Kisah Agats Asmat: Ada GIM di Biara Ursulin Agats (17)

< ![endif]-->

NAMANYA sungguh singkat. Cukup GIM yang merupakan kepanjangan dari Gerakan Imam Maria. Namun jangan tanya kalau GIM harus ‘unjuk kebolehan’. Terutama menyanyi dan melantunkan tembang-tembang rohani.

Malam pertama kami di Keuskupan Agats setelah hampir 9 jam perjalanan dari Jakarta-Makassar-Timika hingga akhirnya mendarat di Bandara Ewer di Kabupaten Agats diisi dengan pesta perpisahan Suster Korina Ngoi OSU di Biara Ursulin, Agats.

Kami sempat tidur sejenak di Isi Cem 3 –tempat kami menginap di Wisma Keuskupan Agats—sebelum akhirnya menjelang petang kami berjalan 200 meter dari Keuskupan menuju Biara Suster-suster Ursulin (OSU) di depan Wisma Keuskupan.

Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM berkenan memimpin misa dengan ujud bersyukur atas karya pendidikan Sr. Korina OSU selama hampir 10 tahun berkarya di Keuskupan Agats sebelum akhirnya bertolak ke Jakarta untuk tugas studi.

Ketika kami datang, sudah banyak umat menyesaki sudut-sudut biara Ursulin.  Rumah kediaman para suster OSU ini tidak bisa dibilang ‘biara’, karena sejatinya hanya sebuah ruang bedeng kayu dimana ada 3 suster Ursulin di situ.

KBKK misa di susteran ursulin agats 2

Maka dari itu, ketika semua sudut sudah penuh dengan umat yang hadir, kami –KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) dari Jakarta—malah mendapat tempat lebih ‘strategis’ di jajaran bangku depan. Persis di depan altar, ketika Bapak Uskup sudah bersiap memimpin perayaan ekaristi.

Duduk di samping kanan-kiri kami adalah rombongan ibu-ibu.

Suara lantang dan bagus

Tak disangka-sangka, begitu mereka melantunkan lagu-lagu maka seluruh aura rohani langsung terasakan di Biara Ursulin Agats ini. Ibu-ibu ini benar-benar pandai menyanyi, bahkan secara spontan bisa polifoni.

Saya takjub bukan kepalang.

Ibu-ibu ini ternyata adalah anggota Gerakan Imam Maria (GIM). Sebuah komunitas doa yang biasa berkumpul di Biara Ursulin untuk mendoakan para imam, frater, bruder, dan suster agar panggilan religius semakin banyak. Tentu saja, mereka juga berdoa agar para imam, bruder, suster dan frater juga setia dalam panggilannya.

_MG_2417 Ibu GIM

Ketika ekaristi sudah selesai dan kami mendapat makanan lezat berupa daging panggang menu Manado, saya bertanya kepada salah satu ibu anggota GIM. “Darimana belajar menyanyi begitu bagus?,” tanya saya.

Satu ibu menjawab dan lainnya langsung mengiyakan. “Kami datang dari Maluku Tenggara. Di sana, semua ibu-ibu suka menyanyi dan kalau menyanyi harus keras agar bisa mengalahkan deru ombak lautan,” kata mereka.

Benarlah, ibu-ibu anggota GIM ini memang bisa menyanyi dengan sangat lantang. Di sini, mikrofone atau pengeras suara tidak dibutuhkan lagi.

Copy of _MG_2418 ok

Photo credit:

  • Misa perpisahan dengan Sr. Korina Ngoi OSU di Biara Susteran Ursulin (OSU) di Keuskupan Agats, 17 Juli 2013.
  • Anggota KBKK Jakarta (dr. Irene Setiadi, Lily Marcela, Hendra Kosasih) bersama Sr. Sylvia KFS dari Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Sambas (KFS) dan Istiarto dari Unika Soegijapranata Semarang ikut menghadiri perayaan ekaristi ini.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.