Keramahtamahan

Ayat bacaan: 3 Yohanes 1:5
==================
“Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.”

ramah tamah, keramahtamahan

Seberapa jauh anda mengenal tetangga disekitar rumah anda? Apakah anda tahu namanya, dimana ia bekerja, atau berapa orang jumlah mereka sekeluarga? Pada kenyataannya individualisme semakin menjamur menguasai kita terutama ketika kita tinggal di kota-kota besar. Kita tidak lagi peduli kepada orang-orang yang tinggal dekat dengan kita. Untuk tahu namanya saja tidak lagi merasa perlu, apalagi mengetahui kesulitan-kesulitan yang mungkin sedang mereka alami. Ada bahkan yang membuang muka ketika berpapasan, dan akan menatap curiga jika mereka datang berkunjung. Pola kehidupan individualis seperti ini membuat kita seolah-olah mendirikan tembok-tembok tinggi di sekitar kita. Duduk di halaman belakang yang dibatasi tembok tinggi agar tidak perlu berpapasan mata dengan tegangga, atau buru-buru masuk ke dalam rumah tanpa melihat atau menyapa orang lain. Segala kesibukan kerja dan aktivitas lainnya membuat kita merasa membuang-buang waktu untuk sekedar bersosialisasi dengan tetangga di sekitar kita. Masing-masing punya dunianya sendiri yang sangat terjaga privasinya. Meski jumlah penduduk dunia semakin bertambah, tetapi kehangatannya justru semakin berkurang. Sepi. Dunia semakin lama semakin kehilangan keramahannya, semakin dingin dan terasing. 

“Tetapi tetanggaku sombong!” “Mereka tidak berminat kenal denganku, lalu untuk apa dekat dengan mereka?” Itu bisa menjadi alasan yang sering kita dengar. Perbedaan pekerjaan/kesibukan, status, suku, atau kepercayaan hingga perbedaan lainnya, itu akan menjadi alasan lainnya yang kita jadikan dasar pembenaran untuk tidak perlu mengenal mereka lebih jauh. Mengapa kita tidak lagi berpikir untuk mengulurkan salam persahabatan terlebih dahulu dan lebih berminat untuk mencari alasan menjauh dari mereka? Keramahtamahan merupakan budaya bangsa kita sejak dahulu, tetapi mengapa kita justru semakin lama semakin eksklusif dan individualis? Terlebih firman-firman Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap dingin, kaku atau bahkan kasar. Tetapi mengapa kita yang mengaku anak-anak Tuhan pun masih sanggup bersikap seperti itu?

Jika kita melihat kisah kehidupan para tokoh yang tercatat di dalam Alkitab, maka kita akan menemukan banyak bagian yang menekankan sikap ramahtamah, sabar dan rendah hati. Lihatlah bapa orang beriman, Abraham. Ia tidak merasa perlu untuk bersikap eksklusif sama sekali. Ia membuka pintu bagi orang asing. Dalam Kejadian 18:1-15 kita bisa melihat bagaimana respon Abraham yang sudah tua ketika didatangi oleh tiga orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Abraham tua saat itu tengah duduk di pintu kemahnya dekat pohon tarbantin. Ia sedang melepas lelah dan mencari tempat teduh untuk beristirahat ditengah panas terik tengah hari. Tapi Abraham langsung bergegas untuk membuka pintu kemahnya dan menjamu tamu yang datang itu dengan baik. Ia segera mengambil air untuk membasuh kaki tamunya dan menawarkan mereka untuk beristirahat sejenak (ay 4), menyediakan makanan yang terbaik yang ia punya buat mereka (ay 5-8). Dan pada akhir dari bagian ini kita melihat datangnya janji penting dari Allah untuk dirinya dan istrinya. Ketika Yesus datang ke dunia, kita melihat sikap keramahan yang luar biasa pula. Yesus sangat suka mengambil bagian yang menunjukkan keramahtamahan, bahkan dari orang-orang yang berdosa, tertolak atau dikucilkan sekalipun. Lihatlah ayat berikut salah satunya: “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” (Matius 9:10). Ini sebuah perbuatan yang membuat Yesus harus rela dikritik atau dihujat oleh para pemuka dan petinggi agama waktu itu. Sungguhpun demikian, Yesus tidak peduli sama sekali terhadap hujatan mereka. Yesus terus dengan ramah berkunjung ke rumah mereka, bahkan makan bersama-sama dengan mereka, dan kita bisa melihat mereka kemudian bertobat, dipulihkan dan diselamatkan. Bayangkan jika Yesus memilih untuk bersikap eksklusif dan merasa bahwa manusia bukanlah sosok yang layak untuk diselamatkan. Bayangkan jika Yesus lebih tertarik untuk menekankan perbedaan status dan tidak peduli kepada keselamatan manusia. Bayangkan jika Yesus berkata, “buat apa? toh semua salahmu sendiri. Terima saja akibatnya..” Jika itu terjadi, maka tamatlah kita. Tapi Yesus tidak melakukan itu. Ia terus bergerak melimpahi belas kasihanNya kemana-mana, sesuai dengan apa yang menjadi panggilanNya dari Allah Bapa. Menyembuhkan, menolong, membuat mukjizat, berkotbah, menjamah hati orang banyak, bahkan merelakan diriNya sendiri menggantikan kita semua. Yesus menunjukkan sikap keramahan yang luar biasa dengan dasar kasihNya yang begitu besar kepada semua manusia tanpa terkecuali. Jika Tuhan saja seperti itu, mengapa kita malah bersikap sebaliknya dalam memandang sesama kita?

