Kekuatan Cinta dan Relatifnya Waktu

Ayat bacaan: Kejadian 29:20
======================
“Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.”

Anda bisa membeli jam dengan merek berbeda, kualitas berbeda, ori, palsu atau bukan barang bermerek mahal, kecepatan waktu disana akan sama saja jalannya. Dari satu detik ke detik berikut durasinya sama, 60 detik menjadi semenit, 60 menit menjadi sejam. Kecepatan waktu pun sama dari dulu sampai sekarang. Kecepatan waktu di masa orang tua kita masih kecil, pada jaman nenek dan kakek kita dan waktu hari ini tidak berubah. Kecepatan waktu berlaku sama pula bagi semua orang tanpa terkecuali, dimanapun kita berada. Tapi perasaan kita dalam merasakan cepatnya waktu berjalan bisa berbeda-beda, tergantung apa yang sedang kita alami atau rasakan. Ketika anda tengah merasa bosan seperti saat menunggu atau tengah duduk ditengah acara yang tidak anda sukai, waktu bisa seperti begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias, sedang merasa gembira akan sesuatu yang tengah anda alami atau kerjakan, maka waktu bisa jadi terasa berjalan dengan sangat cepat. Kita sering lupa waktu ketika sedang bermain, ngobrol dengan sahabat dan sebagainya. Apalagi ketika sedang bersama orang yang dicintai di masa pacaran, waktu seolah ngebut. Baru saja bertemu, tiba-tiba sudah harus berpisah.

Ngomong-ngomong soal masa pacaran seperti diatas, saya mengalami perasaan seperti itu selama tidak kurang dari 7 tahun. Ya, itulah panjang masa pacaran saya sebelum menapak memasuki jenjang pernikahan. Tujuh tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Tapi karena saya memang masih harus menunggu hingga wanita yang saya cintai siap untuk melangkah lebih jauh, itu bukan masalah bagi saya. Jika harus menanti tujuh tahun hingga saat dimana saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama wanita yang sangat saya cintai tiba, mengapa tidak? Itulah yang saya rasakan pada waktu itu, karenanya saya tidak merasa keberatan sama sekali dalam menjalaninya. Yang lucu, dikemudian hari setelah saya menikah saya menemukan kisah cinta yang harus menempuh rentang waktu kurang lebih sama di dalam Alkitab, yaitu antara Yakub dan Rahel yang dicatat dalam kitab Kejadian pasal 29.

Ayat bacaan hari ini diambil dari pasal tersebut. “Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.” (Kejadian 29:20). Bukan tujuh jam, bukan tujuh hari, tapi tujuh tahun lamanya Yakub harus bekerja di rumah Laban, ayah Rahel agar bisa memperistri sang pujaan hati. Bagi yang terbiasa tidak sabaran, sering menggerutu di saat menunggu antrian meski hanya beberapa menit saja, bayangkan jika harus bekerja cuma-cuma untuk menanti sebuah impian menjadi kenyataan. Tapi Yakub nyatanya melakukan itu dengan senang hati, tanpa beban. Apa yang menggerakkannya? Ayat ini secara jelas menyebutkan alasannya, yaitu “karena cintanya kepada Rahel”. Karena cinta. Betapa relatifnya waktu itu bagi kita, dan betapa cinta bisa menggerakkan orang untuk dengan ikhlas melakukan sesuatu yang sulit sekalipun. Yakub merasa tujuh tahun itu bagaikan beberapa hari saja, dan adalah dorongan cinta yang bisa membuat waktu penantian terasa cepat berlalu. Meskipun waktu dalam keadaan nyata waktu berjalan sama cepatnya bagi setiap manusia, tapi waktu bisa terasa seolah cepat atau lambat, tergantung perasaan kita. Yang jelas, jatuh cinta bisa membuat waktu terasa sangat pendek. Sebuah cinta punya kekuatan luar biasa yang mampu memberi perbedaan yang sangat signifikan dalam hidup kita. Cinta bisa membuat orang sanggup melakukan hal-hal yang tidak terduga, secara logika tidak mungkin dan hal-hal besar lainnya. Bukankah kasih atau cinta pula yang menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita, memindahkan kita dari binasa menuju kehidupan yang kekal? Itu tertulis jelas di dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

