Kematian yang Menghidupkan

Jesus-Resurrection-Pictures-04

Minggu, 22 Maret 2015
Minggu Prapaskah V

Yer 31:31-34; Mzm 51:3-4,12-13,14-15; Ibr 5:7-9; Yoh 12:20-33

… “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan… Jika biji gandum mati, ia akan menghasilkan banyak buah… Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku…

MARI kita renungkan kutipan-kutipan sabda itu. Kita pusatkan perhatian kita pada kalimat-kalimat Yesus tersebut.

Sebagaimana kita ketahui dengan baik, salah satu gelar Yesus adalah “Anak Manusia. Gelar ini merupakan gelar profetik bagi Mesias, sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Daniel (lihat Daniel 7:13-14).

Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi menantikan Mesias yang akan membebaskan mereka dari penindasan belenggu kekuasaan Romawi. Namun Yesus juga datang sebagai Mesias untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, Setan, dan maut. Ia datang untuk membawa kita masuk ke dalam perjanjian baru relasi kita dengan Allah yang tidak akan berakhir oleh maut melainkan membawa kita menuju hidup abadi.

Bagaimana Yesus dimuliakan? Telah diwartakan-Nya kepada para murid-Nya, juga kepada kita, bahwa Ia akan dimuliakan ketika “Aku ditinggikan dari bumi” dan “Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Apa yang dimaksudkan Yesus dengan sabda ini? Ketika seorang pemimpin menang perang dan menaklukkan musuh serta memberi kebebasan dan kedamaian bagi umatnya, ia dimahkotai dan tampil dalam hidup baru, sebagai penyelamat bagi umatnya. Pemahkotaan dan pemuliaan ini dilakukan dalam suasana meriah dan menarik perhatian banyak orang.

Dalam iman Kristiani, jalan pemuliaan Yesus digenapi melalui peninggian-Nya di salib. Yesus tahu bahwa itulah satu-satunya jalan untuk memenangkan Kerajaan Allah di bumi, yakni melalui kehendak bebas-Nya menanggung penderitaan dan kematian pada salib. Yesus melukiskan kehendak-Nya itu sebagai saat pemuliaan-Nya (Yoh 12:23). Dalam peristiwa salib, Yesus menggenapi kehendak Bapa dan tugas perutusan yang diserahkan kepada-Nya. Kematian-Nya di kayu salib merupakan jalan kemenangan dan kemuliaan atas kuasa dosa dan kegalapan Setan. Ia menanggung dosa kita dan melalui peristiwa salib membebaskan kita dari hukum dosa, maut dan kehancuran.

Yesus menerangkan penderitaan dan kematian-Nya sebagai jalan yang membawa kehidupan dan kebebasan dengan menggunakan perumpamaan laksana gandum yang jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan buah berlimpah. Itulah yang juga disebut dalam Injil pada hari ini. Gandum yang jatuh ke tanah dan mati untuk berbuah merupakan gambaran peristiwa kematian-Nya di kayu salib, dimakamkan, dan dari sana tumbuh mekarlah kehidupan baru melalui kebangkitan. Jalan penderitaan salib membuka ruang baru bagi kehidupan baru pula. Jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tidak akan pernah menghasilkan buah berlimpah bagi kehidupan.

Dengan gambaran ini, Yesus hendak menerangkan kepada kita dua hal. Pertama, Ia menerangkan cara kematian-Nya sendiri pada kayu salib dan buah kebangkitan-Nya. Kedua, Yesus juga hendak menerangkan proses kematian dan kelahiran baru bagi kita murid-murid-Nya. Itulah dua hal yang hendak disampaikan Yesus kepada para murid-Nya dan kepada kita. Kini, dengan penuh keyakinan, kita pahami ketaatan dan kematian-Nya pada salib menganugerahkan bagi kita kebebasan dan kehidupan baru dalam Roh Kudus. Salib-Nya membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut. Dengannya ditunjukkan pula kepada kita jalan kasih yang sempurna dan kesiapsediaan untuk menyerahkan hidup kita pula dalam pelayanan kita demi kebaikan sesama.

Kita percaya bahwa kematian-Nya pada salib membawa berkah dan hidup berlimpah bagi kita. Jika kita ingin menerima hidup baru yang berlimpah dan memetik buah kematian-Nya pada salib, kita harus pertama-tama mengubur hasrat berdosa kita. Kita mati terhadap dosa, dan kemudian, kita hidup menurut kehendak-Nya seperti biji gandum yang mati untuk menghasilkan buah berlimpah.

Syukur kepada Allah, bahwa dalam pembaptisan kita, manusia lama kita yang diperbudak dosa telah dikuburkan bersama Kristus. Dengan demikian, kita bangkit untuk kehidupan yang baru berkat air baptis yang membersihkan kita. Proses kematian dari habitus lama ini terus menerus terjadi sejak saat pembaptisan kita dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang terus bertumbuh dalam Roh Kudus. Dengan kita kian menguburkan dalam-dalam cara hidup lama dalam kematian Yesus hingga kita boleh lahir baru dalam daya kuasa kasih, kebenaran dan kekudusan dari Allah sendiri.

Inilah paradoks kehidupan iman kita. Kematian membawa kehidupan. Saat kita mati terhadap diri sendiri, kita mati dari sikap penuh pemberontakan karena habitus dosa kita bahkan penolakan kita terhadap Allah, kita menerima pengampunan dari Allah dan daya kehidupan baru yang mengubah diri kita. Roh Kudus yang dicurahkan saat pembaptisan kita memungkinkan kita menjadi manusia bebas untuk mengasihi dan melayani sesama. Kita pun boleh mengikuti Allah dengan setia. Ini semua adalah anugerah dari Allah, yakni anugerah Roh Kudus yang mengubah hidup kita, hingga kita mampu untuk hidup dan melayani dengan sukacita sebagai putri-putra Bapa.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita belajar untuk secara praktis, mati terhadap diri sendiri hingga Yesus Kristus hidup dalam diri kita dan mengubah kita menjadi kian serupa dengan Dia dalam kekudusan. Mari kita matikan dalam diri kita segala hal yang berlawanan terhadap kehendak Allah. Ia menganugerakan kepada kita rahmat untuk taat pada kehendak-Nya. Ia menganugerahkan pula daya kekuatan yang kita perlukan untuk menolak segala al yang berlawanan dengan rencana dan kehendak-Nya bagi kita. Ia menjanjikan kepada kita buah berlimpah, jika kita mengingkari diri sendiri dan memeluk kehendak-Nya.

Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah kami gandum yang ditaburkan di bumi, agar tumbuh berbuah bagi-Mu. Kami ingin mengikuti Engkau ke mana pun Engkau membawa kami. Berilah kami harapan segar dan sukacita baru dalam melayani Dikau di seluruh hidup kami, kini dan selamanya. Amin

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.