Kisah tentang Agats Asmat: Rp 6,2 Juta untuk Biaya BBM Rute Agats-Sagare pp (10)

< ![endif]-->

JAUH-jauh hari sebelum hebohnya kenaikan harga bahan  bakar minyak (BBM) termasuk bensin/premium, tingginya harga BBM di pedalaman hutan Papua yang berada nun jauh dari Ibukota Agats sudah jauh melambung sangat tinggi. Untuk satu liter bensin saja, pedagang  di Distrik (Kecamatan) Atsj sudah berani menarik ongkos sebesar Rp 20 ribu.

Bensin satu liter di Sagare bisa merambat naik menjadi Rp 23 ribu. Soalnya, jarak tempuh naik high speed boat dengan mesin berkekuatan 85 PK dari pusat kota Kecamatan Atsj ke Sagare yang jauh lebih udik  sudah makan waktu tak kurang 2-3 jam. Nah, kalau pakai long boat dengan mesin 40 PK jarak tempuh pasti akan lebih lama: bisa-bisa 6 jam.

Untuk menempuh perjalanan panjang dari Ibukota Agats menuju Atsj dan kemudian masuk ke pedalaman lebih jauh lagi di Sagare, butuh dana tak kurang Rp 6,2 juta. Itu hanya untuk kebutuhan membiayai ongkos transportasi, khususnya BBM.  Jumlah sebesar itu adalah ongkos membeli bensin plus sedikit solar untuk dua unit high speed boat dengan mesin berkekuatan 85 PK.

Copy of IMG_2671 jerigen berisi BBM

Reksa pastoral

Mengingat jarak tempuh yang jauh dengan risiko perjalanan yang sangat besar –seperti mesin mati mendadak di sungai nan lebar penuh buaya—reksa pastoral  terhadap 100-an umat katolik di Stasi Sagare hanya bisa dilakukan 1 bulan sekali. Bukan hanya jarak tempuh dan jarak kilometer yang sangat jauh yang menjadi kendala besar untuk melakukan karya pastoral ini.

Lebih dari itu, biaya transportasinya juga sangat-sangat mahal.

Ada dua orang pastur dari Ordo Salib Suci  (OSC ) di Paroki Atsj. Mereka melayani setidaknya 6 stasi dengan jarak waktu tempuh dan lokasi yang berjauhan. Biasanya pastur-pastur muda ini merelakan dirinya harus bermalam di pasturan di stasi setempat.

Itu berarti, yang dibawa para pastur OSC ini tidak hanya hosti, anggur dan perlengkapan misa saja. Mereka juga terbiasa –dan malah menjadi semacam keharusan–  membawa jerigen-jerigen isi minyak (bensin dan sedikit solar) dan persediaan bahan makanan.

Dengan kondisi pastoran seadanya dan tanpa listrik, sudah barang tentu senter dan kompor minyak pun harus mereka bawa.

Jangan pernah berpikir bisa bawa kompor gas.

Copy of _MG_2616 speed boat keuskupan melaju kencang

Bahkan di Wisma Keuskupan di pusat kota Agats pun, dapur Bapak Uskup juga tidak punya kompor gas. “Bagaimana mau masak dengan kompor gas, yang jual tabung gas tidak ada. Kalau kita nekat beli di Timika, nah kalau habis gasnya, mau ngisi dimana?,” tutur ibu-ibu tukang masak di Wisma Keuskupan.

Kompor minyak tanah jadi andalan “nafas kehidupan” di Agats, baik di pusat kota maupun di pedalaman-pedalaman.

Karena itulah, selain air hujan yang selalu diharapkan selalu turun, BBM adalah sumber kehidupan penting nomor dua di bumi Agats.

Jadi kalau Jakarta ramai-ramai menolak kenaikan harga BBM, rakyat Papua hanya bisa duduk tercenung meratapi harga bensin, solar dan minyak tanah yang pasti jauh melambung ke atas. Terutama tentu saja di kawasan pedalaman yang jauh dari pusat kota.

Sagare adalah contohnya. Untuk bisa pergi ke Sagare dari Agats dan pulang dari Sagare ke Agats melalui Atsj, Keuskupan Diosis Agats harus merogok kocek tak kurang Rp 6,2 juta hanya untuk konsumsi BBM.

Copy of _MG_2617 speed boat keuskupan

Padahal, jujur saja, Keuskupan Agats boleh dibilang sangat-sangat minus dan bahkan defisit. Kalau pun hingga kini tetap eksis –demikian kata Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM—“Itu karena banyak orang masih mau peduli dengan kami di sini.”

Jumlah orang yang mau peduli dengan Keuskupan Agats pada hemat kami tentunya masih perlu ditambah dan harus makin bertambah lagi. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan hanya demi kemuliaan Tuhan yang semakin lebih besar (AMDG = Ad Maiorem Dei Gloriam) di Keuskupan Agats di Papua.

Photo credit:

  • Speed boat Keuskupan Diosis Agats bermesin 85 PK berisi penumpang Hendra Kosasih, Sr. Sylvia KFS –suster provinsial Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Sambas, Kalbar– (memakai scarf), Bapak Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM (pakai topi) dan Alfons, motoris Keuskupan;
  • Speed boat Keuskupan melaju kencang di hamparan sungai;
  • Umat di pedalaman Atsji membopong jerigen berisi BBM untuk mengisi long boat The Crossier milik Ordo Salib Suci (OSC) di dermaga Pastoran Atsj.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. harga speed boat kecil
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.