Kalau dalam hubungan antar manusia hal itu bisa kita rasakan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Terasa singkat atau lamakah rasanya waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan di saat-saat teduh kita? Misalnya setengah jam saja sehari saja yang kita pergunakan secara teratur untuk bersaat teduh, terasa cepat atau lambatkah itu bagi kita? Apakah kita memiliki kerinduan terus menerus untuk bersekutu denganNya atau malah sudah hambar bahkan membosankan? Apakah kita hanya melakukannya sambil lewat hanya karena kebiasaan atau paksaan, berdoa secepat mungkin agar cepat selesai atau kita menikmati setiap detik kebersamaan kita dengan Tuhan, yang tidak terbatas oleh durasi, tempat dan waktu? Ini adalah pertanyaan yang sesungguhnya sangat penting dan sangat menentukan seperti apa kuatnya kita berjalan dalam hidup ini dan dimana kita berdiri saat ini.

Kekuatan dari kasih setia Tuhan bagi kita sesungguhnya sudah jelas. Tuhan selalu rindu berada dekat dengan kita. Dia sudah berulang-ulang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu dan akan selalu memegang janjinya. Seperti yang saya utarakan kemarin, jika dalam lembah kekelaman saja Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Dia membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup? Yakobus menyadari hal itu. Karenanya ia pun menyatakan “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8a). dan Daud pun menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan, as something that’s larger and better than life. “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” (Mazmur 63:3). Jika anda merasa waktu berjalan singkat ketika anda tengah berada dekat dengan orang yang anda cintai dan anda terus rindu untuk lebih lama lagi bersamanya, seharusnya seperti itu pula yang anda rasakan dalam setiap momen-momen pribadi yang anda ambil untuk bersekutu dengan Tuhan.

Apa yang penting untuk kita renungkan adalah sejauh mana saat ini kita mengasihi Tuhan, yang sudah mengasihi kita sedemikian besar terlebih dahulu justru di saat kita masih berdosa. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Kita diangkat menjadi anak-anakNya sejak semula oleh Kristus, dan itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang nyata bagi kita. “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Efesus 1:5-6). Jika demikian, sekarang semuanya tergantung kita sendiri. Mari kita periksa diri kita apakah kita masih merasakan kasih mula-mula atau sebenarnya tanpa kita sadari kasih kita kepada Tuhan sudah mulai mendingin atau membeku? Apakah saat ini anda masih merasakan gairah dalam bersaat teduh atau merasa bosan, terpaksa atau bahkan sering tertidur? Apakah anda masih mengisi banyak waktu dengan doa sebagai saluran dialog dengan Tuhan atau merasa bahwa itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan aktivitas-aktivitas lainnya sehari-hari? Dari ukuran kecepatan waktu yang kita rasakan ketika bersekutu dengan Tuhan  sebenarnya kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini. Bila kasih kita kepada Tuhan berkobar-kobar, setengah jam akan terasa terlalu singkat. Sedangkan jika kasih itu mulai pudar, maka setengah jam akan terasa sangat lama dan seperti buang-buang waktu. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, benahilah segera. Ada dikatakan: “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 4:5). Ini saatnya kita pulihkan kembali kasih mula-mula kita. Kembalilah miliki kasih yang begitu besar, menggelora dan berkobar kepada Tuhan, dan rasakan kembali betapa waktu seolah terlalu singkat bagi kita dalam menikmati kedamaian berdiam di dalam hadiratNya.

The way we love God can be reflected through the time we use to connect with Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.