Kesempatan yang Sama (1)

Ayat bacaan: Matius 21:31
=====================
“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Ada seseorang yang cukup punya nama sekitar tahun lalu mengagetkan banyak orang karena tiba-tiba secara jelas menunjukkan keimanannya kepada Yesus di sebuah jejaring sosial miliknya. Saya pun termasuk yang kaget, terutama karena saya tahu betapa sinisnya ia kepada iman kekristenan di waktu lalu. Ia bisa mengeluarkan kata-kata menyindir begitu saja tanpa alasan jelas, menolak tampil bersama rekan-rekannya yang berbeda keyakinan dan berbagai bentuk sikap lain. Karena itulah saya terkejut ketika melihat fotonya saat dibaptis. Ketika saya tanyakan, ia bercerita bahwa sepanjang hidupnya ia merasakan kekosongan yang membuat sikap sinis mudah muncul dalam dirinya. Ditambah lagi bentuk-bentuk ajaran yang ditanamkan sejak kecil bahwa ia tidak boleh berteman; kalau tidak memusuhi; orang yang berbeda keyakinan. Ia menjadi pembenci dan itu membuat dirinya semakin jauh dari rasa bahagia, meski secara finansial ia bisa dikatakan lebih dari cukup. Dan sekarang ia merasakan sebuah transformasi menyeluruh yang prosesnya berlangsung relatif cepat. Saat saya tanyakan apakah ia tidak takut dihujat oleh kerabat atau masyarakat, ia berkata “untuk apa takut? saya hanya takut kepada Tuhan. Supaya kamu tahu, sikap kasar seperti itulah yang membuat saya akhirnya mencari tahu seperti apa hidup dalam Kristus dan kemudian memutuskan untuk mengikutiNya.” Ia sudah tidak muda lagi, bahkan sudah memasuki masa senja. Tapi ternyata kesempatan untuk beroleh keselamatan tetap terbuka baginya dan keputusannya membawanya untuk menerima semua yang telah diperjuangkan Kristus lewat karya penebusanNya dua ribuan tahun lalu.

Secara logika, ia bukanlah termasuk orang yang mungkin untuk mengenal kebenaran, mengacu kepada sikap-sikap yang ia tunjukkan dahulu. Tidak pernah dibayangkan kalau ia ternyata menerima anugerah keselamatan. Pada sisi lain, ada banyak orang yang mungkin menganggap dirinya sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa sehingga pintu kesempatan untuk selamat tidak akan mungkin lagi dibukakan baginya. Tapi dengarlah, siapapun bisa mendapatkan keselamatan selama orang itu mau mempergunakan kesempatan yang masih ada untuk berbalik jalan, mengakui semua perkara di hadapan Tuhan dan bertobat dengan kesungguhan hati yang utuh.

Mungkin ada banyak di antara kita yang terlalu mudah menghakimi orang lain, menganggap bahwa dosa mereka jauh lebih besar dari kita, sehingga terburu-buru menganggap bahwa mereka sudah pasti berakhir di sisi yang lain. Kita menganggap si A mungkin, si B tidak mungkin menurut pemikiran kita sendiri. Pada kenyataannya saya sudah menyaksikan begitu banyak orang-orang yang termasuk dalam kategori ‘tidak mungkin’ ini kemudian mengalami anugerah besar untuk mengenal Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Paulus kalau dilihat dari track recordnya juga sulit dibayangkan bisa bertobat, tetapi bukan saja ia berbalik kepada terang, tetapi ia pun menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam keimanan Kristen. Sulit dibayangkan apa jadinya apabila tidak ada Paulus. Dia bukan seperti Timotius yang memang sudah mengenal Kristus sejak masa mudanya, tapi meski masa lalunya kelam, Paulus juga ternyata mendapat kesempatan yang sama untuk selamat. Keputusannya untuk membaktikan sisa hidupnya kepada penyebaran berita keselamatan hingga menyentuh daerah-daerah yang jauh dari asalnya menjadi sebuah keputusan yang dampaknya masih kita rasakan hingga hari ini.

Saya tertarik untuk mengangkat sebuah perumpamaan singkat namun dalam maknanya yang disampaikan oleh Yesus sendiri, yaitu perumpamaan tentang dua orang anak. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini di hadapan para imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang merasa diri mereka paling alim di antara yang lainnya, yang begitu mudahnya menghakimi orang lain.

Yesus berkata demikian: “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.” (Matius 21:28). Inilah pembuka perumpamaan itu. Ketika anak sulung itu diminta untuk bekerja di kebun anggur, ternyata anak sulung itu menolak. (ay 29). Mungkin anak sulung menganggap bahwa sebagai anak tertua ia sudah pasti mendapatkan segalanya sehingga ia tidak perlu lagi repot-repot mengusahakan sendiri. Anak sulung itu tentu tahu ia wajib melakukan kehendak ayahnya, tapi ia tidak melakukannya karena merasa dirinya sudah aman. Lalu sang ayah mendatangi anak keduanya dan mengulangi permintaannya. Tanggapan si anak kedua ternyata berbeda. Mulanya menolak, namun kemudian ia menyesal dan menuruti permintaan ayahnya. “Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.” (ay 30). Ada perbedaan nyata antara sikap keduanya. Yesus pun kemudian menanyakan pendapat para imam dan tua-tua Yahudi: “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (ay 31). Mengapa? Inilah sebabnya: “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (ay 32).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.