Ketika Garam Krisis PD


Ketika Garam Krisis PD


SUDAH beberapa hari ini, Garam merasa lesu. Dia melaksanakan tugasnya di dapur dengan asal-asalan, semua rasa masakan jadi agak kacau…kadang kelewat asin, kadang malah terlalu hambar. Gula sebagai sahabat lama, merasa penasaran; ada apa sih dengan Garam?


Suatu malam, saat semua bumbu dapur lainnya terlelap. Gula mendekati Garam yang sedang duduk termenung di jendela dapur, sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang.


“Hai Bro, kulihat akhir-akhir ini kau tampak stress Ada apa sih?” kata Gula sambil duduk disebelah Garam.


“Hhhh…gue berasa tua, ketinggalan jaman dan gak penting Bro…!” jawab Garam dengan lirih.


“Lho, kok tiba-tiba jadi down gitu sih?” Gula menatap sahabatnya dengan bingung.


“Lah, kau liat aja tuh. Sekarang Dapur kita dah gak sama seperti dulu. Sekarang banyak banget temen baru yang kayaknya lebih nge-hits dari pada kita.”


“Siapa maksudnya?” Gula mengerutkan kening dengan heran.


“Ya banyaklah. Ada Soy Sauce, Teriyaki Sauce dan Wasabi dari Jepang. Ada Garam Masala, Green Curry dari India. Ada Mayonnaise, Mustard, Barbeque Sauce dan Thousand Island atau Caesar Salad Dressing dari USA. Ada Salsa Sauce dari Mexico. Ada Sesame Oil, Oyster Sauce, Sechuan Sauce dari China. Ada Worchester Sauce dari Inggris, ada juga Olive Oil dari Italia…” suara Garam semakin lirih, kepalanya tertunduk lesu.


“Oooh…teman-teman baru itu maksudmu? Memangnya kenapa? Malah seru kan? Sejak ada mereka, malah bisa ekplorasi menu masakan manca negara” Gula tersenyum lebar.


Garam menatap sahabatnya dengan heran, “Ya justru karena itu!”


Melihat ekspresi Gula yang masih bingung, Garam dengan gemas menambahkan,”Bila semua bumbu asing yang katamu ‘seru’ itu mengambil alih Dapur kita, mana ada lagi tempat buat ‘bumbu kuno’ seperti kamu dan aku? Begitu juga teman-teman lama kita seperti Lada, Kemiri, Ketumbar, Jahe dan Kunyit? Pasti sebentar lagi tergusur dari tempat kita di Lemari Bumbu itu.”


Gula menarik nafas panjang. “Ya ampun…jadi kamu itu lagi krisis percaya diri toh?! Kamu pikir semua bumbu-bumbu itu akan menggantikan dirimu semudah itu?”


“Pastilah…cuma tunggu waktu aja,” sahut Garam dengan wajah semakin muram.


Gula menggeleng-gelengkan kepalanya, “Hai Garam, kamu ini bodoh sekali. Sudah dari sononya Gusti Allah itu mengaruniakan kamu ‘rasa asin’. Tak ada bumbu lain yang punya ‘rasa asin’ selain kamu. Sama seperti aku yang dikaruniakan ‘rasa manis’, gak ada bumbu lain yang rasanya manis. Aku sampai kapanpun gak akan bisa berubah jadi ‘asin’ dan sebaliknya kamu sampai kapanpun gak akan bisa berubah jadi ‘manis’. Kita semua punya peran sendiri-sendiri.”


Melihat Garam yang masih diam, Gula melanjutkan,”Kamu juga jangan semudah itu lupa akan jasa-jasamu. Sudah ratusan tahun kamu dipakai untuk mengawetkan makanan. Membuat dendeng asap, ikan asin, acar hingga bisa disimpan dalam waktu lama. Memangnya bumbu lain bisa begitu? Bahkan aku-pun tidak bisa!” lanjut Gula dengan sedikit gemas.


“Satu-satunya yang bisa membuat kamu itu di-deportasi dari Dapur adalah kalau kamu tidak serius menjalankan tugasmu, seperti belakangan ini. Semua masakan seringkali ‘kebanyakan garam’ atau malah hambar karena ‘kekurangan garam’.” Gula menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Masa sih?” Garam terhentak kaget.


“Ya iyalah! Makanya gak usah terpengaruh sama yang lain, biar saja. Semua punya porsi dan tugas masing-masing. Tugasmu yang utama dan terutama adalah memberikan dirimu dengan ‘pas takaran-nya’. Bekerja sama dengan bumbu-bumbu lain, sehingga tercipta keseimbangan rasa yang pas sehingga masakan apapun yang dimasak, semua terasa lezat dan nikmat!” Garam mulai manggut-manggut.


“Globalisasi terus berjalan, besok-besok akan semakin banyak berdatangan bumbu-bumbu asing lainnya. Tapi kamu gak usah cemas, apalagi jadi merasa rendah diri. Kamu itu unik dan istimewa. Bila kamu mau rendah hati dan membuka diri, pastilah kamu bisa bekerjasama dengan siapapun di Dapur ini.” Gula menepuk-nepuk pundak sahabatnya, lalu menguap lebar.


“Istirahat yuk. Tenangkan hati, tenangkan pikiran. Serahkan semua pada Gusti Allah, Dia yang Maha Tahu.”


Garam ikut-ikutan menguap,”Thank you ya Bro! Kau benar, mulai besok aku akan berusaha keras mengerjakan tugas yang sudah dipercayakan Gusti Allah kepadaku sejak semula, menjadi garam yang ‘rasa asin’-nya pas, sehingga semua masakan terasa lezat, dan dengan demikian bisa memberi kebahagiaan buat siapapun yang menyantapnya.”


“Gitu dooong….” Gula menepuk pundak sahabatnya.


Dengan langkah yang lebih ringan, kedua sahabat itu melangkah bersama menuju lemari dapur untuk beristirahat. Setelah beberapa malam menderita Insomnia, malam itu akhirnya Garam bisa kembali tidur dengan nyenyak.


Fransisca Lenny, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang, Graphic designer, Writer


Baca di Hidupkatolik.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.