Kisah Masa Lalu tentang Gua Maria Fatima Klayu di Jlegong, Paroki Wonogiri (2)

EMPAT tahun lalu tentang Gua Maria Sendang Klayu, saya tulis suatu narasi berikut ini:

Minggu, 23 Maret 2008.

Pagi ini setelah doa ibadat pagi  saya bersiap-siap untuk merayakan Paskah bersama umat di Stasi Jlegong.

Pukul 06.45 WIB: Bapak  Sri dan Bapak  Pardiyo mengantar saya dan Fr. Bambang ke Jlegong. Kami menjemput Sr. Yanti, SRM (yang besar maupun yang kecil) dengan adiknya yang ingin ikut juga ke Jlegong. Maksud kami hendak menempuh jalan lebih pendek melalui jembatan Kedung Kidang melintasi Kali Keduwang, namun sampai di dekat jembatan, jembatan itu ambrol karena banjir tanggal 26 Desember 2007 yang lalu.

Karena itu, kami membalik  arah, untuk menempuh jalan panjang menuju Jlegong. Biasanya untuk jarak 32 km Wonogiri – Jlegong dibutuhkan waktu 1 jam saja berkendaraan mobill, tetapi karena jalan panjang kami baru tiba di tempat jam 08.00 saat perayaan Ekaristi Paska dimulai.

Romo Soetapanitra SJ

Awal mula tumbuhnya umat di daerah itu terjadi pada tahun 1967. Para perintis umat di daerah itu masih ingat betul swargi Romo  Soetapranitra, SJ (Sandal Jepit) yang setia mengunjungi umat perdana di daerah tersebut. Dengan jubah kelabu dan bersandal jepit Romo Yesuit yang sederhana ini menyapa umat dengan penuh kasih.

Bila Rama berkunjung ia hanya berpesan agar direbuskan ketela pohon, hasil utama tanah berbatu kapur tersebut. Ada sendang yang disebut Sendang Klayu. Tempat tersebut semula angker, banyak penduduk menjadi korban gangguan Iblis, menurut tutur kata orang setempat.

Katanya, ada seorang menebang pohon yang tumbuh di tempat itu lalu mulutnya mencong. Almarhum Romo Soetapanitra SJ berhasil mengusir Iblis yang bercokol di tempat tersebut, bahkan kemudian air Sendang Klayu digunakan oleh Romo Soeta untuk membaptis orang-orang Katolik perdana di daerah tersebut.  Jumlahnya belasan orang. Di antara mereka itu adalah Bapak  Agustinus Sukarman yang hadir pada Perayaan Paskah tahun 2008 ini.

Sejak peristiwa pembaptisan tempat tersebut dijadikan tempat doa, yang dilengkapi dengan patung Maria Fatima Sendang Klayu.

Saya bersyukur setelah upacara pembaruan baptis ada dua orang siap dibaptis di Kapel Santo Thomas Jlegong. Mereka itu adalah:

  1. Fransiska Asisi Megawati Sutarmo Putri, dengan emban baptis Ibu Lucia Martini;
  2. Cyrilus Fredi Slamet Prihatin, dengan emban baptis Bapak  Stephanus Darmosuwito.

Saya meminta dengan sungguh-sungguh agar baptisan baru tersebut dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizmorum) di Kantor Sekretariat Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri. Keteledoran dalam hal ini bisa merugikan umat.

Itulah yang kadang kami temui bila kami mengadakan supervisi di paroki-paroki.

Setelah misa, kami diajak mampir ke rumah pamong umat untuk santap siang. Kemudian, kami berkunjung ke Gua Maria Fatima Sendang Klayu. Jalan menuju ke gua sungguh tidak mudah. Jalan itu sangat menanjak hingga  mengantar kami sampai di depan gua Maria.

Ukurannya kecil saja. Di hadapan Maria kami berdoa ”Salam Maria”, mohon dapat meneladan kesetiaannya mengikuti Tuhan Yesus, puteranya, sampai di Puncak Golgota. (Bersambung)

Artikel terkait: Paroki Wonogiri Punya Gua Maria Fatima Sendang Klayu di Jlegong (1)

Tautan: http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/462/Gua-Maria-Fatima-Sendang-Klayu-Wonogiri

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.