Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
“Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something’s still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. “Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.

Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

“Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” (2 Korintus 13:11)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.