Kisah tentang Agats Asmat: Di Pedalaman Sagare, Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM Mandi di Sungai (8)

AIR hujan adalah segala-galanya di bumi Kabupaten Agats. Tanpa air hujan, sungguh kehidupan sehari-hari bisa ‘berhenti’ mendadak. Bilamana tengki tandon air hujan sudah mulai menipis, kegelisahan segera menyeruak di sudut-sudut ruangan dimana semua penghuni rumah dihantui kecemasan: bagaimana bisa memasak, mencuci dan mandi serta ke WC tanpa ada air lagi?

Di pedalaman hutan Sagare –sekitar 4 jam perjalanan dengan high speedboat berkekuatan 85 PK dari Ibukota Kabupaten Agats— persediaan air hujan yang telah menipis juga menjadi masalah besar bagi rombongan tim KBKK berjumlah 6 orang. Selain Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM sebagai kepala rombongan, kami ber-5 adalah Suster (biarawati) Korina Ngoi OSU, dr. Irene Setiadi, Hendra Kosasih, Lily Marcela, Suster Provinsial Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS) Sr. Sylvia KFS, dan Mathias Hariyadi.

Plus ikut dalam rombongan ini adalah 2 motoris yakni Alfons dan Peter, keduanya warga lokal.

Pada malam pertama, seluruh anggota rombongan praktis bisa mandi dan memasak dengan tenang karena cadangan air hujan di toren masih tersedia cukup banyak. Namun, 2 buah unit tanki air bervolume tak kurang 700-an liter rupanya tidak mencukupi kebutuhan kami ber-8 untuk mandi, memasak, dan ke WC keesokan harinya.

Alhasil, cara mandi cepat jurus kungfu diterapkan. Berbekal dua-tiga tissue, kami pun mandi.

Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito yang sudah paham dengan ‘kondisi alam’ seperti itu memilih ‘ngalah’ alias membiarkan semua anggota rombongan bisa mandi dengan air seadanya. Beliau memilih giliran terakhir dimana air hujan benar-benar sudah habis di tanki penampungan air.

 IMG_2688 Sungai Sagare

Sungai Sagare

Kali besar yang memisahkan dua unit perkampungan permukiman suku Auyu di pedalaman Sagare menjadi pilihan tak terbantahkan untuk mengatasi kebutuhan harus mandi.

Tanpa banyak ba-bi-bu, Mgr. Aloysius Murwito OFM angkat bicara: “Saya mau mandi di kali. Siapa mau ikut?,” katanya setengah bergurau.

Saya yang belum mandi di hari sepagi itu tak punya nyali. Ciutlah nyali saya kalau harus mandi di kali. Apalagi di obrolan santai malam sebelumnya, beberapa penduduk lokal mengatakan di Sungai Sagare yang penuh ikan itu masih ada buaya berkeliaran.

Pokoknya, saya tidak tertarik mandi di sungai. Saya pun memilih mandi hemat cara cepat dengan jurus kungfu: berbekal tissue-tissue basah.

Tapi, Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM bernyali besar. Tanpa ragu, beliau menyusuri ‘geladak’ papan dari rumah pastoran menuju bantaran sungai. Tanpa ragu, beliau pun langsung ciblon (mandi  ria dengan gayung) di tepian kali ditemani oleh seorang motoris bernama Alfons.

Sebelum bertolak menuju bantaran sungai, Bapak Uskup sudah mewanti-wanti kami: “Hayo, ini serius: jangan ada foto-foto saya ya saat mandi!,” begitu isi gurauannya.

Dasar ibu-ibu KBKK yang suka usil. Tetap saja dengan smartphone-nya jeprat-jepret membidik ‘pemandangan langka’ di tepian Sungai Sagare.

Kali ini, jepretan itu tidak bisa kami tayangkan dan segera kami hapus saat itu juga.

Ketika selesai mandi di sungai, iseng-iseng salah satu dari anggota KBKK bertanya: “Di sana tidak ada buaya, Monsinyur?”

“Buaya-buayanya malah takut sama saya ….,” jawab Bapak Uskup bergurau.

Photo credit:

  • Pemandangan Sungai Sagare di pedalaman hutan Agats di Papua
  • Speed boat Keuskupan dengan komandan Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM (berdiri di depan) sejenak ingin merapat di Dermaga Sagare.

Tautan:

 

5 pencarian oleh pembaca:

  1. foto ibu mandi
  2. Foto ibu ibu mandi
  3. foto ibu ibu mandi di kali
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.