Kepemimpinan Pemaaf Model Paus Fransiskus (4)

Paus Fransiskus dan pesan kerahiman Allah. (ist)

Merciful vision

Sejak awal masa kepausannya, Paus Fransiskus telah menyatakan betapa pentingnya kelemahlembutan dan kehangatan hati dalam mendekati orang lain.  Kotbah pada Peringatan St. Yosep  tanggal 19 Maret 2013 menyiratkan hal ini.

“Kelembutan yang besar ini bukan kelemahan tapi lebih merupakan tanda dari roh yang kuat dan kapasitas untuk memperhatikan, untuk berbelas kasih, untuk keterbukaan yang luas untuk orang lain, untuk cinta.  Kita mesti tidak takut pada kebaikan, kelemahlembutan,”  kata Paus Fransiskus beberapa tahun silam.

Sikap kelemahlembutan itu ditampilkan dalam hal nyata. “Hal yang dibutuhkan oleh Gereja pada saat ini adalah kemampuan untuk menyembuhkan luka-luka dan memberi kehangatan hati kepada umat beriman, dan kebutuhan ini membutuhkan kedekatan serta keakraban.” (America, 30/09/13).

paus mencium kakiAlih-alih merayakan Kamis Putih di Vatikan, Paus Fransiskus memilih ‘tradisi’ baru yakni merayakan Misa Kamis Putih di luar Vatikan: di penjara atau tempat lain dan mencium kaki orang yang dibasuhnya. (Ist)

Baca juga: 

Maka kunci pelayanan para pemimpin Gereja ialah kelemahlembutan dan kehangatan hati yang dipadatkan dalam pelayan kerahiman atau pelayan yang berbelaskasih untuk bertanggung jawab atas orang, dan menemani umat selayaknya orang Samaria yang baik hati, yang membasuh, membersihkan, dan mengangkat sesamanya.

Kerahiman begitu penting bagi mereka yang telah meninggalkan Gereja.

Kata Paus Fransiskus:

“Kita membutuhkan orang-orang Kristen yang membawa kerahiman Allah dan kelembutan kepada setiap ciptaan yang terlihat bagi manusia zaman kita.  Kita semua tahu bahwa krisis dunia modern itu bukan persoalan superficial tetapi mendasar.  Inilah mengapa evangelisasi baru mengundang kita untuk memiliki keberanian berenang melawan arus dan mengalihkan dewa-dewa pujaan kepada Allah sejati.  Tidak bisa tidak, hanya dengan bahasa kerahiman yang diungkapan dalam ‘gesture dan sikap’ di atas perkataan.”

“Gereja harus menjadi tempat bagi kerahiman secara gratis diberikan, dimana setiap orang dapat merasakan salam penyambutan yang hangat, diampuni, dan didorong untuk menghidupi hidup yang baik dari Injil” (EG 114).

Paus Fransiskus menunjukkan sikap kerahiman dengan memberi atensi penuh kepada orang sakit. (Ist)Paus Fransiskus menunjukkan sikap kerahiman dengan memberi atensi penuh kepada orang sakit. (Ist)

Mengubah hati manusia

Paus Fransiskus yakin seperti berikut ini.

“Kerahiman Allah mengubah hati manusia; ia memungkinkan kita, melalui pengalaman kasih yang setia, pada gilirannya menjadi penuh kerahiman.  Dalam sebuah mukjizat yang sesungguhnya baru, kerahiman Allah bersinar keluar dalam kehidupan kita, mengilhami kita masing-masing untuk mengasihi sesama kita dan untuk mengabdikan diri kita terhadap apa yang disebut tradisi Gereja karya-karya kerahiman rohani dan jasmani.  Karya-karya ini mengingatkan kita bahwa iman menemukan ungkapan dalam tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dimaksudkan untuk membantu sesama kita dalam tubuh dan jiwa: dengan memberi makan, mengunjungi, menghibur dan memberi mereka petunjuk (Misericordiae Vultus, 15).”

“Karena dalam orang miskin, daging Kristus “menjadi kelihatan dalam daging orang-orang yang tersiksa, orang-orang yang remuk redam, orang-orang yang terhukum, orang-orang yang kurang gizi, dan orang-orang yang terasing … untuk diakui, dijamah, dan dirawat oleh kita” (Misericordiae Vultus, 15)

Pertobatan hanya mungkin kalau orang bersentuhan dengan kerahiman Allah.  Allah yang diimani itu berwajah seperti yang digambarkan dalam Kitab Suci:

“Ia maharahim dan berbelas kasih lambat akan murka dan teguh kuat cinta dan setia.” (Kel 32.1-14, 34. 6-9).

“Allah bukan manusia maka tidak melaksanakan murka.” (Hos 11.9).

Hal ini dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam suratnya menyambut Tahun Kerahiman:

“…kasih Allah ialah kasih yang utama.  Kasih ini mengalir dari kedalaman secara alami, penuh kelembutan dan belaskasih, pengampunan dan kerahiman.”

Iman akan Allah yang berbelaskasih penuh kerahiman inilah yang semestinya menjadi jiwa Gereja sehingga kata-sikap-tindakan gereja mencerminkan hal tersebut. Jika Gereja bertindak penuh kerahiman seperti Allah yang penuh kerahiman maka mereka yang kehilangan harapan dan tertekan oleh situasi dosa tidak takut untuk “berbalik” kepada Allah melalui Gereja.

