YESUS mengisahkan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Dalam doanya, orang Farisi selalu mengagungkan dirinya dan mencela orang lain. Sedangkan pemungut cukai menyadari kesalahan dan dosanya, menyesalinya dan memohon belas kasih Tuhan. Tuhan berkenan kepada sikap pemungut cukai.

Perumpamaan ini mengajak kita untuk bersikap rendah hati, jangan meneladani kesombongan orang Farisi. Meskipun kita sudah berulang kali membaca habis seluruh kitab suci, rajin berdoa dan setia ke gereja, aktif melayani dan sering memberi amal kasih, jangan pernah menganggap diri kita lebih baik dan lebih saleh daripada orang lain. Karena sikap seperti ini menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan instrospeksi diri, kita merasa sudah hidup suci sehingga tidak memerlukan pertobatan.

Sadari bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna, yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Kita bergantung kepada kemurahan hati Allah. Mari bertobat dan perbaiki sikap hidup kita, berjuanglah dengan sungguh-sungguh untuk:

Tidak menghakimi orang lain, karena kita tidak dapat menyelami pikiran hati dan hati mereka.Tidak meninggikan diri kita di hadapan Allah, karena Ia sangat mengetahui seluruh pikiran dan isi hati kita yang terdalam.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Sumber: Sesawi

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.