Kisah tentang Agats Asmat: Mandi Jurus Kungfu di Pedalaman Sagare (7)

< ![endif]-->

AIR hujan dan bak penampungan air (toren) adalah dua pilar kehidupan di pedalaman Kabupaten Agats di Papua. Jangan senang dulu, biarpun terjadi hujan deras. Coba periksa kondisi bak penampungan air (toren) di ketinggian rumah: bocor atau tidak.

Kalau tidak terjadi kebocoran dan penuh oleh air hujan, itulah rahmat kehidupan paling riil yang layak disyukuri selama hidup di pedalaman hutan Kabupaten Agats.

Tinggal sehari-semalam di sebuah pondok –tepatnya sebuah gubug tak terawat—di Sagare bersama Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM dan 4 anggota tim KBKK bersama Sr. Korina Ngoi OSU tentu merupakan sebuah  pengalaman yang mengharukan.

Bukan pertama-tama karena kami tinggal di pedalaman, jauh masuk ke dalam hutan dimana listrik dan jaringan sinyal HP tidak tersedia. Melainkan lebih karena persoalan air hujan.

Ketika kami datang menjelang malam, 2 bak penampungan air terlihat masih kokoh berdiri. Tidak ada kebocoran dan ketika kran dicoba dibuka, air hujan mengalir ke ember.

Mandi jurus kungfu

Ini adalah perjalanan kedua kali bagi dr Irene Setiadi ke Keuskupan Agats setelah Oktober 2011 membawa tim bakti kasih KBKK berkeliling Agats untuk melakukan karya sosial berupa pelayanan kesehatan dan kasih. Sebagai dokter dan apalagi lulusan Berlin, dia tahu betul bagaimana harus hidup higienis.

Tapi di pedalaman –jauh dari ‘peradaban’ dan tidak ada listrik—lalu harus bagaimana?

Dengan berseloroh, dr. Irene member I tahu kami bagaimana bisa mandi dengan cara hemat. Dia katakan, ayo latihan mandi dengan jurus kungfu. Dia tunjukan dua tissue basah sebagai ‘air’ untuk mandi cepat cara hemat. “Kondisi minim air di Sagare mengharuskan kita melakukan mandi jurus kungfu ini,” katanya ringan.

Satu tissue untuk bersihkan muka. Tissue lainnya untuk bersihkan sela-sela bagian tubuh yang suka mengeluarkan air keringat dan perlu ‘basuhan’ khusus. Kalau pun masih ada air hujan, hanya tersedia satu gayung untuk sikat gigi dan bilas mulut.

MCK dilakukan dengan tissue lainnya.

pastoran sagare

Keramas? Jangan dulu, karena bisa menghabiskan  seluruh air di toren.

Tapi malam itu, saya sedikit curang. Mandi duluan dan malah sempat keramas saking gatalnya kepala karena kena sinar matahari yang begitu terik. Ketika mandi dengan jurus kungfu itu diperkenalkan dr. Irene Setiadi kepada anggota tim KBKK lainnya, saya hanya meringis malu.

Ampuun deh, air hujan di bak penampungan air bisa jadi sudah saya habiskan ¼ hanya untuk bisa mandi dan keramas secara sempurna.  Teman-teman lainnya  –termasuk Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM—mau tak mau harus rela berhemat air ketika mandi dan kebutuhan MCK.

Pada saat-saat krisis air seperti itu, sungguh kiat bisa mandi cepat cara hemat yakni mandi dengan jurus kungfu memang  menjadi solusi yang menggembirakan banyak orang.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.