Keluarga Kudus – Sir 3:2-6.12-14; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15.19-23

“Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel

Pesta Keluarga Kudus : Sir 3:2-6.12-14; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15.19-23

 

Keluarga, yang didasarkan pada cintakasih serta dihidupkan olehnya merupakan persekutuan pribadi-pribadi suami dan isteri, orangtua dan anak-anak, sanak saudara. Tugasnya yang pertama yakni dengan setia menghayati kenyataan persekutuan disertai usaha terus-menerus untuk mengembangkan rukun hidup yang otentik antara pribadi-pribadi. Asas terdalam tugas itu, kekuatannya yang tetap, serta tujuan akhirnya ialah cintakasih.  Tanpa cintakasih keluarga bukanlah rukun hidup antar pribadi, dan begitu pula, tanpa cintakasih keluarga tidak dapat hidup, berkembang atau menyempurnakan diri sebagai persekutuan pribadi-pribadi”  (Paus Yohanes Paulus II: Anjuran Apostolik “Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern /Ensiklik ‘Familiaris Consortio’, 22 November 1981, no 18). Hidup berkeluarga pada masa kini memang sarat dengan aneka tantangan, hambatan atau masalah, sehingga tidak sedikit yang mengalami kegagalan dan berakhir dengan perceraian. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan bahwa Keluarga Kudus, Yosef, Maria dan Kanak-kanak Yesus menghadapi ancaman dari penguasa yang gila akan kekuasaan atau jabatan, yaitu Herodes. Atas bisikan Roh Kudus Keluarga Kudus terbebas dari ancaman itu dan untuk itu harus mengungsi ke Mesir. Maka baiklah pada Pesta Keluarga Kudus hari ini kami mengajak anda sekalian, secara khusus yang menjalani hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, untuk mawas diri bercermin pada warta gembira hari ini.

 

"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati” (Mat 2:13-15)    

 

Yusuf, sebagai kepala keluarga atau rumah tangga, bertanggungjawab menyelamatkan Keluarga Kudus itulah yang baik kita renungkan atau refleksikan, dan secara khusus kami mengajak dan mengingatkan para suami atau bapak, yang pada umumnya berfungsi sebagai kepala keluarga dalam system patriarchal. Pengakuan suami atau bapak sebagai kepala keluarga ini antara lain terjadi dalam system penggajian atau imbal jasa dalam kepegawaian, dimana ia memperoleh tunjangan isteri dan anak-anak. Dengan kata lain kiranya bapak atau suami pertama-tama bertanggungjawab dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga. Memang dalam kenyataan cukup banyak juga para isteri atau ibu yang bekerja, entah sebagai pegawai atau dengan usaha wiraswasta, dan bahkan imbal jasa atau pendapatannya sering lebih besar dari pendapatan suami/bapak. Maka kami berharap suami dan isteri bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga. Bekerjasama ini mutlak, mengingat dan memperhatikan bahwa anak adalah ‘buah kerjasama’, maka hanya akan tumbuh berkembang dengan baik jika anak dididik dan didampingi bersama-sama juga.

 

Selain tanggungjawab secara phisik, material atau ekonomis, pada masa kini tanggungjawab secara moral atau spiritual kiranya cukup berat. Baiklah kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri atau bapak ibu untuk sungguh memberi perhatian pada anak-anak selama masa usia balita. Peran indera penglihatan dan pendengaran anak sangat peka selama masa balita: apa yang dilihat dan didengarkan melalui lingkungan hidupnya sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kepribadian, akhlak atau kehidupan moralnya. Maka baiklah senantiasa diusahakan agar apa yang disuarakan atau dilakukan oleh orangtua atau bapak-ibu sungguh membantu pertumbuhan dan perkembangan moral anak. Kami berharap pada para bapak-ibu untuk tidak pelit memberi waktu dan tenaga bagi anak-anak sebagai tanda cinta, karena salah satu bentuk cinta yang tak dapat diganti dengan cara apapun adalah ‘pemborosan waktu dan tenaga bagi yang tercinta’.

 

Perkenankan dengan rendah hati kami mengingatkan secara khusus kepada para ibu untuk memberi ASI atau menyusui anak/bayinya secara memadai, karena dengan menyusui selain memberi gizi yang baik kepada anak-anak juga merupakan bentuk kasih yang luar biasa kepada anak-anak, memberi bekal pada anak-anak untuk mengembangkan belahan otak kanan, yang erat kaitannya dengan kehidupan moral (Ingat pada umumnya ibu menyusui dengan buah dada kiri, yang berarti otak belahan kanan anak menempel di buah dada. Bukankan buah dada juga menjadi symbol cinta?). ASI akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kecerdasan maupun psikologis anak.

 

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” (Kol 3:18-20)

    

Baik suami maupun isteri kiranya,  pada awal perjumpaan untuk saling mengasihi, saling menyadari dan menghayati diri sebagai anugerah Tuhan; dengan kata lain Tuhanlah yang mempertemukannya sehingga menjadi suami-isteri. Maka ajakan atau peringatan Paulus di atas baik bagi suami maupun isteri hemat saya sama saja: mengasihi dalam Tuhan sama dengan tidak berlaku kasar atau tidak berlaku kasar merupakan perwujudan mengasihi dalam Tuhan. hendaknya relasi antar suami dan isteri  tidak pernah kasar entah dalam wacana maupun tindakan, omongan maupun perilaku. Apa yang dikatakan atau dilakukan selama masa pacaran atau tunangan, yang pada umumnya mesra penuh kelembutan dan mempesona, terus diperdalam dan ditingkatkan selama menjadi suami-isteri sampai mati. Ingat dan kenangkan janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati.

 

Paulus juga mengingatkan anak-anak agar mentaati orangtua dalam segala hal. Peringatan ini mengandaikan apa yang dikatakan, diperintahkan atau dinasehatkan oleh orangtua pada anak-anak adalah segala sesuatu yang menyelamatkan dan membahagiakan terutama bagi jiwa anak-anak, segala sesuatu yang menyelamatkan jiwa. Maka orangtua hendaknya dapat menjadi teladan dalam penghayatan budi pekerti luhur dalam hidup sehari-hari alias senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kepada orangtua yang demikian selayaknya anak-anak mentaatinya. Anak-anak akan mentaati orangtua jika mereka merasa dikasihi oleh orangtuanya. Lepas apakah orangtua sungguh berbudi pekerti luhur atau tidak, baiklah kami mengingatkan anak-anak untuk menghormati dan mentaati orangtua. Ingatlah dan hayatilah bahwa tanpa kasih orangtua, khususnya ibu, kita tidak dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Kasih ibu antara lain kita terima ketika kita masih berada di dalam rahimnya kurang lebih sembilan bulan lamanya, ketika kita masih bayi disusui, dimandikan, dipeluk, dicium , dst.. Akhir kata sebagaimana diingatkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik, yang kami kutipkan di atas, hendaknya cintakasih senantiasa menjiwai hidup berkeluarga. Marilah kita saling mengasihi satu sama lain sampai mati.

 

Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,”

 (Mzm 128:1-5)

 

Jakarta, 26 Desember 2010  

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.