Kisah Agats Asmat: Namanya Klodok (19)

< ![endif]-->

SEPANJANG 10 hari berkelana masuk ke pedalaman Agats, mata saya selalu terpaku pada klodok. Ini adalah binatang amfibi –semacam ikan—yang bisa hidup di dua alam berbeda: air dan daratan.

Yang menarik saya, klodok selalu menimbulkan bunyi gemerisik krocok…krocok setiap kali jejaknya diketahui manusia. Dan sesegera mungkin, klodok ini berenang sangat cepat menyembunyikan diri dari pandangan mata manusia.

Binatang sejenis ikan ini selalu eksis di perairan di bawah permukiman rumah bedeng di seluruh Agats. Tak terkecuali di seluruh jaringan sungai.

Dimana-mana selalu ada klodok. Dan klodok ini pula yang selalu menarik perhatian saya, setiap kali berjalan menyusuri jalanan papan di atas hamparan air payau yang masuk.

Kadang-kadang pada malam hari, ayunan gerak klodok yang berenang cepat menghindari musuh membuat tidur kami sedikit terhenyak. Kami sempat mengira kalau di bawah dipan dimana kami tidur ada ular atau buaya masuk ke bawah hunian kami ketika air laut tengah pasang.

Klodok punya tekstur bentuk yang sedikit aneh. Sekilas seperti ikan uceng di sungai-sungai Jawa waktu saya kecil dulu. Badannya sedikit memanjang, namun di ujung bagian akhir dia punya ekor layaknya cebong (calon katak). Kepalanya membesar persis seperti kepala katak dewasa.

Dermaga Agats 1

Warnanya hitam legam. Berenang sangat lincah dan cepat. Begitu pula kalau naik ke daratan, klodok bisa meloncat dengan sangat cepat menghindari sergapan musuh atau predator.

Selama di Agats, keberadaan klodok sungguh membuat saya terhibur. Setidaknya di alam pedalaman yang sunyi itu ada bebunyian gemericik di peraian akibat ulah klodok. Berkat klodok, perairan menjadi lebih nyaring karena klodok berlarian kesana kemari.

Di Agats,klodok benar-benar eksis bertebaran dimana-mana.

Photo credit: Dermaga kecil di Agats dan sungai lebar di Kabupaten Agats, Papua (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.