Kisah tentang Ember Keselamatan

ember

SEEKOR tikus jatuh ke dalam sumur. Bocah kecil yang melihatnya prihatin lalu tergerak hatinya untuk menolong. Diturunkannya ‘ember’ penimba air yang ukurannya kecil sambil berusaha agar tikus malang tersebut mau masuk ke wadah keselamatan itu.

Setiap kali ‘ember’ merapat ke tubuh tikus, tikusnya malah menghindar. Sepertinya tikus malang ini mencurigai kehadiran ember. Tikus kecil ini tidak melihat ember sebagai sarana keselamatan. Tikus terus berputar menjauh dari ember.

Si bocah tidak putus asa, ember disorong terus mengikuti pergerakan tikus. Setelah tikus lemas tak berdaya, tak sanggup lagi melakukan manuver untuk menghindar, akhirnya dengan mudah sang bocah memasukkannya ke dalam ember tersebut.

Sambil tersenyum gembira dia menarik ember ke permukaan sumur. Tapi sayang seribu sayang, senyum itu cuma sekejap. Tikus yang sudah diselamatkan ternyata sesaat setelah diletakan di atas rumput, mengembuskan nafas terakhir. Meski tak diiringi upacara dan tanpa iringan lagu requem jasad tikus dikuburkan si bocah.

Ya, kerajaan Allah itu ibarat seorang bocah dengan ember penolong tikus malang di tangannya. Ember keselamatan atau sarana keselamatan selalu disiapkan dan ditawarkan kepada kita. Tapi sering kita lebih tertarik pada sarana kesenangan instan yang ditawarkan dunia. Ketika kemudahan duniawi tersebut menjerumuskan kita pada sumur kemalangan dan sakrat maut, kita baru pasrah masuk ke dalam wadah keselamatan kerajaan Allah. Sayang belum sempat bertobat kita diusung ke liang kubur.

Pukat atau Ember?

Kita mencoba membayangkan alasan tikus mencurigai niat bocah untuk menolong. Pertama, mungkin karena manusia menganggap dan memperlakukan tikus sebagai musuh. Tikus akhirnya takut dan berusaha menghindari dari segala upaya manusia (termasuk niat sucinya) untuk mendekati dirinya.

Kedua, ember keselamatan yang ditawarkan manusia di mata tikus dilihat sebagai ‘perangkap tikus’  jenis lain. Kecurigaan seperti ini lahir spontan ketika manusia sudah diposisikan sebagai musuh.

Teringat perumpamaan dalam Injil. Kerajaan Allah diumpamakan sebagai pukat yang menjaring semua ikan-ikan yang lagi bergerak bebas, tanpa kompromi. Kemudian dikumpulkan menjadi satu masuk dalam “formasi” untuk dibentuk, dievaluasi dan diseleksi.    Niatnya baik yakni  mengumpul-satukan semua  dalam pukat kerajaan Allah. Tapi pendekatan ‘menangkap’ atau ‘menjaring’ seperti ini terkesan kurang demokratis, dialogis. Ikan-ikan dipaksa masuk dalam pukat. Sudah pasti ‘mereka’ tidak enjoy berada dalam pukat.

Pukat bagi ikan-ikan adalah penjara meskipun para formator menyebutnya  tempat formasi, tempat pembentukan, lembaga pendidikan, tempat seleksi atau kaderisasi. Kalau makna kerajaan Allah dalam perumpamaan ini dipindahkan konteksnya dari pantai ke darat, maka ember di tangan bocah yang menawarkan keselamatan kepada tikus yg jatuh dalam sumur lebih tepat membahasakan keselamatan sebagai sebuah tawaran.

Wadah keselamatan disiapkan dan dengan bebas orang memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Proses formasi dalam wadah keselamatan tersebut tentu menyenangkan dan di dalamnya bukan saja berlangsung proses ‘dibentuk’ tetapi juga adanya kesadaran ‘membentuk’ diri.

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.