Kisah Agats Asmat: Museum Asmat, Koleksi Benda Seni, Ukiran, dan Patung Asmat di Agats (14)

BERDIRI  persis di seberang sungai di pinggiran jalanan beton di depan Wisma Keuskupan Diosis Agats, keberadaan Museum Kemajuan dan Perkembangan Kebudayaan Asmat sungguh tak mencolok di depan mata. Bangunannya terkesan lusuh. Sekilas memang tak muncul kesan, di dalamnya tersimpan ratusan pernak-pernik benda, ornamen, panel yang semuanya merupakan hasil kepiawaian Suku Asmat –salah satu etnik mayoritas di Kabupaten Agats, Papua— melakukan seni ukir  berbahan dasar kayu dengan teknik ukir yang unik, canggih serta punya estetika dan filosofi tinggi.

Museum Asmat –kita sebut saja begitu—ini dibangun atas prakarsa Bapak Uskup Emertius Mgr. Alphonse A. Sowada OSC yang kini menikmati masa pensiunnya dengan kursi roda di Oklahoma, Amerika Serikat.

_MG_2513 Museum Asmat okMuseum Asmat tidak hanya menyimpan aneka pernak-pernik seni ukir Asmat bernilai tinggi. Melainkan juga sejumlah foto dokumentasi penting tentang kiprah pelayanan misi katolik oleh para imam-imam Ordo Salib Suci (OSC) dari Provinsi Amerika Serikat.

Yang menarik tentu saja koleksi aneka seni ukir Asmat yang tergelar di Museum Asmat ini.  Taruhlah itu mulai dari panel, pernak-pernik, patung, senjata berupa panah dan anak panah, parang, tombak, perisai, sekalian atribut perang dan tari-tarian.

Semua ada di Museum Asmat.

Untuk penikmat seni ukir khas Suku Asmat di Papua, Museum Asmat milik Keuskupan Diosis Agats ini menjadi pemuas rasa ingin tahu akan betapa tinggi estetika dan nilai filosofis aneka seni ukir kayu khas Asmat ini.

Untuk turis lokal dan terlebih manca negara yang tengah berada di Ibukota Kabupaten Agats, maka hanya di Museum Asmat inilah mereka bisa menyaksikan dari dekat dan sejarah asal-mula aneka ukiran kayu dan benda-benda etnik khas Asmat.

Keberadaan kurator Museum Asmat yakni Erik Sarkol menjadi kunci penting untuk mengetahui darimana pernak-pernik budaya dan seni ukir kayu khas Suku Asmat itu berasal.

Menurut penuturan Bapak Uskup Mgr. Aloysius Murwito OFM, kondisi Museum Asmat sekarang ini memprihatinkan. Lebih karena koleksi benda-benda seni dan aneka patung hasil ukiran khas Asmat ini kurang mendapat tempat yang ‘layak’ di bangunan berdinding papan kayu tersebut.

Bapak Uskup sudah memikirkan sekali waktu harus dicarikan bangunan lain yang lebih ‘pantas’ untuk menaruh koleksi benda-benda seni bernilai tinggi hasil karya seni Suku Asmat yang kini sudah meng-global ini._MG_2514 Museum Asmat

Yang penting tentu saja, perlu ada donasi besar untuk projek sepenting ini. Lebih karena sebagai diosis, Keuskupan Agats boleh dibilang defisit. Untuk menutupi kebutuhan bulanan saja, Keuskupan Agats sudah kembang kempis.

Bagaimana dengan projek besar ingin merehab atau membangun Museum Asmat yang baru?

Di tangan para dermawan dan pemerhati seni khas Asmat inilah, harapan besar itu diberikan.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.