Kepala Rumah Tangga

Ayat bacaan: Hakim-Hakim 11:2
========================
“Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: “Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.”

kepala rumah tangga, suami, ayah

Sebagai kepala rumah tangga, suami dari istri, ayah dari anak, bagaimana kita para pria sudah bersikap? Ada otoritas yang begitu besar diberikan kepada pria dalam sebuah ikatan keluarga. Dikatakan “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” (Efesus 5:23), sehingga istri diminta untuk “tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan.” (ay 22). Sepintas terlihat bahwa pria berada jauh pada tingkat ke-absolut-an di atas istri dan anak-anaknya. Dan seringkali pula hal ini dijadikan dasar untuk bertindak sewenang-wenang dalam rumah tangga. Ada banyak suami yang hanya menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban. Bertindak seenaknya, bahkan pilih kasih terhadap anak-anaknya,sehingga rumah tangga bukan lagi menjadi cerminan Surga yang penuh kasih dan kebahagiaan dalam sukacita, tapi berubah menjadi neraka dunia. Ketika sang ayah pulang, anak-anak langsung kabur ke dalam kamar masing-masing. Seolah-olah awan gelap langsung menutupi rumah lewat kepulangan sang kepala rumah tangga. Hidup pria memang tidak mudah. Di satu sisi kita harus bekerja keras mencukupi kebutuhan rumah tangga, di sisi lain kita harus menjadi sosok bijaksana yang mampu me-manage rumah tangga sebaik mungkin. Dalam banyak hal, bagaimana sikap ayah di rumah akan berpengaruh banyak pada suasana di rumah. Well, life is never easy. Itu yang saya tahu. Sulitnya sebagai ayah, atau dalam kasus saya yang belum punya anak, menjadi suami dan kepala rumah tangga, bukan berarti saya punya alasan untuk melepas tanggungjawab untuk memelihara keharmonisan dan kehangatan rumah tangga. Otoritas yang diberikan ke pundak kita para pria adalah sesuatu yang perlu kita hormati dengan sebentuk tanggung jawab kepada Tuhan yang memberikan, bukan memakainya sebagai alat untuk bertindak seenaknya dan melepas tanggung jawab itu.

Menyambung sedikit renungan kemarin, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kejadian Yefta dari sisi sang ayah, Gilead. Gilead melakukan kesalahan fatal, yakni berzinah dengan wanita pelacur, hingga wanita ini mengandung. Yefta pun lahir. Ia adalah sebuah produk kesalahan, yang sayangnya tidak mau ditanggung oleh si pelaku, ayahnya sendiri. Apalah salah Yefta ketika ia dilahirkan sebagai the unwanted child? Semua terjadi diluar keinginannya. Tentu ia ingin hidup wajar seperti saudara-saudaranya atau anak-anak lain pada umumnya. Tapi kenyataan tidaklah demikian. Hal ini diperparah dengan sikap yang ditunjukkan ayahnya. Gilead sama sekali tidak bereaksi apa-apa ketika ia diusir. Gilead berani berbuat, namun tidak berani bertanggung jawab. Ia mengelak dari konsekuensi yang seharusnya ia pikul akibat kesalahannya. Akibatnya, Yefta lah yang harus menanggung semuanya. Betapa tidak adil.

Idealnya rumah anak-anak Allah haruslah menjadi rumah yang nyaman, penuh kedamaian dan menjadi percontohan bagi sekitarnya, dan sanggup memproduksi mental dan hati yang luar biasa. Tapi sayangnya ada banyak rumah tangga yang malah sebaliknya. Menjadi neraka di bumi, tempat yang panas, penuh kertak gigi dan ketakutan. Tidak ada sukacita, tapi malah rumah menjadi tempat terjadinya penolakan, keberpihakan, ketidakadilan dan pengkhianatan. Padahal apa yang terjadi di rumah akan memberi pengaruh besar pada pertumbuhan jiwa anak-anak. Terhadap istri pun demikian. Bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Tuhan yang telah menganugerahkan seorang istri jika kita hanya membuat mereka sedih dan kecewa?

Di satu sisi, benar bahwa kepada para pria diberikan tanggung jawab, otoritas dan wewenang untuk menjadi kepala rumah tangga, sama seperti Kristus sendiri kepala jemaat. Benar bahwa istri harus tunduk kepada suami. Namun hal itu bukanlah berjalan sepihak. Ada tugas penting yang harus diemban suami. Suami dituntut untuk mengasihi istrinya seperti tubuhnya sendiri. “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” (Efesus 5:28). Hal ini jelas, karena ketika ada ikatan pernikahan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan, maka suami dan istri bukan lagi dua melainkan satu. (Matius 19:6). Mengasihi berbicara luas, termasuk tidak menyakiti, mengkhianati istri kita. Tidak berhenti disitu, sebagai ayah, para kepala rumah tangga pun mengemban tugas yang sangat penting. Firman Tuhan berkata: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21) dan “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Membeda-bedakan anak, bersikap tidak adil, otoriter, ringan tangan, sering membentak tidaklah membawa manfaat apa-apa kepada mereka. Justru lewat perilaku seperti itu kita merusak diri mereka, membuat mereka tawar hati dan penuh kemarahan dan kebencian. Ini tugas yang tidak gampang, tapi itulah yang akan mendatangkan peran kepala rumah tangga yang ideal seperti yang dikehendaki Tuhan. Ketika otoritas diberikan, hendaklah kita menghormatinya lewat menjalankannya dengan baik, bukan diselewengkan secara sepihak. We have to earn their respect and love. Bukan karena mereka takut, tapi karena mereka mencintai dan menghormati ayah mereka, demikian pula istri kepada suami.

Hindari perbuatan-perbuatan yang mengkhianati cinta dari pasangan kita. Hubungan antara suami dan istri haruslah berlangsung seimbang dan sejalan. “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.” (1 Korintus 7:4). Selanjutnya ingatlah bahwa setelah kita menikah, kita tidak lagi berkuasa atas tubuh kita sendirian. “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.” (ay 4). Karena itulah kita harus senantiasa mampu menjaga kekudusan diri kita. Hendaklah para pria Kristen mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik, menjadi teladan bagi lingkungan sekitar kita. Istri adalah seseorang yang dianugerahkan Tuhan kepada kita secara istimewa. Dengan demikian pesan ini menjadi penting “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Setiap perbuatan dosa ada konsekuensinya. Janganlah setelah kita melakukan kesalahan malah lari dari tanggungjawab, sehingga kita semakin jauh terjatuh dan tersesat. Hindari perbuatan-perbuatan yang menyakiti istri dan anak-anak kita sejak dini. Jadilah teladan yang mencerminkan Kristus dalam rumah tangga anda. Berikan atap yang teduh bagi mereka untuk bernaung, sayap yang hangat untuk berlindung dan tonggak yang kokoh untuk bergantung. Kasihi dan sayangilah mereka semua, karena mereka adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga bagi kita.

Earn the respect and love in the family by becoming a loving father/husband

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah ibadah rumah tangga
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.