Kisah tentang Agats Asmat: Kaki Bunda Maria Terbakar di Paroki St. Paulus Atsj, Papua (11)

TIM rombongan KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) tiba di dermaga belakang Pastoran Gereja Katolik Atsj di belantara pedalaman Kabupaten Agats persis menjelang tengah hari. Rasa haus dan lapar sudah terasa sejak lama, ketika dua speed boat milik Keuskupan Diosis Agats dan Pemda Kabupaten Agats melaju kencang pada kecepatan rata-rata 50km/jam menembus sudut-sudut hutan bakau menyusuri puluhan kilometer  sungai dan muara laut.

Kami makan dengan sangat lahap menghabiskan bekal-bekal yang dibawa Sr. Korina Ngoi OSU baik dari Wisma Keuskupan Agats dan Biara Susteran Ursulin Agats.

Selepas makan siang, kami menyempatkan diri melongok ke depan pasturan dan menyusuri  gang-gang papan di sekitaran Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Atsj.

Maria Cem

Sampailah kami akhirnya di sebuah sudut gang dimana berdiri bangunan berlabel “Maria Cem”. “Ini artinya Rumah (Bunda) Maria,” kata Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM yang menjelang petang yang sangat panas itu menjadi ‘guide’ kami mengitari kawasan depan Gereja Atsj.

Di situ ada dua orang umat katolik. Kepada Bapak Uskup, mereka segera melaporkan bahwa beberapa malam sebelumnya telah terjadi ‘insiden’ di Maria Cem. “Kaki Bunda Maria terbakar!,” begitu kurang lebih mereka berkisah.

ok Patung Bunda Maria di Atsj email

Kami terbelalak mendengar kisah itu.

Ternyata, yang terbakar adalah sebuah patung kayu raksasa dengan postur gagah berupa Bunda Maria. Kaki patung Bunda Maria itu terbakar oleh seorang ‘peziarah’ yang tanpa sengaja menaruh lilin di kaki patung Bunda Maria itu dan setelah berdoa, dia meninggalkan begitu saja lilin menyala itu di kaki Bunda Maria.

IMG_3200 Maria Cem

Tak ayal, patung kayu ukuran raksasa itu pun terbakar di bagian kakinya. Padahal, dari sudut estetika maupun kondisi patung itu sangat-sangat bagus.

Patung Bunda Maria ukuran raksasa itu dibuat dari satu balok kayu ukuran besar berbahan kayu besi.

Oleh umat katolik Paroki Atsj yang merasa sedih atas hilangnya kaki Bunda Maria itu buru-buru ‘mengadu’ ke Bapak Uskup. Intinya, mereka sepakat esok harinya akan segera berangkat ke hutan mencari log kayu ukuran besar untuk kembali membuat patung Bunda Maria ukuran raksasa.

“Apakah itu mungkin?,” tanya saya kepada umat.

“Di hutan sana ada banyak log kayu ukuran besar dan kami tahu bagaimana cara membawa log-log kayu itu ke daratan untuk kemudian kami belah dan diukir,” jawab mereka.

Mengukir Bunda Maria

Benar juga. Esok hari menjelang siang, saya bertemu dengan seorang bapak –umat katolik di Paroki Atsj—sudah semangat membawa parang besar bergegas menuju dermaga. Di sana sudah ada beberapa umat lainnya yang menunggu untuk kemudian berangkat ke pedalaman mencari balok kayu besi.

Copy of IMG_3199 maria cem

Di pedalaman hutan Papua –terutama di Gereja Katolik Paroki St. Paulus Atsj–  devosi akan Bunda Maria ternyata  membuncah bungah.  Kaki Bunda Maria yang terbakar membuat mereka sedih. Namun, kesedihan itu lantas ingin mereka ‘tebus’ dengan semangat bersama mencari log kayu ukuran raksasa.

Bukan hanya untuk mengganti kaki Bunda Maria semata. Lebih dari itu,  mereka ingin ‘menciptakan’ Bunda Maria lagi dengan kualitas dan ukuran yang sama besarnya.

Bagi suku Asmat yang dikenal piawai punya kemampuan ukir kayu yang bernilai estetika tinggi dan punya filosofi kehidupan yang jelas, mengukir kayu adalah bagian hidup mereka yang tak terpisahkan. Di tanah pedalaman Atsj, estetika ukir kayu  khas suku Asmat itu terukir abadi di Maria Cem.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.