Kemalasan yang Merugikan (1)

Ayat bacaan: Pengkotbah 10:18
=================
“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”

Ada sebuah kartun Walt Disney yang diproduksi tahun 1933 berjudul “The Three Little Pigs”. Kartun pendek ini menceritakan kisah tentang tiga babi kecil bersaudara yang mendapat ancaman dari seekor serigala jahat. Agar selamat, ketiganya harus membangun tempat perlindungan yang dianggap mampu melindungi mereka dari ancaman serigala tersebut. Adegan berikutnya menggambarkan seperti apa rumah yang dibangun oleh masing-masing babi kecil. Ketiganya sama-sama membangun rumah tapi mempergunakan bahan baku dan cara yang berbeda-beda. Kedua babi yang paling kecil menganggap remeh kemampuan serigala malas untuk membangun rumah yang kuat. Mereka tidak menyadari bahaya dan malah bernyanyi-nyanyi, “Who’s Afraid of the Big Bad Wolf?” Yang satu membangunnya dari jerami. Cepat, ringkas, mudah dan murah. Yang kedua memilih bahan dasar kayu, yang lebih kokoh dari jerami. Rumah berbahan baku kayu memerlukan modal dan waktu yang lebih lama dari jerami. Anak babi tertua memilih untuk membangun dengan batu bata dan semen. Kedua adiknya yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen secara perlahan. Tapi si abang tertua tetap dengan tekun membangun tanpa mempedulikan cemoohan adik-adiknya. Lalu datanglah serigala jahat. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Ternyata rumah kayu itu juga masih mudah dirobohkan oleh serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan akhirnya bersembunyi ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun dengan kerajinan dan ketekunan penuh.

Kisah ini mengandung unsur pendidikan yang baik mengenai kerajinan dan keseriusan dalam menyikapi bahaya yang mengintai. Banyak orang lupa bahwa selain titel sarjana, kerajinan, ketekunan, semangat, keseriusan dan kerja keras pun merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam hidup ini. Saya mengenal banyak orang pintar yang memilih untuk malas-malasan, dan akibatnya mereka tidak mengalami kemajuan berarti dalam hidupnya. Sebaliknya saya mengenal pula orang-orang yang kurang beruntung dari segi pendidikan karena ketidakmampuan orangtuanya dahulu, tapi mereka tampil menjadi orang-orang yang berhasil dalam pekerjaan, dalam hidup dan sebagainya karena didukung oleh kegigihan mereka berjuang dari nol. Dari pengalaman saya sendiri ketika masih mengajar, saya melihat langsung bahwa anak-anak yang memang sudah dibekali bakat atau keahlian dasar cenderung malas, sedang mereka yang masih belum tahu apa-apa tapi giat belajar dan berlatih pada akhirnya mampu mengatasi mereka. Kemalasan, merasa sudah cukup lalu menganggap remeh pelajaran membuat mereka tertinggal dari teman-temannya yang mulai dari bawah. Itu fakta yang saya temukan selama bertahun-tahun. Kemalasan merupakan salah satu penghalang terbesar kesuksesan kita di masa depan.

Mari kita kembali kepada kisah The Three Little Pigs di atas. Entah benar entah tidak, kisah ini sepertinya terinspirasi dari ayat dalam Pengkotbah yang berkata: “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkotbah 10:18). Kemalasan dua babi paling kecil membuat atap rumah mereka runtuh ditiup serigala jahat. Tidak sulit bagi si jahat untuk mengekspos orang-orang yang malas dan menjadikannya mangsa empuk. Kita tidak akan pernah menikmati peningkatan-peningkatan atau kemajuan dalam hidup apabila kita terus membiarkan rasa malas menguasai diri kita. Sikap ini bahkan bisa membuat kita menjadi semakin rapuh dan gampang runtuh. Dan ayat bacaan kita hari ini menyatakan hal itu dengan jelas.

Kegagalan dan kehancuran seringkali berawal dari kemalasan yang terus kita biarkan bercokol dalam diri kita. Karenanya kita harus melatih diri sedini mungkin untuk menjadi orang-orang dengan semangat yang kuat dan giat dalam berusaha. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai para pemalas seperti ini. Tuhan menyukai orang-orang yang rajin bekerja, dan Dia pun suka memberkati kita lewat usaha sungguh-sungguh yang kita lakukan.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.