Kisah tentang Agats Asmat: Sagare Punya Sawah (9)

< ![endif]-->

SUNGGUH tak menyangka, di sebuah kawasan pedalaman hutan jauh dari ‘peradaban dunia’ dimana tidak ada listrik dan sinyal HP, ternyata Sagare malah memiliki hamparan sawah tadah hujan yang menawan.

Sagare yang merupakan wilayah stasi Paroki Atsj ini kami tempuh selama 2 jam perjalanan dengan high speed boat berkekuatan mesin 85 PK. Kalau dari Ibukota Kabupaten Agats, Sagare bisa terjangkau dalam kisaran waktu tempuh 4-5 jam.

Itu kalau menggunakan high speed boat berkekuatan 85 PK.  Kalau dengan long boat berkekuatan mesin 40 PK, maka jarak tempuh Atsj-Sagare bisa makan waktu 4 jam. Sementara dari perjalanan dari Agats ke  Sagare bisa terjangkau dalam kisaran waktu 10-12 jam.

Tidak ada akses lain menuju Atsj dan kemudian Sagare dari Agats, selain menggunakan jalur sungai dengan naik long boat, speed boat atau perahu dayung. Pesawat terbang juga tidak bisa mendarat baik di Atsj maupun –apalagi- di pedalaman Sagare.

Sawah tadah hujan

Ada yang sangat istimewa di Sagare. Itu tiada lain adalah keberadaaan areal sawah tadah hujan di Sagare. Inilah nilai lebih ini nyaris tidak ada di bumi Agats lainnya, kecuali sedikit lahan basah di Atsj, persis di belakang Gereja Katolik Atsj.

Gereja Katolik khususnya Keuskupan Agats menaruh perhatian besar terhadap budidaya padi di areal persawahan di Sagare ini. Buktinya, sebelum akhirnya kami bermalam di Pastoran Sagare, Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM terlebih dahulu mengajak kami mampir sejenak mengunjungi umat di seberang sungai untuk melihat dari dekat kondisi teranyar areal persawahan di Sagare ini.

_MG_2725 uskup umat sagare tinjau sawah

Wajah-wajah sumringah menyambut kedatangan Bapak Uskup.

Di depan mata sudah ada ‘pemandangan tidak biasa’ di Sagare. Di sana ada hamparan tanah dimana tumbuh berbagai  pohon buah seperti nangka, rambutan, mangga, pisang dan tentu saja padi. Di ujung samping ada semacam gubug kecil dimana ada mesin penggilingan padi. “Sayang mesinnya masih rusak, karena ada spare part yang belum diganti,” ungkap warga setempat.

Menurut penuturan umat katolik di Sagare yang mayoritas beretnik Auyu, areal persawahan di Sagare boleh dibilang subur. Dalam setahun bisa panen setidaknya dua kali.

Sawah adalah pemandangan tidak biasa di Kabupaten Agats dimana hampir 99% tanahnya  merupakan lumpur basah. Karena kondisi alamnya yang selalu tergenangi oleh air laut pasang, tak banyak pepohonan bisa tumbuh di kawasan ini.

Sagare boleh dibilang ada kekecualiannya. Di kawasan ini, laut berada sangat-sangat jauh. Yang ada justru sungai-sungai air tawar. Maka dari itu, kondisi lahan tanahnya boleh dibilang juga bukan lumpur, melainkan tanah biasa.

Untuk pengairan, mereka masih mengandalkan pola tadah hujan. Padahal, sungai di seberang permukiman juga bisa dimanfaatkan untuk pengairan. Sayangnya, teknologi untuk memindahkan air sungai ke kawasan permukiman itu belum tersedia.

Kalau pun ada, biayanya sangat-sangat mahal.

Itu karena di Sagare tidak ada listrik!

Photo credit:

  • Areal persawahan di pedalaman Sagare,  4-5 jam perjalanan dengan high speed boat dari pusat kota Agats;
  • Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM (bertopi dan berjaket hitam) di tengah kerumunan umat katolik dari suku etnik Auyu di pedalaman Sagare.

 Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.