Keragaman Karakter Manusia dan Amanat Agung (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.

Dunia saat ini berisi milyaran jiwa. Kalau tahun 2012 saja jumlahnya sudah mencapai 7 milyar, saat ini entah sudah berapa jumlahnya. Sekiranya saat ini ada 8 milyar, berarti ada 8 milyar orang dengan sifat, gaya, tingkah, polah, sikap dan perilaku berbeda. Mungkin kita bisa mencari persamaan, tetapi tidak akan ada satupun yang persis sama. Kalau angka 8 milyar terdengar terlalu besar, lihatlah dalam lingkungan kerja, sekolah/kampus atau lingkungan sekitar rumah anda. Dalam skala yang jauh lebih kecil ini saja kita akan mendapati beragam orang dengan beragam gaya. Ada yang cocok dan bisa langsung dekat dengan kita, ada yang sifatnya sangat jauh berbeda sehingga sulit untuk didekati. Ada yang kita suka, ada yang biasa saja, ada yang kurang cocok dan ada yang kalau bisa kita hindari saja. Saat saya masih mengajar, setiap ada kelas baru saya bertemu dengan sekelompok orang dengan beragam sifat. Ada yang mudah diajar, ada yang tidak. Ada yang rajin, ada yang malas. Ada yang pendiam, ada yang heboh. Belum lagi kalau saya sudah mengenal mereka lebih dekat, maka masalah mereka pun tidak akan ada yang persis sama. Ada yang lamban menangkap pelajaran, ada yang cepat. Ada yang cepat tapi bermasalah dengan percaya diri, ada yang terlalu pede tapi salah melulu. Wah, macam-macam pokoknya karakter orang.

Anda bisa bayangkan ketika Yesus menyampaikan Amanat Agungnya yaitu bagi kita untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya seperti yang dicatat oleh Matius dalam pasal 28:19-20. Di lingkungan kecil saja kita sudah susah cocok dengan semua kalangan, bagaimana jadinya kalau kita menjalankan Amanat Agung Yesus hingga ke seluruh pelosok dunia? Anda bisa bayangkan skala yang lebih kecil saja, pendeta dan gembala. Domba yang dititipkan Tuhan menjadi tanggung jawab mereka berbeda-beda karakternya. Tugas mereka sulit, apalagi kalau berhadapan dengan orang-orang keras kepala/hati, bandel atau yang hobinya melawan. Saya pernah menanyakan hal itu kepada seorang gembala. Ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu merupakan panggilan dan ia harus menjalaninya dengan hati hamba. Tidak ada orang yang sulit, katanya, karena kasih tidak pernah gagal. Apa yang ia katakan mengacu kepada ayat dalam 1 Korintus 13:8. Menjalaninya mungkin tidak semudah itu, tapi dengan memiliki hati hamba, menghadapi mereka yang berbeda-beda dengan kerendahan hati dan kasih Allah yang mengalir dalam diri, itu akan memampukan kita. Sebuah hati yang tidak lagi mementingkan diri sendiri, sudah melepaskan ke’aku’an, berorientasi melayani atas dasar kasih akan membuat kita memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi orang-orang yang beragam karakter atau sifatnya.

Keragaman manusia merupakan rahmat Tuhan yang luar biasa dan seharusnya tidak dijadikan penghalang atau penghambat kita untuk maju, demikian pula untuk menjalankan Amanat Agung. Tuhan menciptakan manusia dengan penuh keragaman. Banyak orang yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menghujat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya dengan sekat pembatas karena menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Berbeda denominasi bisa membuat orang saling memandang sinis satu sama lain. Padahal seharusnya kita tidak boleh berlaku demikian.

Semua anak-anak Tuhan punya tugas dan kapasitasnya masing-masing, terlepas dari perbedaan tata cara peribadatan masing-masing. Dan kita pun memiliki tugasnya sendiri-sendiri juga. Paulus mengatakannya seperti ini: “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.