Kisah Agats Asmat: Hubungan Khusus Romo Joned Pr dengan Euro (13)

JANGAN buruk sangka dulu ya. Euro bukan nama seorang gadis atau ibu muda. Ia adalah nama seekor anjing kampung yang pintar. Kalau dilihat dari perawakannya yang gagah dengan bulunya yang lebat, Euro bisa jadi punya darah keturunan Golden Retriever. Yang pasti, Euro adalah anjing yang trengginas dan cerdas.

Karena cerdas itulah, Euro punya nyali yang barangkali tidak dimiliki anjing-anjing lainnya di Wisma Keuskupan Diosis Agats. Apalagi kalau di hadapan Romo Joned Pr, Sekretaris Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito.

Kemana Romo Joned pergi, maka Euro akan dengan girasnya mengikuti jejak langkah tuannya. Begitu pula kalau Romo Joned harus pegang kemudi long boat menyusuri sungai untuk sebuah perjalanan tertentu. Euro seakan tak mau ketinggalan: langsung naik ke dermaga dan lompat seketika masuk ke geladak perahu.

Copy of IMG_2339 romo joned sopir speed boat

Euro tidak takut air. Ia malah senang bulu-bulunya diterpa angin kencang, ketika perahu long boat yang dikemudikan Romo Joned Pr melaju cepat meliuk-liuk di atas hamparan sungai.

Euro naik perahu

Rombongan tim KBKK bersama Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM mendarat mulus di Bandara Ewer selepas siang yang panas. Di ujung landasan sudah menunggu jejeran penumpang lain yang ingin terbang bersama pesawat Pilatus menuju Timika. Kami datang dari Timika menuju Ewer untuk kemudian naik perahu long boat menuju Ibukota Agats—sekitar 25 menit perjalanan naik perahu.

Di dermaga sungai persis di ujung landasan pacu pesawat di Bandara Ewer, sudah diparkir dua buah long boat. Satu boat berisi seorang motoris, mekanik, dan seekor anjing.

Saya, dr. Irene Setiadi dan Suster Sylvia KFS naik boat berpenumpang anjing ini. Ternyata sang sopir adalah Romo Joned Pr –Sekretaris Bapak Uskup.

Euro –anjing kesayangan Romo Joned—duduk tenang di belakang kemudi.

Copy of romo joned dan anjingnya1

Ketika perahu long boat bermesin 40 PK itu sudah melaju cepat menyusuri sungai menuju muara yang berhadapan dengan Laut Arafuru, riak-riak gelombang mulai terasa kuat. Goncangan keras pada perahu tak jarang membuat kami sedikit cemas. Maklumlah, kami jarang naik perahu menyusuri sungai nan lebar dan katanya masih banyak berkeliaran buaya muara ini.

Dr. Irene dan Sr. Sylvia memilih membisu sembari menutupi mukanya dengan scarf dan selendang. Maklum, siang itu memang panasnya luar biasa.

Saya memilih bercanda dengan Euro. Ia sering bolak-bolak menuju geladak penumpang dan ruang kemudi untuk bisa kemudian menemani tuannya: Romo Joned.

Sehari kemudian, saya lihat Euro mulai lesu semangat. Tiada kegairahan lagi pada mahkluk cerdas dan cekatan ini. Nafsu makannya juga berkurang habis.

Usut punya usut, ternyata tuannya yakni Romo Joned Pr sudah pergi meninggalkan Ibukota Agats menuju Timika dengan kapal besar Pelni. Tujuan akhirnya Jakarta dan selanjutnya menuju Kota Hujan Bogor.

Romo Joned Pr punya acara besar di Bogor, yakni menghadiri tahbisan yuniornya menjadi imam.

Sebagai imam diosesan Keuskupan Bogor, Romo Joned Pr merasa perlu hadir untuk hajatan iman ini. Apalagi –kata Bapak Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM—“Usai tahbisan, Romo Joned Pr akan membawa satu neomis (imam tahbisan baru) ke Agats untuk berkarya sebagai misionaris domestik”.

Copy of IMG_2335 menuju agats dari ewer

Euro yang lesu ditinggal tuannya terpaksa merana sepanjang 9 hari. Namun di Bogor, Romo Joned Pr pasti menemukan semangat baru karena dalam perjalanan pulang menuju Agats, seorang imam diosesan Keuskupan Bogor akan datang menuju Agats.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.