. Kita daraskan Rosario. Seperti Bunda Maria, kita membiarkan Allah memenuhi kita dengan rahmat-Nya. Apakah kita menyadari bahwa kepenuhan diri sejati kita terletak pada kerelaan membiarkan diri setiap hari dipenuhi oleh Allah? Apakah kita membiarkan Bunda Maria membantu kita agar kita hidup kian menyerupai dia sehingga kita pun mengalami sukacita sejati?

Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami rendah hati seperti Bunda-Mu, Santa Maria. Terima kasih Engkau memberi kami Bunda yang mengagumkan. Ia membantu kami setia menempuh jalan kehendak-Mu. Bantulah kami mampu menyanyikan Kidung Magnificat dalam jiwa kami, “Yang Mahatinggi telah melakukan perbuatan besar bagi kami” kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.