Kisah Agats Asmat: Vero, Rasul Awam Ursulin yang Energik (18)

< ![endif]-->

LAHIR dan besar di Madiun, Jawa Timur, namun akhirnya ‘terdampar’ di Kabupaten Agats. Itulah jalan kehidupan yang dilakoni Vero, putri Jawa asli alumnus STKat Pradnyawidya Yogyakarta.

Sekarang, Vero bekerja purna waktu untuk Keuskupan Agats sebagai Ketua PSE Diosis Agats.

Kami berjumpa dan berkenalan dengan Vero ini saat KBKK diundang Biara Susteran Ursulin di Agats untuk menghadiri misa perpisahan untuk Sr. Korina Ngoi OSU yang awal Juli 2013 harus pindah ke Jakarta untuk tugas studi.

Vero tampil ke mimbar usai perayaan ekaristi.

Kata-katanya renyah dan mantap. Intonasinya gagah disertai pembawaan diri yang pede berdiri di hadapan Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM dan puluhan hadirin yang menyesaki sudut-sudut Biara Ursulin Agats.

IMG_4145 Vero bersama Istiarto Erik Sarkol Hendra Kosasih

Kali lain, saya berjumpa dengan Vero usai misa hari Minggu di Katedral Agats.

Di situ, dia menjadi ‘pusat’ ketika banyak umat datang menyambangi Vero untuk berdiskusi dan berbincang-bincang. Pada kesempatan lain, ketika kami hendak pulang ke Jawa, Vero saya dengar sudah ‘menyeberang’ masuk ke pedalaman naik speed boat ke Sawaerma untuk melihat projek PSE Keuskupan di sana.

Yang tak boleh dilupakan tentu saja projek Vero di Yaosakor –sebuah permukiman di pedalaman di tepi sungai besar yang konon masih banyak buayanya. Kepada umat di Yaosakor, Vero mengajari bagaimana menanam ubi jalar. Hasilnya menggembirakan. Lebih bukan karena soal kwantitas berapa kilo ubi jalar yang berhasil dipanen, melainkan lebih karena di atas lahan tanah berlumpur itu Vero berhasil ‘menanamkan’ budidaya bercocok tanam.

Ini yang patut diacungi jempol. Budaya bercocok tanam adalah hal yang sangat asing bagi suku-suku penduduk asli di pedalaman.

Masalahnya sepele dan masuk akal. Apa yang mereka butuhkan –apakah ikan atau apa—bisa mereka dapatkan hari itu juga dari hutan.

Nah, kalau ‘isi hutan’ sekali waktu benar-benar habis, lalu dengan apa penduduk asli ini bisa makan?

PSE Keuskupan Agats melalui Vero mencoba menanamkan budaya baru di pedalaman yakni bercocoktanam. Kali ini, yang sukses ditanam adalah ubi jalar. Entah kali lainnya.

Saya sendiri kagum atas etos kerja seorang rasul awam bernama Vero ini.

IMG_4149 Vero bersama Sr Sylvia KFS Hendra Kosasih

Tentu saja, sebagai alumnus STKat Pradnya Widya Yogyakarta, Vero memiliki semangat merasul yang sangat garang. Ia memang dididik untuk misi seperti itu: menjadi rasul-rasul awam yang trengginas.

Ditambah lagi, semangat Ursulin yang membara di hatinya. Karena itu, Vero yang hidup selibat ini menjalani hidup layaknya seorang ‘suster awam’ dengan spiritualitas Angela Merici –pendiri Ordo Suster-suster Ursulin.

Photo credit:

  • Vero memberi sambutan pada misa perpisahan Sr. Korina Ngoi OSU
  • Vero bersama Istiarto dari Unika Soegijapranata Semarang, Erik Sarkol dari Museum Asmat, dan Hendra Kosasih dari KBKK
  • Vero bersama Sr. Sylvia KFS, provinsial Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari Sambas, Kalimantan Barat

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.