Kisah tentang Agats Asmat: Pilatus Tebar Panorama Kapas dan Ular (3)

aliran sungai

SEMENIT keraguan besar sempat menghinggapi sudut-sudut relung hati kami, terutama ke-5 anggota KBKK menjelang pesawat ultra light jenis Pilatus lepas landas dari runway Bandara Moses Kilangin, Timika.

Keraguan itu tersimpul dalam sejumlah pertanyaan bernada ketakutan dan kecemasan. Misalnya, apakah pesawat kecil ini mampu mengudara? Apakah pesawat ini mampu membawa kami ber-7 dan 800-an kg bagasi kami dari Timika menuju Agats?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyergap perasaan kami. Maklumlah, penerbangan rute Timika-Agats menempuh jarak tempuh terbang selama 1 jam. Belum lagi –selain dr. Irene Setiadi, Istiarto dan Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM—kami ber-4 belum pernah pergi ke Kabupaten Agats. Apalagi harus naik pesawat capung super ringan dengan satu-satu baling di depan moncong pesawat.

awan kapas

Tailing

Namun, sejurus kemudian pesawat Pilatus itu pun mampu melesat ke udara membawa kami ber-7 berikut semua barang-barang kami. Tentu saja, di dalam kabin pesawat kami duduk berdesak-desakan. Selain deru mesin pesawat yang kencang, hati kami dibuat ciut oleh pemandangan di bawah tak lama setelah Pilatus meninggalkan runway bandara.

Bapak Uskup menunjukkan kepada kami, jauh di bawah perut pesawat ada hamparan kawasan yang rusak oleh limbah industri tambang. Istilah kerennya kawasan hancur oleh tailing yakni pembuangan sisa-sisa pertambangan dan itu mengalir di sungai-sungai besar yang membelah kota Timika dengan kawasan hutan.tailing dan hutan

Bak seperti gurun pasir putih, hamparan berisi limbah industri pertambangan pasti menyisakan duka cita bagi penduduk setempat. “Sampai kapan pun kawasan itu akan menjadi tanah mati dan tak satu tumbuhan bisa ditanam di situ,” papar Bapak Uskup setengah berteriak ke telinga kami agar bisa menandingi kencangnya deru mesin pesawat.

Kapas dan ular di udara

Selang beberapa menit kemudian, hamparan tailing berganti rupa. Kali ini, di bawah perut pesawat tergelar pemandangan alam yang sangat eksotik. Kawasan hutan lebat seluas mata bisa memandang. Lalu, di ujung moncong pesawat dan kiri-kanan baling-baling ada bola-bola awan yang sekilas seperti kapas-kapas raksasa berterbangan di udara.

Nun jauh di sana, uliran sungai terhampar di depan menghubungan daratan, hutan, dan perairan Laut Afafuru yang biru. Beberapa sodetan sungai yang dalam istilah di Agats disebut ‘sungai potong’ dari atas seperti terlihat bak ular-ular raksasa menyusuri jalanan air di daratan.

Bola-bola kapas di udara dan ular-ularan air sungai adalah pemandangan indah yang begitu khas ketika pesawat Pilatus milik Maskapai Missi Katolik ini melibas tanpa hambatan langit dan udara Timika menuju Agats.

tailing1

Bandara Ewer di Agats berlandasan baja

10 menit sebelum akhirnya mendarat di bandar udara super mungil di Bandara Udara Ewer, pesawat Pilatus itu membuat maneuver udara yang sedikit menghentak kantuk kami. Ada semacam goncangan ketika pesawat itu mengurangi kecepatan dan kemudian menukik turun mengurangi ketinggian. Kami sedikit dibuat terkejut namun juga terkesima.

Dimana akan mendarat? Tidak ada landasan pacu beraspal di depan. Yang ada hanyalah sungai-sungai, hutan dan laut. Ternyata di sisi kiri kami ada semacam runway sederhana yang di bebeberapa sudut badan jalan itu tertutup oleh rumput tebal.

Di atas sebuah runway dengan alas besi baja inilah, pesawat ultra ringan Pilatus ini akhirnya mendarat dengan sangat mulus. Kali ini kami tidak mau bertepuk tangan, karena meski roda pesawat sudah berhenti pada suatu titik dengan sempurna, di moncong pesawat baling-baling itu masih berputar sangat kencang.

bandara ewer dari atas

Kebisingan masih terdengar di dalam kabin pesawat, ketika gerobag-gerobag bagasi datang menghampiri badan pesawat dari sisi samping. Ketika seorang calon penumpang nekat mendekati badan pesawat, tiba-tiba pilot itu bersuara keras menghadirnya sangat tegas: “Bapak, lain kali jangan masuk dekati pesawat dari depan. Apalagi, datang dari arah depan ketika baling-baling belum berhenti. Kepala Bapak bisa putus!,” katanya sangar.

Saya yang duduk persis di belakang kursi pilot dan berjejeran langsung dengan Bapak Uskup langsung kaget; tak mengira kalau pilot itu bersuara keras dan tegas. Bapak Uskup mengiyakan, kalau prosedur mendekati pesawat ketika baling-baling masih berputar merupakan kesalahan serius dan berisiko fatal. (Bersambung)

 

Photo credit: Pemandangan panorama Timika dari udara (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

  • Indahnya panorama aliran-aliran sungai dari udara seperti ular memanjang;
  • Hutan lebat dan ganasnya tailing alias limbang industri tambang yang menggenangi kawasan Timika;
  • Luasnya kawasan yang dilanda sampah tambang (tailing);
  • Bandar Udara Ewer di Kabupaten Agats tampak dari udara jelang pesawat AMA mendarat.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.