Kisah tentang Agats-Asmat: Bau Amis yang Memabukan (3)

Bandara Timika yang ramai

JANGAN sampai pingsan atau muntah-muntah kalau tiba di Bandara Moses Kilangin di Timika, Papua.

Mengapa ‘anjuran’ atau ‘peringatan’ seperti itu sempat terlontarkan di benak para penumpang yang baru saja menginjakkan kakinya di Papua –khususnya di Bandara Timika. Saya pun termakan oleh pikiran ‘negatif’ ini, begitu membawa trolley berisi bagasi KBKK keluar dari apron terminal kedatangan.

Yang segera tercium di pucuk hidung adalah bau amis. Dan itu sangat-sangat menyengat.

Belum lagi kalau harus berjalan menyusuri kerumunan banyak orang yang mengisi ruang-ruang penantian atau pembelian tiket pesawat-pesawat lokal di seberang gedung. Baunya amis… dan memang sangat amis. Kata orang di Jawa Tengah: prengus, begitu kata yang biasa dipakai untuk melukiskan bau amis bercampur ampek ini.

Bau itu antara lain dipicu oleh banyaknya sisa-sisa orang yang meludah usai karena selesai menghisap pinang. Belum lagi kalau di ruangan tertutup, bau sangat khas itu bercampur dengan keringat tubuh manusia. Maka, jadilah ruangan itu pengap oleh panas karena terbatasnya saluran AC dan menjadi sangat tidak nyaman lagi oleh karena campuran bau amis dan ‘parfum alami’ buatan keringat manusia.

Saya, Lily dan Hendra dibuat sedikit limbung oleh bau-bauan yang tidak biasa ini. Sejenak-sejenak kami keluar ruangan untuk bisa menghirup udara lebih segara di luaran.

ok urus bagasi di TimikaSuasana menjadi lebih enak, ketika rombongan Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito, dr. Irene Setiadi, Sr. Sylvia KFS dan Istijarto dari Unika Soegijapranata Semarang akhirnya datang. Kami bertiga tiba lebih dulu dan harus menunggu mereka lebih dari 1.5 jam di Terminal Kedatangan Pesawat Lokal persis di seberang Bandara Internasional Moses Kilangin Timika, Papua.

Setelah semua bagasi dan berat tubuh ditimbang petugas, maka kami pun boleh meninggalkan ruangan tertutup itu menuju apron luar dimana udara bebas bisa kami hirup dengan lebih sempurna….

5 pencarian oleh pembaca:

  1. orang papua bau
  2. kenapa orang papua bau
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.