Keledai

Ayat bacaan: Matius 21:2b-3
=======================
“Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.”

keledai

“Keledai saja tidak jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.” Ini pepatah yang sering dipakai orang untuk menyindir orang lain yang melakukan kekeliruan berulang-ulang. Saya tidak tahu mengapa dan dari mana orang menyimpulkan keledai sebagai simbol kebodohan. Apakah karena tubuhnya lebih kecil dan lemah dari kuda yang terlihat gagah, apakah karena keledai terlihat malas dan bodoh, entahlah. Namun orang akan selalu mengacu kepada keledai ketika menggambarkan kebodohan. Menariknya, Alkitab menggambarkan keledai dalam pandangan berbeda.

Fakta arkeologi dan catatan Alkitab menunjukkan bahwa kuda adalah binatang yang umum digunakan dalam ketentaraan masyarakat jaman dahulu di Timur Tengah. Kuda sering dipakai sebagai simbol peperangan atau simbol kegagahan/kekuatan bahkan kekuasaan. Memiliki kavaleri atau pasukan berkuda akan membuat sebuah bangsa merasa kuat untuk berperang. Namun berkali-kali dalam Perjanjian Lama Tuhan mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengandalkan kuda. Lihatlah sebuah peringatan lewat Yesaya sebagai salah satu contoh. “Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama.” (Yesaya 31:3). Tuhan lebih menganjurkan bangsa Israel untuk memilih keledai yang lebih kecil dan lebih lemah dari kuda. Dan kita pun melihat keledai berkali-kali dipakai sebagai tanda kekayaan. Ayub awalnya dikenal sebagai orang yang sangat kaya, dan Alkitab menyebutkan bahwa Ayub memelihara banyak keledai betina, artinya ia beternak keledai. (Ayub 1:14). Kelak setelah Ayub melewati segala cobaan dan dipulihkan serta diberkati lebih dari sebelumnya, Alkitab kembali mencatat bahwa salah satu ternaknya adalah keledai, dimana keledai betinanya mencapai seribu ekor. (42:12).

Beberapa kali pula Tuhan menunjukkan perhatiannya kepada keledai. Lihatlah dalam kisah Bileam bagaimana Tuhan menggunakan keledai yang ditunggangi Bileam untuk menegurnya. (Bilangan 22:21-35). Dalam kesempatan lain kita bisa melihat Tuhan menegur bangsa Israel yang memberontak dengan membandingkan mereka dengan keledai. “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yesaya 1:3). Keledai lebih setia, lebih tahu berterima kasih dan lebih tahu menghargai ketimbang bangsa Israel. Kemudian kita tahu pula kisah Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang kuda. (Matius 21:1-11, Markus 11:1-10, Lukas 19:28-38, Yohanes 12:12-15). Ketika itu Tuhan Yesus menyuruh dua orang muridNya untuk masuk ke kampung dan mengambil seekor keledai betina dan anaknya untuk dibawa kepadaNya. “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.”(Matius 21:2-3). Secara spesifik Tuhan mengatakan langsung bahwa Dia memerlukan keledai itu untuk melakukan sesuatu. Keledai sekalipun bisa dipakai Tuhan secara khusus dan istimewa seperti itu. Maka Yesus pun kemudian masuk ke Yerusalem, bukan untuk gagah-gagahan dengan mengendarai kuda tegap, melainkan dengan lemah lembut membawa damai mengendarai keledai. Hal ini sekaligus menggenapi nubuat Nabi Zakharia: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zakharia 9:9). Dari sini kita bisa melihat bahwa berbeda dengan kuda, keledai menggambarkan kelembutan dan kedamaian.

Bagi dunia keledai mungkin dipandang sebagai binatang lemah yang bodoh. Tapi lihatlah bahwa Tuhan pun berkenan mempergunakan keledai dalam berbagai kesempatan secara khusus. Jika keledai yang bagi dunia dianggap bodoh saja bisa dipakai Tuhan seperti itu, mengapa kita, manusia sebagai ciptaanNya yang mulia tidak? Tuhan selalu memerlukan kita, anak-anakNya untuk melakukan pekerjaanNya di muka bumi ini. Itu bisa berupa tugas spesifik, a brief single task seperti keledai yang dipakai Yesus atau yang menegur Bileam, dan bisa pula berupa sebuah proses panjang yang memerlukan ketaatan dan ketekunan bertahun-tahun. Kita bisa saja merasa tidak sanggup dan mencoba lari dari tanggungjawab, tetapi itu sebenarnya bukan tergantung kita, kemampuan atau kuat hebatnya kita, melainkan tergantung pendapat dan keputusan Tuhan sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16). Keledai boleh saja dipakai sebagai simbol yang menggambarkan kebodohan, kita mungkin pula merasa tidak sanggup, terlalu lemah atau bahkan merasa terlalu bodoh untuk berbuat sesuatu. Tapi bukankah Tuhan pun telah menyatakan secara langsung seperti ini? “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” (1 Korintus 1:27-28). Bukan kehebatan kita, bukan kuasa kita yang dibutuhkan Tuhan, tetapi kesediaan kita. Dia siap pakai siapapun kita hari ini dengan kemampuan kita masing-masing. Besar atau kecil, tua atau muda, apapun gelar dan tingkat pendidikan anda, apapun kemampuan anda, semua itu bisa dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaanNya. Jika keledai saja bisa dipakai secara spesifik seperti itu, mengapa kita tidak? Bagaimana dengan anda, sudah siapkah anda untuk dipakai Tuhan?

Keledai yang dianggap lemah dan bodoh oleh dunia saja bisa mendapat kehormatan dipakai Tuhan, mengapa kita tidak?

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.