Leading by action

Perubahan atau pembaharuan menyangkut dua elemen dasar yakni kesadaran reflektif dan kesadaran praktis.  Kesadaran reflektif terjadi dimana seseorang memahami atas apa yang terjadi dalam hidup atau peristiwa atau yang mereka lakukan secara terus menerus.  Sedang kesadaran praktis menyangkut segala hal yang dibuat oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari atau rutinitas tanpa diskursif langsung.

Dalam merciful leadership pengenalan-pengalaman akan kerahiman terjadi dalam level reflektif atau tataran diskursif dimana seseorang mengamini kebenaran Allah itu berbelaskasih dan maharahim.  Hal ini dapat terjadi dalam rekoleksi, renungan pribadi, kotbah, sakramen tobat, atau seminar.  Kesadaran reflektif atau diskursif ini berperan dalam memotif kesadaran praktis orang beriman.  Pengenalan-pengalaman akan kerahiman Allah mendorong “kata-sikap-tindakan” Gereja untuk berhadapan dengan dunia.

Menyayangi anak-anak.Menyayangi anak-anak.

Dalam banyak kesempatan, Paus Fransiskus memberikan teladan tindakan dan gerak-gerik bagaimana merciful leadership itu dimanifestasikan.  Apa yang dibuat oleh Paus lewat gesture-nya terhadap mereka yang berada di periphery (ujung-pinggiran): membasuh kaki orang di penjara, mengunjungi daerah prostitusi di Brasil, menerima para imigran Suriah, tidak memakai sepatu warna merah, mengajak sarapan para gelandangan, memeluk Vinicio Riva yang terkena neurofibramotis, senyum kepada seorang anak yang duduk di kursinya selama ia berkotbah, audiensi dengan korban sexual abuse para klerus dsb, rupanya menjadi sorotan penting dunia.

Dunia mengamati gerak-geriknya untuk mengungkapkan “rahasia” di baliknya.  Nyatanya, gesture itu memberi inspirasi, didiskusikan oleh dunia dan sarana efektif untuk pewartaan.

Tentang gesture

Untuk menyampaikan kerahiman Allah memang dapat terjadi dalam kesalehan ritual (ibadat, doa, devosi, dan olah laku rohani tertentu), namun mengamati yang dilakukan oleh Paus Fransiskus, tak kalah penting ialah gesture –tindakan nyata.

Gesture biasa dimengerti sebagai gerakan anggota tubuh untuk mengekspresikan perasaan atau emosi.  Namun juga bisa diartikan komunikasi tubuh untuk menyampaikan isi hati.  Seperti Yesus, pewahyuan belaskasih dan kerahiman Allah justru terjadi dalam gerak-gerik Yesus dalam memperlakukan para pendosa, orang sakit, miskin, tersisih, dan bangsa lain, dan puncaknya di kayu salib.

Dalam dunia psikologi, gerak-gerik sesungguhnya merepresentasikan secara simbolis pikiran, karakter, perasaan, dan keyakinan seseorang.  Gesture merupakan hal yang dapat langsung dilihat, diamati, tetapi juga mult iinterpretasi.

Membiarkan anak kecil bertingkah tanpa harus terganggu.Membiarkan anak kecil bertingkah tanpa harus terganggu.

Penelitian melaporkan bahwa dalam komunikasi, peran non-verbal (postur tubuh, mimik wajah, gerak-gerik dan sikap) mencapai 55% ketimbang komunikasi verbal yang hanya 7%.  Selebihnya volume suara dan intonasi (paraverbal) memainkan peran 38%.  Non-verbal dan paraverbal biasa juga disebut sebagai “kata-kata di balik kata-kata” atau metalanguage.

Data penelitian menyatakan bahwa peran gesture sangat signifikan dalam kepemimpinan.

Gesture dan tindakan menyangkut rutinitas atau aktivitas sehari-hari.  Dalam teori sosial, aktivitas yang diulang-ulang cenderung membentuk ritual kehidupan sosial sehari-hari.  Aktivitas ini tentu mengandaikan konsistensi.  Konsistensi yang disertai dengan kesadaran reflektif tentang kerahiman Allah akan terus menerus mendorong orang beriman untuk berubah sehingga ia akan mentransformasi ritual kehidupan.  Kesadaran reflektif ini semacam monitor terhadap gesture dan tindakan.

Kesimpulan

Apa yang dapat kita petik kemudian dari pelajaran Paus Fransiskus di atas?

Salah satu model kepemimpinan untuk mendorong pembaharuan dalam penggembalaan umat ialah melalui gerak-gerik tubuh. Dalam Gereja Katolik, gerak-gerik tubuh para gembala memiliki peran esensial.  Tindakan dan gesture gembala menyatakan kerahiman Allah dan menjawab kebutuhan orang akan kerahiman Allah.  Orang membutuhkan penerimaan, pengampunan, dan penebusan.

Maka benar yang dikatakan oleh James MacGregor:

“Ujian yang paling ampuh dari praktik kepemimpinan ialah realisasi dari harapan, perubahan nyata yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang.”

Jadi kepemimpinan yang besar pertama-tama ialah membantu pemenuhan kebutuhan orang lain. Gereja membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia yakni Kasih Allah.

avatar Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.