Kentalnya Nuansa Spiritual PaLingSah bersama Mgr. Ignatius Suharyo (1)

KUATNYA nuansa spiritual menjadi warna dominan dalam Perayaan Ekaristi bersama Mgr. Suharyo yang diselenggarakan PaLingSah (Paguyuban Lingkaran Sahabat) di rumah Parna Iswara di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu petang lalu (21/7).  Betapa tidak? Sekurangnya, saya amat tersentuh dengan kehadiran para sahabat Mgr. Ignatius Suharyo yang sepasang demi sepasang yubilaris memasuki ruangan yang khusus disediakan tuan-nyonya rumah Pasutri Parna Iswara. 

Dari bisik-bisik saya dengan Vikjen Keuskupan Ketapang Kalimantan Barat Romo Zakharias Lintas Pr terbetik pikiran nakal. Yakni, altarnya para imam itu di atas; sementara  altar untuk para pasutri di bawah. Ya, itu karena rumah Parna Iswara desainnya memang atas bawah. 

Yang menyentuh lagi, para yubilaris minim 26 tahun usia perkawinan dan terbanyak 44 tahun. Namun, toh mereka tampak segar.  Bahkan yang terbanyak, Pasutri Aloysius Sulistyo dan Theresia Kusniyatun bak pengantin baru lengkap dengan bunga tangan dan pakaian layaknya pengantin baru. Bahkan ada yang istrinya memakai alat bantu jalan pun jalannya tetap dalam spirit optimis-ceria. 

Melihat dan merasakan itu semua tidak berlebihan bila Mgr. Suharyo dalam homilinya mencetuskan gagasan betapa diskriminatifnya Gereja. Pasalnya ada Hari Panggilan yang diasosiasikan khusus untuk panggilan kaum berjubah, seperti imam, bruder, dan suster, tetapi mengapa tidak ada hari panggilan untuk pasutri yang “melahirkan” imam, bruder, dan suster yang juga dituntut setia seumur hidup. Apalagi diteguhkan oleh kesaksian Mas Raphael yg telah 40 tahun membangun keluarga dan Mas Kaduhu yg telah 32 tahun. 

Para yubilaris menjadi bukti nyata atas tema yang diusung PaLingSah saat itu, yakni “Keluarga Utuh Menjadi Roti yang Siap Dipecah untuk Dibagi”. 

Monsinyur Ignatius Suharyo lalu mengungkapkan keyakinannya.  Bangunan hidup keluarga itu utuh dan siap dibagi atau menjadi keluarga yang ekaristis, kata Uskup Agung Jakarta ini,  bila seperti yang dilakukan Yesus saat perjamuan terakhir:  “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, dan memuji Dikau, lalu memecah-mecahkan roti itu, dan memberikannya kepada para murid-Nya”. 

Dengan kata lain, tegas Monsinyur Suharyo,  para yubilaris mengalami keutuhan hidup berkeluarga yang  siap dibagi karena perkawinan mereka itu dihayati dan diperjuangkan dalam semangat syukur. Juga karena hidup keluara mereka dibangun dalam berkah atau penyertaan Allah. 

Baru kalau demikian layak dibagi-bagi. Artinya, keluarga ekaristis bisa menjadi berkah bagi semakin banyak orang karena telah menjadi tanda kehadiran Allah yang setia mengasihi umat-Nya.

Nuansa spiritual yang menyentuh menggelembung lagi saat pembaharuan janji nikah. Dengan memegang lilin merah yang menyala, para pasutri yubilaris secara bergantian mengikrarkan kembali janji setianya di  hadapan Romo Kanjeng (berulang diucapkan demikian oleh Kaduhu). 

Lalu Romo Kanjeng meresponnya dengan berkah dan percikan air suci dalam iringan lagu Amba Pratignya yang sudah diadaptasi syairnya oleh Frans Wiyono menjadi Lagu Pembaharuan Janji Setia Pasutri. Maka ketika Romo Kanjeng mau distop Kasyanto karena hanya mereciki pasutri yang di altar di bawah, penulis nyeletuk “yang di atas juga” (alasan saya hadirin yang di atas juga banyak pasutri, walau bukan yubilaris).

Dan begitulah seluruh hadirin mendapat berkah melalui percikan air kesetiaan. 

Nuansa spiritual juga kian pekat dengan iringan saxophone. Siapa lagi kalau bukan Ketua PaLingSah yakni Surya Pujawiyata yang berduet dengan organis dari Kelompok Koor Lingkungan Theresia Avila Paroki St. Bartolomeus, Bekasi yang dihadirkan oleh Purwaka. 

Bahkan Purwaka pula yang “membawa” Romo  Lintas bisa ikut hadir dalam ekaristi nan menyentuh ini. Dengan caranya masing-masing hadirin ikut memekatkan nuansa spiritual malam itu. Bahkan Monsinyur menengarai gejala itu baik di dalam kelompok koor maupun berubahnya rencana dari tidak ada “kemuliaan” hingga sepertinya tak layak dalam suasana spiritual seperti itu Allah tidak dimuliakan dalam Madah Kemuliaan.

Kiranya pekatnya nuansa spiritual juga harus diakui tidak luput dari sentuhan tangan dan otak dingin Frans Wiyono yang dengan “Ode Keluarga”-nya mengingatkan betapa keluarga tak akan menjadi utuh dan siap dibagi bila tidak dibungkus dalam semangat doa “prayer” . 

Dengan kepiawaian meng-MC ini bagaimanapun Wiyono memberi  warna tersendiri setiap kali ada perhelatan suci ekaristi yang diselenggarakan PaLingSah. 

Usai berkat ekaristi dari Mgr. Suharyo, yubilaris dan hadirin semua dipersilakan untuk  ngeteh sejenak. Namun namanya ngeteh bagaimana mau sejenak. Bahkan beberapa sudah ada yang “mencuri start” dengan menikmati makanan yang dijadwalkan setelah talk-show tentang micro insurance bersama Margana, Frans Wiyono, dan  Wiryawan, serta di-payungi oleh Mgr. Suharyo. 

Ning ya ora masalah. (Bersambung)

Artikel terkait:Pangrukti Laya dan Pangrukti Lara dalam Pemikiran PangLingSah (2)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.