Kemampuan Paranormal, Ciptaan Allah yang Melekat pada Manusia (5)

SEJAUH usaha kita mengenal keparanormalan, kita dapat mengatakan bahwa kemampuan paranormal adalah ciptaan Allah yang melekat pada diri manusia. Ciptaan itu berkadar kodrati, artinya tanpa rahmat luar biasa (adikodrati) orang dapat menemukannya.

Dalam tiga tataran kodrat ciptaan dapat dibedakan antara yang kodrati, parakodrati, dan adikodrati. Keparanormalan masuk dalam kategori parakodrati atau preter kodrati. Keparanormalan bisa membawa orang pada kesombongan diri atau orang ‘mandheg’ pada dirinya sendiri dan menjadi ateis, karena memang keparanormalan dapat dimiliki orang tanpa adanya iman rahmatullah.

Bila kita mau menempatkan keparanormalan dalam asas dan dasar tujuan manusia diciptakan Tuhan, misalnya seperti dialami oleh St. Ignatius dari Loyola bahwa tujuan manusia diciptakan ialah memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan dan dengan demikian manusia selamat, maka mannusia hendaknya menggunakan segala barang ciptaan yang berada di dalam dirinya dan yang di luar dirinya sejauh barang itu menolong manusia mencapai tujuan tersebut. Tetapi sejauh barang ciptaan itu menjadi penghalang orang mencapai tujuan tersebut, orang harus siap melepaskannya.

Keselamatan oleh Allah dijanjikan kepada setiap manusia sebagai ciptaan tertinggi di dunia ini, tidak mengenal perbedaan agama, bangsa, suku dan bahasa. Kalau keselamatan adalah untuk semua maanusia, maka kemampuan paranormal menjadi ciptaan yang diberikan kepada setiap orang dalam kadarnya masing-masing, entah bangsa, bahasa, agama (Islam, Kristen, Hindu, Budha). Juga mereka yang berada di luar agama politis. Yang biasanya dikatakan orang sebagai agama kosmis atau agama asli.

Karena itu, kemampuan paranormal pada dasarnya bersifat adalah universal. Orang mempunyai kodrat paranormal bukan karena ia menganut agama tertentu atau bangsa tertentu, tetapi karena ia manusia. Maka tidak ada kemampuan paranormal keagamaan atau kesukuan atau kebangsaan.

Dengan demikian dapat kita mengerti  bahwa orang yang berlainan agama, suku atau bangsa dapat mempunyai kemampuan paranormal yang sama secara kuantitas maupun kualitas. Dalam kandungan pengertian itu dapat juga dikatakan bahwa kemampuan paranormal dapat digunakan  oleh dan  untuk siapa saja demi tercapainya tujuan hidup manusia : memuji, menghormati dan mengabdi Allah dan dengan demikian manusia selamat.

Misalnya orang Katolik dapat menggunakan kemampuan paranormal untuk menolong orang Muslim, Hindu dan Budha; Demikian sebaliknya. Kemampuan paranormal ialah ciptaan yang sifatnya kodrati, yang dapat menjadi sarana menolong , tetapi juga dapat mengjadi penghalang  manusia atau digunakan untuk menghalangi manusia mencapai tujuan hidupnya. Hendknya orang cukup jeli terhadap masalah ini.

Sebagai makhluk sosial, orang yang dikaruniai kemampauan paranormal dalam kadar yang cukup tinggi, tidak dapat lepas dari kewajiban sosialnya. Bila kita mengumpamakan kekuatan paranormal dengan senjata tajam, kita dapat menggunakannya sebagai alat untuk  menolong  menyelamatkan atau menyelaka kan diri atau orang lain.

Manusia sebagai makhluk merdeka diberi kebebasan untuk memutuskan dalam menggunakan kemampuannya paranormal itu untuk kebajikan atau untuk kejahatan, untuk menyelakakan atau menyelamatkan. Dengan demikian baik-buruknya kemampuan paranormal bukan terletak pada adanya kemampuan itu, tetapi pada pribadi manusianya yang diberi kemampuan tersebut.

Secara pastoral pembinaan yang perlu ditekankan pada orang yang mempunyai kemampuan paranormal berkadar tinggi adalah pemahaman akan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan penghayatan secara konsekuen akan nilai-nilai luhur itu.

Kalau tidak demikian, kemampuan parnormal itu hanya akan digunakan secara nafsiah dan mempunyai akibat kecelakaan bagi hidup dirinya sendiri atau orang lain.

RELATED ARTICLE:

Penampakan Orang yang Telah Meninggal ; Mgr Sunarka SJ Bicara tentang Paranormal (4)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.