Di dalam dunia yang semakin terasing dan dingin ini, keramahtamahan merupakan kesempatan buat kita untuk menyatakan atau menyampaikan kasih Kristus kepada sesama kita. Keramahtamahan bisa mengubah orang asing menjadi teman, bahkan yang tadinya musuh sekalipun. Keramahtamahan bisa menjadi penghangat bagi kesendirian atau kesepian. Keramahtamahan bisa membuat kita merasakan tingkat pertemanan yang jauh lebih dalam dari yang kita pikirkan. Keramahtamahan merupakan kesemptan untuk berbagi makanan dan hati bersama. Keramahtamahan bisa menjadi awal bagi kesembuhan dan pemulihan, dan lain-lain. Ada banyak hal yang bisa kita capai dari perubahan sikap hati kita untuk menjadi pribadi yang ramah, bukan saja terhadap orang lain tetapi sangat bermanfaat bagi kita sendiri juga. Yang jelas panggilan untuk itu merupakan sesuatu yang penting untuk kita miliki dan lakukan dalam hidup kita. Yohanes mengatakan “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.” (3 Yohanes 1:5). Berbuat segala sesuatu kepada sesama, bahkan kepada orang-orang asing sekalipun. Ini merupakan bentuk yang mencerminkan orang percaya.

Bagaimana pandangan Tuhan terhadap pribadi anak-anakNya yang ramah? Lihat apa kata Yesus berikut: “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Matius 10:42). Ada upah yang disediakan Tuhan atas keramahtamahan kita. Dalam Galatia kita bisa menemukan pula sebuah peringatan penting untuk selalu kita ingat: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Atau lihatlah ayat berikut: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:2).

Keramahtamahan merupakan bagian penting dari sikap hidup orang percaya. Kita diingatkan:  “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32). Mungkin berbagai kesibukan bisa membuat kita melupakan hal ini. Mungkin kita merasa tidak cukup mampu untuk berbagi apa-apa sehingga kita lebih cenderung menarik diri. Atau malah kita merasa mampu untuk melakukan segalanya sendirian sehingga tidak lagi butuh orang lain. Tapi kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang sudah seharusnya saling berinteraksi, saling dukung, saling mengingatkan dan saling membangun untuk bisa menapak ke jenjang kehidupan yang lebih baik. Dibutuhkan sebuah keputusan untuk mulai berpikir untuk mengasihi orang lain, dan itu bisa dimulai dengan menerapkan sikap ramah tamah kepada orang lain. Mulailah dengan orang-orang terdekat dengan anda seperti tetangga. Kita bisa mulai melakukan sesuatu untuk membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih hangat dan bersahabat.

Sikap individualisme membuat dunia semakin dingin dan terasing

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.