Kisah Manis Father Hery SJ di Kamboja: Jejak Langkah Alm. Romo HP Bratasudarma SJ (3)

 

< ![endif]-->

KAMBOJA adalah contoh sebuah bangsa besar di masa lampau, namun kemudian tercabik-cabik oleh perang saudara karena perbedaan ideologis. Adalah rezim komunis pimpinan Saloth Sar atau luas dikenal sebagai Pol Pot yang akhirnya membawa Negeri Kamboja menjadi bangsa suram, miskin, terbelakang, dan meninggalkan luka batin yang mendalam.

Bangunan mentereng Tuol Sleng –bekas penjara dimana para tawanan disiksa habis hingga berdara-darah dan nyawa merenggang menuju kematian—adalah salah satu peninggalan sejarah atas kekejaman rezim Pol Pot.  Belum lagi kawasan killing field sedikit di luar Ibukota Phnom Penh yang kini menjadi monumen kekejaman sejarah akibat rezim komunis otoriter Pol Pot.

Almarhum Romo Heribertus Pardjijo SJ datang mengunjungi Negeri Kamboja yang indah namun kemudian menjadi berdarah-darah dan tercabik-cabik oleh masa sejarah yang kelam sebagai pastur misionaris. Awalnya, almarhum bekerja sebagai staf Jesuit Refugee Service (JRS), sebuah NGO internasional milik Serikat Jesus yang awalnya berdirinya digagas oleh Superior Jenderal Pedro Arrupe untuk menangani para pengungsi.

Jesuit Service Kamboja Plakat

Kantor Jesuit Refugee Service di sebuah jalan gang yang sepi dan berdebu di kota Siem Reap, Kamboja Utara (Mathias Hariyadi)

Namun, seiring dengan perkembangan zaman JRS tidak lagi memfokuskan diri pada penangangan para pengungsi berlabel assylum seekers seperti yang terjadi dialami the boat people kurun waktu proxy war di Vietnam antara Kelompok Utara yang komunis dan Kelompok Selatan yang liberal. Sekarang JRS sudah menangani banyak hal yang berurusan dengan kemanusiaan.

Saya tidak tahu banyak kiprah almarhum Romo “Pakdhe” Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ ketika berkarya di JRS Kamboja dengan para pendukung gerakan kemanusiaan ini para jesuit internasional: Korea, Jepang, dan Indonesia sendiri. Karya almarhum Romo Bratasudarma SJ di JRS Kamboja kini diteruskan oleh koleganya sesama Jesuit Indonesia: Romo Gregorius Priyadi SJ, putra asli Kaliurang, Pakem, DIY yang lama berkarya menjadi pastur Paroki Yohanes Penginjil Blok B, Jakarta Selatan.

Padahal, sejatinya Romo G. Priyadi SJ adalah ahli pertanahan berkat studi formalnya di bidang hukum pertanahan di UI.

Nah, jejak langkah nan indah almarhum Romo Pakdhe Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ justru saya dengar dengan sangat nyaris di karya pastoral parokial. Tepatnya di Gereja Stasi St. Mary di wilayah udik Taom, sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Siem Reap di Kamboja Utara.

Siem Reap adalah kota terkenal di Kamboja, karena di kota inilah kawasan budaya ‘perkampungan’ Candi Angkor Wat yang mendunia berada.

Barangkali selama kurang lebih 6 tahun lamanya, almarhum Romo Pakdhe HP Bratasudarma SJ menjadi pastur paroki di Gereja Katolik Siem Reap ini. Ia menjadi pastur Indonesia pertama yang berkarya di sebuah paroki di Kamboja. Baru setelah Romo Bratasudarma SJ mudik pulang kampung ke Indonesia, karya pastoral di Gereja Katolik Siem Reap diteruskan oleh pastur Jesuit muda Indonesia yakni Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ.

We know him as Father Hery SJ

Misa di Stasi Taom di Siem Reap Kamboja

Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ memimpin misa sederhana bersama beberapa umat katolik Stasi Taom Gereja St. Mary di luar kota Siem Reap, Kamboja Utara (Mathias Hariyadi)

“Pakdhe” adalah sebutan akrab bagi almarhum Romo Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ di antara sahabat dekat Jesuit Indonesia. Namun di Kamboja, nama “Pardjijo” yang sangat njawani ini tidak laku di telinga orang-orang Kamboja.

Mereka lebih mengenalnya sebagai Father Hery – nama English untuk “Heribertus” yang tak lain adalah almarhum Romo HP Bratasudarma SJ.

Father Hery SJ adalah nama besar dan sangat terhormat di Taom. Ini hanyalah sebuah desa udik yang terletak jauh di pedalaman, sekitar 7-10 km dari jalan raya. Untuk mencapai Taom, perlulah mobil dengan sedikit kemampuan jelajah off road karena jalanan pedesaan ini sangat becek dengan tekstur bergelombang.

Stasi Taom di Siem Reap Kamboja

Bersama dua tenaga sukarelawan JRS asal Jepang, kami dari Indonesia menyeberang sungai berarus sangat deras menuju Taom dengan sampan dayung. Tampak Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ (berkaos hijau dan bertopi) menyemangati kami agar tidak takut menyeberangi sungai dengan arus sangat deras ini. (Mathias Hariyadi)

Mobil tidak bisa mencapai Taom di tempat. Orang yang melanjutkan perjalanan dengan perahu sampan menuju ke seberang jalan. Nah, baru di situlah kita akan menemukan Gereja Stasi Taom St. Mary Church.

Di Stasi Taom inilah nama besar Father Hery SJ berkibar tinggi dan terdengar indah.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.