“Killing Them Slowly”, Membunuh tanpa Jejak

< ![endif]-->

film-killingsoftly-altsplsh

JANGAN sampai salah dengan film erotis dengan judul nyaris sama yakni Killing Me Softly yang dibintangi aktris kelahiran Milwaukee Heather Graham dan aktor Inggris Joseph Fiennes. Yang ini berjudul Killing Them Slowly alias habisin mereka dengan brutal tanpa ampun.

Dan aktor ganteng Brad Pitt berhasil melakukan pembunuhan itu dengan tangkas, kejam, dan tanpa ampun. Semua dikemas rapi sesuai semangat hidupnya: hit and run.

Namun, langgamnya film-film bernafaskan serie noire  memang sungguh tak mudah mencerna jalinan cerita film produksi Hollywood namun dengan citarasa Inggris ini. Dengan mengambil ide cerita dari novel bertajuk Cogan’s Trade karangan George V. Higgins, sutradara Andrew Dominik mau tegas mengkasting bintang tampan ini sebagai pembunuh bayaran dengan komitmen tinggi: membunuh tanpa jejak dan tanpa ampun.

Kisah kelam ini bermula ketika Markie Trattman (Ray Liotta) diam-diam memperkerjakan dua orang untuk merampok sebuah geng judi yang dia rintis sendiri. Dengan begitu, dia berhasil merampok duit jarahan dari kawan-kawan sendiri.

Nah, pola perampokan sama juga ditiru oleh Johnny “Squirrel” Amato (Vincent Curatola) yang terang-terangan menyuruh Frankie (Scoot McNairy) dan Russell (Ben Mendelsohn) untuk merancang aksi sama di geng judi pimpinan Markie. Dan itu berhasil.

Sampai di sini muncullah tokoh bernama Driver (Richard Jenkins) yang bernafsu agar praktik-praktik memukul dengan pinjam tangan orang lain itu segera diakhiri. Untuk keperluan ini, dia berkepentingan bertemu dengan Jack Cogan (Brad Pitt), pembunuh bayaran berdarah dingin.

Selanjutnya memang hanya satu-dua adegan bengis ketika Jack menghabisi orang-orang yang layak dibunuh dengan sadis tanpa jejak.

Tak lazim sebuah film action, nafas utama Killing Them Slowly sungguh merupakan sebuah jalinan cerita yang cukup rumit untuk diselami. Apalagi ketika film bergulir, berbagai kutipan omongan dari Presiden George W. Bush dan Obama berulang kali bersliweran di layar lebar sekedar untuk meramaikan suasana setting film ini dimana Amerika tengah dilanda resesi ekonomi.

Untuk masyarakat Eropa dan Amerika yang mengakrabi suasana kelesuan ekonomi seperti itu, film ini memang bicara banyak. Untuk orang Indonesia, film ini membosankan sekalipun pakai nama embel-embel Brad Pitt segala.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.